
"Sayang, kamu masih marah?" tanya Neta kepada Kei di saat ia terjaga di jam malam. Lebih tepatnya di jam 2 dini hari.
"Enggak, siapa juga yang marah?" tanya Kei balik dengan matanya yang sudah terpejam.
"Ya kalau enggak kenapa semalaman kamu enggak peluk aku? Aku enggak bisa tidur," kata Neta dengan suaranya yang manja mendayu. Ia merengek seperti anak kecil.
"Gerah Yang, panas. Udahlah ayo tidur aja udah malem. Kamu kan udah makan kenyang tadi di warteg sama Kenny, jadi sudah terpuaskan. Ya udah tinggal tidur aja," kata Kei yang sengaja menyinggung soal Kenny dan Neta yang pergi makan bersama.
"Tuh kan diungkit terus. Cuman karena dia maksa loh, kan aku takut kalau diadukan ke kamu. Eh enggak tahunya tetap marah juga, udahlah laper aku!" ujar Neta yang kemudian beranjak berdiri padahal Kei tengah menikmati suasana manja dari sang istri. Suasana yang tenang dan tidak pernah ia jumpai saat bersama Salma.
"Eh, lapar lagi? Ini sudah malam Ta!" seru Kei yang hanya diabaikan oleh sang istri.
__ADS_1
"Apanya, aku lapar lagi. Anakmu ini sepertinya mau buat aku jadi gendut. Aku jadi doyan makan seperti monster begini," jawab Neta dengan terus berjalan meninggalkan tempat peraduan.
Kei hanya menggeleng mengamati tubuh kecil Neta dan tingkah lakunya yang berjalan dengan baju kebesaran miliknya. "Ini yang aku cari dari wanita. Sisi lemah lembut dan lucunya. Kenapa dulu Salma tidak punya sisi seperti ini? Dia sangat tegas dan tempramen. Oh, memikirkannya lagi membuatku pusing," batin Kei seraya mengusap keningnya.
Pada akhirnya mereka berdua sampai di meja makan. Neta langsung membuka kulkas dan mengambil wortel dan juga buah apel. Kei hanya mengamati saja ia pikir istrinya akan makan buah hanya sekedar untuk mengganjal lapar. Tapi tidak, Neta justru melakukan sesuatu yang lain.
Neta mencuci apel dan wortel lalu melahapnya dengan mencocol ke sambel terasi. Dia memakannya dengan lahap dan Kei hanya bisa menelan ludah. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Sayang, apa enak?" tanya Kei tercenung.
"Ini mau anakmu, seperti ini. Dulu aku mana pernah makan kayak gini. Sekarang wortel mentah aja aku makan. Udah kayak kelinci aja aku," cicit Neta dengan terus menikmati makanannya.
"Oh iya. Kamu sudah tidak marah lagi kan?" tanya Neta lagi.
__ADS_1
"Hem," jawab Kei sambil mengangguk pelan. "Mana bisa aku marah lama-lama sama kamu."
"Hehehe, syukurlah kalau begitu." Neta tertawa senang. matanya menyipit dan entah mengapa hal itu nampak begitu menggemaskan bagi Kei.
"Sayang, nanti kalau kamu mau melahirkan, apa kamu mau aku bawa ibu ke mari?" tanya Kei tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba membahas dia?" tanya Neta datar.
"Ya, sebagai menantu aku tidak mau dicap sebagai mantu durhaka. Paling tidak sekarang seharusnya kita sadar, tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi dengan cerita awal pertemuan kita. Mau salah tau benar pun sekarang kita sudah bersama. Apa salahnya memaafkan ibu?" tanya Kei.
"Aku mau saja memaafkan. Tapi apa ada jaminan dia tidak meminta uang lagi kepadamu? Jujur saja aku tidak suka dengan sikapnya yang seperti itu. Itu tidak bagus dan memalukan." Neta menghentikan kegiatan makannya.
"Tidak ada jaminan Sayang, tapi dia itu ibumu," ujar Kei berusahalah untuk membujuk.
__ADS_1
"Sudahlah aku tidak ingin mengingat dia lagi. Bisa jangan bahas dia lagi Mas?" pinta Neta dengan todongan tatapan mata yang begitu tajam.