
Neta terdiam saat menerima rekaman suara dan surat tertulis dari suaminya. Kei benar-benar menceraikannya. Dia memang mencintai Neta, menganggap Neta adalah sosok yang berbeda dari Salma. Akan tetapi dengan begitu bukan berarti dia bisa mempertahankan egonya dan membiarkan Neta tertekan.
"Silahkan di makan sarapannya Bu," kata Nindy pada majikannya yang sedang termenung dengan secarik kertas yang ada di dalam genggamannya.
"Iya Mbak," jawab Neta singkat. Tatapan matanya mengendur. Seolah, harapan hidupnya sirna.
"Ada apa Bu? Bukannya Ibu ingin bercerai dan jauh dari Bapak, tapi kenapa ibu enggak kelihatan senang?" tanya Nindy.
"Iya, aku memang ingin menjauh. Tapi ternyata itu juga bukan suatu hal yang mudah Ndy, aku harus kembali menata hati. Meski dia sudah menipuku habis-habisan, aku tetap saja tidak bisa membencinya begitu saja. Dia punya alasan tersendiri untuk keputusannya itu, meskipun pada akhirnya aku terseret dan terluka." Neta menghela napasnya perlahan.
"Semoga dia bisa bahagia," kata Neta pada akhirnya.
"Mbak, selama seminggu ini aku ingin pergi berkemah. Aku ingin menenangkan diri sendirian."
"Sendirian?" pekik Nindy seketika dia sangat terkejut. Tugasnya adalah untuk mengawasi setiap pergerakan Neta. Itu merupakan tugas wajibnya. Lalu sekarang Neta memintanya untuk tidak berada dekat dengannya.
"Ada apa? Kamu kaget begitu, biasa saja. Justru kamu bisa bersantai dan tidak perlu bekerja. Aku juga butuh privasi," kata Neta sambil tersenyum tipis.
"A ... ah, iya. Silahkan kalau begitu Bu. Kalau begitu saya juga akan izin pulang ke rumah selama ibu healing, apa boleh?" tanya Nindy.
"Boleh, silahkan." Neta menjawabnya dengan pelan dan tersenyum ramah.
Neta menyantap sarapannya tanpa ada suara. Hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling beradu. Hening dan sepi, dia seorang diri.
Di dalam ruangan bernuansa abu-abu itu Neta hidup berdua bersama Nindy yang tidak begitu banyak bicara juga. Setelah selesai dengan tugasnya, Nindy akan menuju ke kamarnya yang berada di belakang vila yang Neta tempati. Siapa sangka bila di antara jajaran kamar para pengurus vila itu, ada juga Kei yang mendiami salah satu kamarnya demi memantau dan bisa menemui istrinya.
__ADS_1
"Apa sudah kamu berikan obatnya?" tanya Kei pada Nindy di belakang bilik kamar mereka.
"Sudah Pak, ibu sedang makan tadi." Nindy menjawabnya dengan santai. "Bapak, kenapa harus seperti penguntit begini sih? Kenapa enggak ketemu langsung dan selalu harus menunggu ibu tidur pulas?"
"Hhh ... kamu tahu sendiri kan bagaimana reaksi dia setiap ketemu sama aku? Dan aku, aku enggak bisa jauh dari dia Ndy, kamu tahu itu. Ada sesuatu yang spesial di dalam dirinya yang membuatku selalu ingin berada di dekatnya, tapi karena kejadian kemarin, dia memaksakan diri untuk jauh dariku. Aku tidak apa-apa bila itu untuk kesehatan mentalnya. Aku lebih menyayanginya. Berpisah saat ini bukan berarti tidak menyatu lagi suatu saat nanti bukan?"
Nindy mengangguk paham setelah mendengar apa yang atasannya ucapkan. Dia bisa merasakan betapa besarnya rasa cinta Kei terhadap istrinya itu. Oh bukan, lebih tepatnya istri yang sudah ia ceraikan.
"Lalu, apa rencananya atau keinginannya hari ini?" tanya Kei yang begitu memperhatikan keinginan mantan istrinya itu.
"Ini rekaman percakapan kami tadi Pak," kata Nindy yang memberikan rekaman percakapan mereka.
Kei tersenyum mendengarkan apa yang Neta katakan saat ia mengakui betapa beratnya berpisah dan jauh darinya. Ada luapan kebahagiaan di dalam dirinya. Dia yakin, ini hanyalah soal waktu.
