
"Senyum dong, dari tadi aku perhatikan kamu cemberut terus. Enggak capek apa bibirnya?" tanya Kei sembari cengengesan menatap Neta yang tengah melepaskan perhiasan yang menempel di leher dan telinganya.
"Suruh senyum gimana? Orang aku nikahnya aja dipaksa, ancamanmu itu mengerikan, kamu tahu itu? Oh, Tuan Keiji yang kaya raya, punya segalanya memegang bisnis pariwisata, aku bisa apa untuk melawanmu? Aku bahkan enggak bisa lari dari kamu Kei!" kata Neta yang sebenarnya penuh dengan makna sindiran. Dia bahkan sengaja mengatakan itu supaya suaminya ini tersinggung.
Kei tertawa terbahak-bahak, dia membungkuk dan menempatkan dagunya di pundak sang istri. Tidak ada rasa takut atau marah. Tatapan matanya bahkan terlihat teduh dan sayu.
"Kamu pikir aku akan marah dan melakukan kekerasan, lalu kamu akan menggunakan itu untuk meminta cerai dariku? Oh, tidak semudah itu Aneta Azri. Tidak semudah itu," kata Kei sembari menyentuh punggung Neta dengan ujung jarinya.
Neta merasakan sensasi aneh yang geli dan menggelitik. Sejujurnya dia sangat responsif terhadap sentuhan. Gaya bercinta dan berpasangan Neta adalah physical touch, dia sangat menyukai sentuhan dan Kei, entah tahu dari mana dia akan hal itu.
"Si ... siapa juga yang berpikir begitu? Ah, udahlah awas, aku mau mandi. Aku udah capek, jadi jangan ganggu aku. Kamu hanya mau kita menikah bukan? Dan aku sudah memenuhinya," kata Neta yang berusaha untuk pergi menghindari suaminya.
Kei tersenyum miring. Saat Neta berjalan, saat itu dia menarik dengan keras kain brokat yang begitu tipis itu hingga robek dan menyisakan bagian dalam tubuh wanita yang ia dambakan. Nampak begitu seksi dan menggoda di matanya.
Kei mendekat perlahan dan Neta pun mundur perlahan, kedua tangannya berusaha menutupi bagian penting yang ia miliki. Neta merasa malu walaupun mereka sudah pernah berhubungan sebelumnya. Bahkan mereka sampai berhasil membuat calon bayi.
Kei menggaruk alisnya. "Apanya yang kamu tutupi? Aku masih bisa melihat pan*atmu yang bulat itu."
"Aish! Kei!" bentak Neta dengan tatapan penuh permusuhan.
Kei bukannya takut, dia malah mendekat dan menyentuh ujung hidung Neta sebelum pada akhirnya dia menggendong wanita itu untuk memasuki kamar mandi. Neta memberontak, akan tetapi sama sekali tidak membuahkan hasil. Tenaganya sama sekali bukan saingan pria kekar itu.
"Pelan saja bicaranya, aku tahu kamu begitu bersemangat, tapi tidak usah berteriak-teriak, nanti orang di hotel ini berpikir aku menyiksamu. Jangan berlagak seperti perawan Sayang, bahkan di mana letak tahi lalat di tubuhmu saja aku sangat mengingatnya," bisik Kei yang membuat Neta merinding sekujur tubuh.
"Aku sangat ingin membencinya atas perbuatannya kemarin. Tapi, aku tidak bisa, kenapa perasaanku seperti ini?" pikir Neta yang sedang galau.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Neta dengan tatapan penuh curiga.
__ADS_1
"Apa? Tentu saja menunaikan ibadah bersama. Kamu tahu Sayang, semenjak aku menyentuhmu, sama sekali aku tidak bernapsu dengan wanita mana pun termasuk mantan istriku. Entah sihir macam apa yang kamu gunakan, tapi sejak saat itu kamu adalah canduku," aku Kei yang membuat wanita yang berada di dalam gendongannya mendelik.
"Bohong!" sahut Neta tanpa melihat wajah suaminya. "Turunkan aku Kei."
"Enggak, enggak akan sebelum aku berhasil mendapatkan hakku sebagai suami malam ini. Santailah Sayang, ini malam pertama kita," kata Kei dengan tatapan menggoda.
"Ah, aku bahkan tidak mau menikah lagi denganmu kalau bukan karena ancaman pemerkosaan kemarin," kata Neta.
