
"Nenek, saya rasa mereka ini benar-benar sudah menjadi pasangan seutuhnya sekarang ini. Tidak ada yang perlu kita cemaskan lagi. Ini sudah waktunya bagi anda untuk duduk tenang menikmati masantua dan menimang cicit," kata Suster Dini pada nenek Fuji yang sedang tersenyum memandangi foto pernikahan Kei.
"Iya, walaupun aku tahu dengan seperti ini tidak akan bisa membersihkan nama baik Neta yang akan selalu dicap sebagai Pelakor, tapi setidaknya dengan begini Kei bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap gadis baik itu. Kalau tidak ada dia, aku mungkin sudah bersatu dengan tanah saat ini. Darahnya ada di dalam tubuhku, dan ini adalah caraku untuk membalas kebaikannya." Nenek Fuji tersenyum saat mengatakannya.
"Iya Nek, dunia ini semua sudah berjalan sesuai dengan garis takdirnya. Tidak ada yang bisa menolak atau memutusnya begitu saja. Kita hanya harus bersabar dan menerimanya, menjalani dengan ikhlas dan meyakini yang terbaik yang akan datang," kata Suster Dini menimpali.
"Iya, kamu benar. Aku sangat bahagia sekarang," kata nenek Fuji sambil tersenyum.
...----------------...
Seorang laki-laki masih tertidur pulas dengan memeluk erat tubuh wanitanya. Kei terlelap dengan begitu pulas. Ia seolah enggan terbangun dari mimpinya. Sesekali bibirnya tersenyum saat merasakan Neta yang sudah terbangun.
"Kei, ayolah bangun aku kebelet pipis," kata Neta yang sudah sangat ingin ke kamar mandi. Panggilan alam itu begitu aktif hingga membuatnya gelisah menahan suatu rasa.
"Enggak akan aku lepaskan sebelum kamu panggil aku dengan panggilan manis. Aku ini lebih tua dari kamu Sayang," ujar Kei dengan suara seraknya khas bangun tidur. ia berbicara dengan bibirnya yang setia menempel di kepala Neta.
"Apa? Panggilan apa? Aku udah enggak tahan ini, perutku juga mulas," kata Neta yang tidak menemukan panggilan manis.
"Bang Kei?" kata Neta yang mulai mendesain panggilan manis.
"Ih, apa itu? Lebih mirip seperti kata bangkai," kata Kei. "Enggak ah, yang lain aja."
"Apa sih? Kemarin sewaktu kita mau punya anak, aku sudah mempunyai panggilan untukmu. Daddy, tapi sekarang dia tidak ada. Lalu aku harus panggil kamu apa?" tanya Neta kebingungan.
"Apa kita buat anak dulu, baru kamu bisa kasih panggilan aku?" usul Kei.
"Buat anak? Hei, aku rasa pagi ini aku benar-benar bocor. Aku merasa tidak nyaman ini, bokongku terasa basah," kata Neta berterus terang. "Dari tadi aku tahan supaya tidak keluar di seprai, kamu malah terus peluk aku. kalau gini kasihan pelayan hotelnya kan?"
__ADS_1
"Bawel ih! kamu mikirin pelayan hotel tapi enggak mikirin aku. Ah, ini bulan madu merah. Aku tidak beruntung ya," cetus Kei yang kemudian melepaskan Neta. "Udah sana ke kamar mandi," imbuhnya.
Neta seketika bangun dan terbelalak kala melihat dar*hnya menempel di seprai. Ia merasa malu terhadap suaminya. Akn tetapi Kei terlihat biasa saja. Dia tidak terlihat jijik atau risih.
"Kei," panggil Neta pelan. "Awas dulu, aku lepas seprainya. Kamu pasti jijik lihat ini. Kamu jangan lihat ya."
Kei menatapnya dingin dengan menaikkan sebelah alisnya. "Apa kamu bilang jijik? Keperawananmu, aku yang merasakannya. Saat kemarin ada insiden itu juga tanganku sudah berlumuran darahmu. Apa aku harus jijik? Ini bukan apa-apa buatku Neta. Sanalah ke kamar mandi, biar petugas hotel yang mengurusnya."