"Bagus, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan? Menyamar dan terus ikuti dia. Pastikan dia aman. Mantan ayah dan ibu mertuaku itu otaknya sama jahatnya dengan Salma. aku tidak mau ada hal buruk yang menimpa Neta. Apa dia sudah katakan di mana dia akan berkemah?" tanya Kei.
"Usulkan saja tempat yang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi supaya kamu masih bisa mengawasinya dengan baik," kata Kei memberikan perintahnya.
"Em, baik." Nindy mengangguk.
...----------------...
Selangkah demi selangkah, Kei sampai pada ruangan di mana Neta terlelap. dia tertidur dengan pulasnya. Seperti biasa, tanpa Neta sadari Keinakan datang lalu memeluknya dan selama satu jam menemaninya, berbicara sendirian, mencurahkan semua yang ia alami seharian.
"Hhh ... kamu sudah nyenyak. Selalu saja terlihat cantik. Saat seperti ini, aku merasa seperti hantu. Aku harus datang di saat kamu tidak sadar," kata Kei pelan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu sampai kapan semua ini akan berlalu, sampai kapan, aku bisa memelukmu dengan sembunyi-sembunyi seperti ini. Neta, aku sangat menyayangimu," kata Kei pelan.
Siapa sangka apa yang Kei katakan mendapatkan balasan. Neta yang biasanya terlelap tanpa sadar, kali ini mengigau dan menangis. Dia terlihat begitu sedih.
"Kei, maafkan aku. Aku mencintaimu," ucap Neta tiba-tiba yang membuat Kei terkejut setengah mati. Bahkan pria tampan itu sampai menahan napasnya selama beberapa detik.
"Apa dia bangun? Apa dia mendengarkan apa yang aku katakan tadi?" batin Keo ketakutan. Ia takut ketahuan dan Neta kembali depresi.
Berdetak kencang jantung seorang laki-laki kala mendengar wanitanya bicara. Kei membeku dan tidak berbuat apa-apa. Napasnya pun tertahan.
Hingga, ia memutuskan untuk melihat apa yang terjadi. Ia mengintip dan melihat Neta yang masih terlelap. Kei kembali bernapas lega saat melihat Neta yang masih terlelap, hanya saja terlihat menangis kecil.
Perlahan Kei mengusap air matanya dan memberikan kecupan di kening wanita yang amat sangat ia sayangi dan berhasil membuatnya mengambil keputusan yang besar. Keputusan dan juga kesadaran akan suatu hal bahwa di dunia ini bukan hanya harta yang harus dipertahankan. Tetapi juga ketenangan dan kebahagiaan.
"Aku kira kamu bangun, syukurlah kalau kamu enggak bangun. Kamu tahu Sayang, bisa seperti ini dan memelukmu seperti ini membuatku sangat senang. Aku selalu bermimpi dan berharap suatu saat nanti kita akan seperti nini dengan anak-anak kita," ucap Kei penuh makna.
...----------------...
"Mbak, ini sudah keterlaluan. Menantuku itu membuang kita di sini di tempat asing ini tanpa memberikan kita uang. Bagaimana kita bisa pulang sedangkan kita dikawal ketat begini," kata bibi Risma yang sudah kesal setelah tertahan beberapa bulan disebuah rumah tua yang angker.
"Terus kita mau berbuat apa? Mau kabur? Ini bukan ulah mantuku, ini ulang neneknya yang mengerikan itu. Ah, kurang ajar!" maki ibu Rahayu pada sosok nenek Fuji.
Bibi Risma lalu duduk dan menatap benci kakaknya itu. Iya ada kebencian dia mata sang adik tanpa kakaknya sadari. Dia begitu membenci Rahayu, hingga sebisa mungkin dia terus menghasut supaya kakaknya itu memanfaatkan anak kandungnya sendiri. Maka dengan begitu dendamnya akan terbalaskan.
"Kakak sih tidak mau segera ambil tindakan waktu itu. Harusnya kakak berpura-pura tidak tahu apa-apa dan mengambil Neta untuk membawanya pergi dari si Kei gila itu. Dengan begitu kita bisa menikahkan Neta dengan orang yang lebih kaya lagi dan tidak berakhir di rumah mengerikan ini!" ujar bibi Risma yang mulai meracuni pikiran ibu Rahayu.
__ADS_1
"Mana aku tahu akan jadi seperti ini? Aku kira setelah berpisah, anakku akan dijadikan satu-satunya dan kita akan mendapatkan banyak dana dari mereka. Malah seperti ini jadinya," keluh ibu Rahayu.
"Lalu, kalau sudah begini kita mau melakukan apa?" tanya bibi Risma.