Kei tertawa mendengarkan penuturan istrinya. "Ancaman Pemerkosaan? Pemerkosaan katamu?"
"Iya, kamu melakukan ... melakukan itu tadi memangnya apa kalau bukan untuk itu?" tanya Neta dengan polosnya.
"Hahaha! Aku membuka baju dan celanaku karena gerah Ta," kilah Kei yang hanya ingin membuat suasana menjadi lebih dekat dan hangat tanpa ada ketegangan.
"Kamu pikir aku ini anak kecil? Di mana ada orang gerah sampai ke anunya juga?" tanya Neta yang membuat Kei terbahak-bahak.
"Ada, dan itu aku. Aku gerah karena melihatmu Sayangku," jawabnya penuh dengan godaan.
"Kenapa?" tanya Kei dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sedikit menantang.
Neta meringis ia seperti sedang menahan rasa nyeri. "Aku kayaknya mau dapet."
"Halah bohong! Iya kamu bohong kan? sengaja kan biar enggak kumintain jatah?" tampik Kei dengan ekspresi wajahnya tidak percaya sama sekali.
Neta menganggukan kepalanya. "Aku enggak bohong. Sumpah ini mulai kerasa sakit."
Kei yang melihat Neta yang terus memohon pun pada akhirnya menurunkan istrinya itu. Dia menatap penuh curiga dengan satu alisnya yang memicing. Tatapan yang menyatakan bila ia tidak percaya.
__ADS_1
"Coba cek sekarang, aku mau lihat!" kata Kei menantang.
"Ih, kok sekarang? Belum keluar, tapi udah kerasa sakit, pahaku aja panas ini. Kamu pegang deh," ujar Neta dengan mendekatkan pahanya pada tangan Kei dan suaminya itu pun menyentuhnya.
"Iya, kenapa pahanya terasa sedikit panas?" gumam Kei terheran.
"Udah ah sana aku mau ganti baju. Kamu sana dulu, aku udah enggak enak badan ini jangan ganggu," usir Neta dengan beraninya kepada suaminya yang hanya melongo di hadapannya.
Untuk pertama kalinya seorang Kei ditolak wanita dan diusir seperti itu. Dia terkejut tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pikiran di kepalanya Bingin memberontak, akan tetapi tubuhnya patu begitu saja kepada perintah Neta.
"Aneh kenapa aku mematuhinya seperti ini? Jarang sekali aku seperti ini, dulu hanya nenek yang bisa membuatku tunduk seperti ini dan sekarang dia. Salma saja sama sekali tidak bisa membuatku seperti ini," pikir Kei terheran.
Neta tersenyum senang saat berada di kamar mandi. Dia menggunakan alasan yang tepat, sebab memang tanggal ini mendekati tanggalnya mendapatkan jatah haid. Ia berendam lumayan lama dan menikmati air hanya yang membantunya untuk lebih rileks.
"Dia tidak sepenuhnya buruk sih, hanya saja setelah ini bagaimana kalau gosip itu kembali menyerangku? Walaupun saat ini status kami sama-sama single, akan tetapi cerita yang melatarbelakangi pernikahan kami tetaplah sama. Aku yang merebut suami Kak Salma. Aku Pelakornya. Apakah semua ini bisa berubah di kemudian hari? Dan ... apa aku harus terus membenci kisah ini?" pikir Kei.
...---------------- ...
"Ta! Neta! Kamu kenapa lama sekali di dalam kamar mandi Ta! Neta! Sayang!" seru Kei, yang begitu panik saat Neta sudah berada satu jam di dalam kamar mandi.
Neta keluar dengan wajah suntuknya. Ia menatap Kei dengan tatapan yang tidak bersahabat. Tatapan yang mengatakan, "Ada apa berisik sekali?"
"Ada apa Kei?" tanya Neta dengan alisnya yang menukik tajam.
"Kei? Tolonglah panggil aku dengan panggilan manis lainnya. Aku ini suami sahmu sekarang, masih saja panggil nama. Apa tidak bisa huh?"
"Oh, tiba-tiba?" gumam Neta.
__ADS_1
"Iya, padahal aku suamimu ini begitu khawatir tadi kamu lama sekali di dalam kamar mandi aku pikir kamu melakukan hal buruk di sana," omel Kei sembari berlalu pergi meninggalkan Neta yang melongo.
"Dia kenapa? Aku hanya mandi, dipikir aku mau bunuh diri?" batin Neta