Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
60. Masuk Surga Dengan Cara Enak


__ADS_3

"Apa kamu sengaja melakukan itu tadi Sayang?" tanya Neta setelah dia masuk ke kamar dengan membawakan wedang jahe buatannya.


"Iya, aku sengaja dan sadar melakukannya. Buat apa dilakukan secara tidak sadar dan pura-pura? Itu bentuk pelajaran untuk Keni. Aku bisa melihat dengan begitu jelas kalau dia itu mulai menyukaimu. Dia berusahalah mendekati dan mencari perhatianmu," kata Kei sembari menerima wedang jahe itu lalu meletakkannya di atas nakas.


Neta terdiam beberapa saat lalu memikirkannya. Agak sedikit aneh memang bila dengan suaminya tidak begitu akur, lalu dengannya tadi Keni seolah mencari cara untuk bisa berdekatan. Neta baru menyadarinya.


"Aku malah tidak berpikiran ke sana," kata Neta yang kemudian duduk di samping Kei.


Kei menoleh menatap istri satu-satunya itu. Ia mendesah kecil lalu mengusap wajahnya. Nampak sekali gurat kekecewaan di sana.


"Hhh ... kamu ini seperti protagonis yang terpaksa menjadi antagonis. Kamu terlalu memandang baik semua orang. Kamu berpikiran semua orang sama sepertimu Ta. Dunia tidak seperti itu, inilah mengapa kamu mudah sekali dimanfaatkan," cetus Kei.


Neta tersenyum manis, dan sangat manis bahkan. Ia lalu memeluk erat Kei dan mendongak menatap wajah laki-laki yang lebih tinggi darinya itu. "Itu artinya aku ini baik kan? Kata almarhum ayahku, berbuat baik itu tidak butuh balasan dan alasan. Berbuat baik itu pasti akan mendapatkan balasan."


"Iya, tapi bagaimana kalau kamu itu hanya dimanfaatkan? Bagaimana kalau orang-orang itu nantinya mencelakaimu?" ketus Kei dengan kekhawatirannya.


"Kan ada kamu yang menjagaku suamiku. Bukankah dengan begini kita akan saling melengkapi? Saling mengingatkan bila salah satunya ada yang salah jalan?" ujar Neta dengan pemikirannya yang positif.


Kei lalu mengusap penuh sayang pucuk kepada istrinya. "Ini yang tidak bisa aku dapatkan dari wanita lain Ta. Kamu itu spesial. Hanya saja, cara kita yang salah saat bertemu. Apa kamu masih sakit hati dengan wanita tadi? Kalau iya, aku akan mengurusnya."


Neta langsung melepaskan pelukannya dari kei dan mengerutkan keningnya dengan indah. "Mau kamu apakan dia Sayang? Janganlah, jangan mendendam. Lihat tadi dia punya anak kecil yang begitu lucu. Kalau terjadi apa-apa dengan ibunya, bagaimana nanti nasib anaknya? Kamu tega?"


"Kamu terlalu baik Ta," pungkas Kei yang kemudian mencengkeram lembut rahang Neta dan memberikan kecupan di bibir manisnya.

__ADS_1


"Aku harus banyak-banyak berterima kasih terhadap mendiang ayah, karena telah mendidik putri sebaik kamu ini," kata Kei.


"Lalu kepada ibuku?" tanya Neta.


"Apa kamu mau aku melepaskannya?" tanya Kei.


Neta menggeleng. Gelengan kepala itu membuat Kei kebingungan. Bukannya seharusnya istrinya ini bersikap baik dan mau melepaskan ibunya? Tapi kenapa tiba-tiba jadi sedikit jahat begini?


"Aku hanya mau kamu membantuku untuk ini Sayang. Sudah lama aku mencurigai bibi Risma. Dulu, aku pernah mendengarkan dia bicara sendiri dengan foto mendiang paman. Dia ingin membalas dendam kepada ibu dengan caranya dan aku tidak tahu itu apa karena setelah dia berkata itu pun, kehidupan kami tetap baik-baik saja. Jadi aku mengabaikannya," aku Neta.


"Memangnya dia bicara seperti apa dan bagaimana?" tanya Kei.


Neta melamun dan bibirnya mulai bercerita. "Waktu itu malam tepat setelah kematian paman dan ayah. Aku ingat sekali."


