
"Aaagh ...." Kenny bersendawa di samping Neta yang tengah meminum es jeruk.
"Huh! Jijik, Ken apa tidak bisa sopan?" tegur Neta dengan matanya yang memicing.
"Di warung seperti ini, itu adalah hal yang biasa. Biasa saja, Santai ...." Kenny menyahuti dengan santainya. Dia bahkan tersenyum meledek Neta.
"Sudahlah, ayo kita pulang. Tinggalkan saja dia. Biar dia yang bayar!" tunjuk Neta pada sosok Kenny yang hanya tersenyum tanpa menatap marah atau apa pun kakak iparnya itu.
"Loh tadi katanya Ibu yang mau bayar," kata mbak Lusi.
"Enggak jadi, biar si usil ini yang bayar sendiri. Malas sekali aku harus bayar." Neta melenggang begitu saja meninggalkan Kenny yang justru cekikikan dibuatnya.
"Lucu sekali, sayang dia istri orang," gumamnya menahan tawa.
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, Neta hanya cemberut saja. Dia sama sekali tidak bicara atau pun mengatakan sesuatu dari mulutnya. Terkunci rapat dan enggan untuk terbuka.
Sesampainya di rumah, dia kembali dikejutkan dengan sang suami yang sudah pulang lebih awal. Neta seketika mengusap bibirnya dengan tisu basah. Dia segera menghilangkan jejak dengan menyemprotkan minyak wangi yang beraroma bayi kesukaannya.
"Ibu, ngapain pakai minyak wangi?" tanya suster Nana.
"Nih! Kalian juga pakai. Pa tidak lihat itu mobil suamiku sudah di rumah? nanti kalau dia mencium bau terasi bekas kita makan tadi bagaimana? Sudahlah ayo cepat hilangkan aroma menyebalkan itu, aku malas nanti dia mengomel lagi," kata Neta.
__ADS_1
"Aneh, biasanya suami yang takut istri. Ini ibu tunduk banget sama suami," cetus Pak Joko.
Neta menepuk pundak Pak Joko dan bicara, "Pak sudah seharusnya istri itu tunduk sama suami. Apa lagi kalau suaminya benar. Cuman sekarang saya itu pengen makan makanan yang semenjak ketahuan hamil jadi diharamkan sama suami saya. Bapak mengerti 'kan?"
"Iya Nyonya, saya mengerti. Saya mengerti," jawab Pak Joko yang mengangguk paham.
Merasa semuanya sudah aman dengan semprotan parfum, Neta barulah turun dari mobil. Dia berjalan masuk dengan hati-hati dengan harapan tidak akan bertemu langsung dengan suaminya. Tapi sayangnya ....
"Sayang ...! Hai aku sudah pulang. Hari ini aku pulang cepat spesial mau ajak kamu makan di luar. Hari ini terserah deh kamu mau makan di hotel mana," ajak Ke-i dengan begitu ceria.
"Makan? Di di luar?" tanya Neta dengan tergugup.
"Iya, kenapa mukamu kelihatan seperti sangat terkejut begitu? Ini hanya makan bersama, bukan acara kumpul rekan atau pesta," kata Ke-i yang menangkap gelagat aneh dari Neta.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Kei dengan menempelkan punggung tangannya ke kening sang istri.
"Belum mood? Oh okay, capek ya?" tanya Kei yang terlihat begitu perhatian. Dia bahkan memijit pundak Neta sambil berjalan masuk ke kamar mereka.
...****************...
Suasana canggung melanda Neta. Dia kebingungan lantaran harus berbohong dari snag suami. Padahal ini hanya perkara makanan, akan tetapi dia merasa bersalah seperti sedang menyembunyikan hal besar. Hingga ....
"Sayang," panggil Neta kepada Kei yang duduk dengan membaca artikel di laptopnya. Dia mengikuti perkembangan berita bisnis.
__ADS_1
"Hem, ada apa?" tanya Kei tanpa menoleh dan manik matanya fokus pada laptopnya.
"Apa sekarang, aku benar boleh makan apa yang aku mau? Tanpa harus memasaknya di rumah?" tanya Neta memastikan.
"Iya, boleh kok. Kenapa? Setelah aku pikir-pikir, yang terpenting itu ibunya happy, dan makanannya aman maka janin juga ikut happy. Jadi kalau kamu enggak happy sama peraturan aku ya, percuma aja dong semua perhatian aku itu," jawab Kei seperti bertanya balik.
"Iya, kalau gitu kamu enggak marah dong kalau tahu aku tadi makan di warteg sama mbak Nana, sama mbak Lusi dan sama Pak Joko?" papar Neta dengan ragu, dia takut di marahi suaminya yang pada saat ini melepaskan kaca matanya dan menatapnya lekat.
"Hemh ...," Kei mendengus dan kembali memakai kaca matanya.
Hanya seperti itu saja sudah membuat Neta tidak bergeming. Dia takut di marahi suaminya karena melanggar peraturan.
"Sayang, kamu marah? Aku enggak ada niat apa-apa kok, cuman pengen aja makan di warteg. Jangan marah ya, kalau hari ini aku sudah boleh makan di pinggir jalan itu artinya ya pas aku makan tadi juga sudah masuk hitungan harinya. Jangan marah ya, ya, ya?" rengek Neta yang berusaha untuk merayu suaminya agar tidak marah.
"Dia begitu takut terhadap semua aturanku. Hhh ... begini rasanya dihormati istri? Dirayu saya kita marah dan bukan. dilempar gelas," batin Ke-i yang kemudian tersenyum manis.
"Sini peluk dulu biar aku enggak marah," ucapnya seraya merentangkan kedua tangannya.
Seketika itu juga Neta menghambur dalam pelukan sang suami. Dia terlihat begitu bahagia dan tidak takut lagi. Hingga, mendung kecemasan itu pergi, berganti dengan satu ketidak sengajaan dalam berkata, "Sayang, tadi pas aku makan Kenny nimbrung."
"What? Jadi kamu makan sama Kenny juga dan malah enggak ajak aku?" ketus Kei yang langsung membuang muka.
"Ah, kamu marah lagi? Sayang, dengar dulu ceritanya," bujuk Neta dengan menangkup wajah Kei, mengarahkannya sampai menghadapnya namun Ke-i kembali membuang muka.
__ADS_1
"Ang ... Sayang, jangan gitu ih. Gitu aja marah. Aku enggak makan berdua aja, tapi ada mbak Lusi ada mbak Nana, ada juga Pak Jok. Tanya deh, orang dia juga duduknya di samping pak Joko."
"Ya tapi dia pernah cium kamu Ta, aku tahu dia suka sama kamu. Kamu malah kasih celah dia biar dekat sama kamu. Suka juga kamu sama dia?" tukas Kei yang terlanjur emosi.