"Ah, iya. Kemarin, di saat kejadian itu, dia begitu mencemaskan ku, dia menyentuhku tanpa rasa jijik. Meski tubuhnya sendiri terluka, tapi dia tetap mengutamakan keadaanku," pikir Neta saat mengenang kejadian buruk tersebut.
Neta berlalu pergi menuju kenkamar mandi. Ia menikmati guyuran hangat shower, ia membersihkan diri sembari memikirkan langkah selanjutnya. Ia terjebak pada stigma dan etika.
Stigma masyarakat yang menilainya sebagai Pelakor, dan etika berumah tangga yang harus ia jalankan dengan baik. Melayani dan menunaikan kewajiban sebagai seorang istri. Juga ... lagi-lagi ia dihadapkan pada kenangan lalu akan semua nasihat almarhum ayahnya.
"Aku ingat, ayah selalu berpesan untuk masa dewasaku. Dia ingin aku tunduk dan patuh kepada suami yang baik dan bertanggung jawab. Hhh ... aku tidak mengira bila jalanku mendapatkan suami akan seperti ini." Neta membasuh wajahnya. Ia menengadahkan kepalanya.
Ia berjalan mengambil handuk dan melupakan sesuatu. Pada waktu itu dia tidak membawa pembalut. Ia, Kei begitu dadakan saat memaksa untuk menikahinya hingga Neta lupa kapan tanggal ia haid. Agaknya rasa tertekan dan stress membuat haid-nya maju beberapa hari.
"Kei," panggil Neta dari balik pintu dengan perasaan ragu.
"Hem!" sahut Kei dengan acuhnya. Dia berdiri di samping pintu kamar mandi. "Ada apa?"
"Aku benar-benar haid." Neta berbicara sembari sesekali menggigit bibirnya ragu.
"Terus? Kamu udah bilang kemarin. Aku juga udah tahu," jawab Kei acuh.
"Aku butuh pembalut," kata Neta pelan sambil membuka pintu kamar mandi dan menampilkan dia yang hanya menutupi bagian depan tubuhnya dengan handuk kimono.
__ADS_1
"Oh astaga! Jadi kamu mau aku cari pembalut? Oh ayolah Ta, aku seumur-umur belum pernah membeli itu. Aku minta bantuan petugas hotel ya?" kata Kei.
"Jangan! Aku malu kalau mereka yang carikan." Neta terlihat tidak ingin memaksakan kehendaknya. "Ambilkan tisu itu aja, biar aku pakai tisu dan cari sendiri. Dari pada di sini dipenuhi bercak darah karena suamiku yang gengsi ini."
"Oh, kata-kata manipulatif itu," gumam Kei dengan kesal. "Fine! Oke aku yang cari!" kesalnya yang kemudian pergi.
...----------------...
Selama Kei pergi, Neta sama sekali tidak berani keluar dari dalam kamar mandi. Bahkan saat petugas hotel membersihkan kamar, dia tetap berada di kamar mandi. Beruntung, pada saat itu Kei tidak lama. Hanya beberapa mbit dia pergi dan kembali dengan membawa satu kantong plastik besar pembalut.
"Sayang! Ta!" panggil Kei sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Udah? Sini," Neta hanya mengulurkan tangannya dari pintu kamar mandi yang ia buka sedikit. Kei pun hanya memberikan satu pak.
Setelahnya, Neta pun keluar bersamaan dengan sarapan pagi yang diantar ke kamarnya. Dia terlihat jauh lebih segar kali ini. Hanya saja, matanya terbelalak saat melihat ada satu kantong besar pembalut di depan pintu kamar mandi.
"Kei," desis Neta.
"Panggilan manis! Aku mau panggilan manis dan ucapan terima kasih," kata Kei dengan wajah cemberutnya. Mulutnya terus mengunyah roti bakar.
"Sayang, ini kenapa banyak banget pembalutnya?" tanya Neta.
Kei mengulum senyumnya saat rungunya mendengar panggilan manis itu tersemat untuknya. "Sayang?" gumamnya senang.
"Iya, aku beli banyak biar cukup buat satu tahun. Lagian juga aku enggak mau disuruh lagi beli itu. Malu tahu," ucapnya dengan setengah kesal.
"Makasih banyak ya Sayang," kata Neta pelan namun sudah cukup membuat hati Kei begitu bahagia.
__ADS_1