"Malam itu, aku sama sekali tidak bisa tidur. Ibuku sudah tertidur karena terlalu lama menangis. Malam itu, aku duduk dan bersandar di dekat jendela. Aku hanya mengingat lagi kenangan ayah saat bersamaku." Neta menghela napasnya.


"Aku mendengar bibi mengucapkan sumpah serapah dan ingin membalas kematian paman. Dia ingin ibuku bertanggung jawab atas semua yang menimpanya. Dua bulan setelah kematian suaminya, dia mengalami keguguran dan dari yang aku rasakan, dia jadi semakin membenci ibuku."


"Sebenarnya dia adik kandung ibumu atau bagaimana Ta?" tanya Kei.


"Bukan, yang aku tahu dia itu anak angkat dalam keluarga ibuku. Ibu sudah menganggapnya sebagai adik kandung. Bahkan, semenjak kematian suaminya, segala kebutuhannya ibuku yang memenuhi. Itu semua ibu lakukan sebagai cara untuk berbakti kepada mendiang kakek dan nenek yang pernah berpesan untuk menjaga bibi Risma," ujar Neta.


Kei mengangguk pelan. "Aku akan mencari tahunya. Ini hanya dugaanku saja kalau bibimu mempunyai motif balas dendam terhadap kalian. Mungkin saja dia sengaja memandatkan keadaan dan mencuci pikiran ibumu lalu kamu yang menerima imbasnya. Kalau tidak kenapa pada akhirnya justru kamu yang menjadi tulang punggung dalam keluarga itu sedangkan mereka berdua masih bisa bekerja."

__ADS_1


Neta terdiam, "Mungkin saja Sayang, tapi aku tidak mau menuduh sebelum ada bukti. Aku ingin ada satu titik terang yang jelas supaya aku tidak salah mengambil sikap."


"Aku yakin kalau bibinya ini hanya ingin merusak hubungan ibu dan anak. Dia ingin mencari keuntungan di dalamnya. Terbukti sekarang dengan keadaan yang seperti ini, aku memisahkan Neta dari mereka, maka pasti nantinya akan ada perpecahan lantaran tidak ada lagi yang bisa dimanfaatkan. Ta, kamu terlalu polos untuk bisa memahami semua ini," batin Kei menatap teduh sang istri dan memeluknya erat.


...----------------...


Pagi hari, Neta terlebih dulu bangun lebih awal dan keduanya menunaikan sholat subuh bersama di kamar. Sebelumnya, Kei sama sekali tidak pernah melakukan ini meskipun dia dan Salma beragama Islam. Keduanya hanya sibuk mengejar dunia dan membuang ketenangan batin.


"Kamu imamnya, ini subuh, jangan lupa baca doa qunut ya?" cetus Neta.


"Sayang, aku lupa," jawab Ke-i dengan perasaan malunya.


"Lupa? Oke, tidak apa-apa. Kamu mau mengimami seperti ini saja aku sudah sangat senang sekali. Mau memelukmu tapi aku sudah wudhu. Hehehe!" Neta terkekeh geli.


"Kamu sengaja menggodaku ya, oke kita sholat. Nanti setelah selesai sholat, jangan harap bisa kabur," kata Kei memberikan peringatan.


"Iya, enggak akan kabur kok. Udah cepetan," titah Neta yang pada akhirnya membuat keduanya dengan segera menunaikan ibadah bersama.


Selesai sholat dan Kei membimbing doa dengan bahasa yang ia bisa sementara sang istri mengamini di belakangnya. Ketenangan yang menyentuh hati yang tak pernah Kei jumpai sebelumnya. Tanpa terasa dia menitikkan air matanya. Air mata bahagia setelah Allah SWT mempertemukan hambanya yang berlumuran dosa dengan wanita baik yang putih bersih.


Selesai sholat dan kini waktunya Neta mencium punggung tangan suaminya. Ia meraihnya dan Kei langsung menariknya, membuat wanita baik hati itu jatuh ke dalam pelukannya. Dia begitu bahagia saat ini, ia menciumi wajah Neta tanpa ada yang terlewati.


"Sayang, kenapa seperti ini?" tanya Neta.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku mau masuk surga dengan cara enak," kata Kei.


"Enak? Enak yang seperti apa?" tanya Neta penasaran namun pikirannya justru bercabang ke arah lain gara-gara sepenggal kata enak tersebut.


__ADS_2