Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
82. Persalinan


__ADS_3


Hari yang dinantikan oleh Kei tiba di mana semua penderitanya akan kehamilan sang istri pun usai. Sementara Kenny, dia tetap saja berambisi untuk mendekati Neta. Akan tetapi Neta yang tidak mau semuanya menjadi runyam memilih untuk menyelesaikan masalahnya dengan Kenny baik-baik tanpa sepengetahuan nenek Fuji dan juga suaminya, Kei.


"Kenny, apa kamu tidak lelah terus saja menemaniku di rumah? Suamiku saja dia dengan leluasa melakukan perjalanan bisnisnya. Sedangkan kamu, kamu berlebihan mencemaskan keadaanku ini. Sudahlah buka hatimu untuk wanita yang aku pilihkan. Wilda itu gadis yang baik," kata Neta di saat mereka berdua sedang berada di taman belakang tempat di mana di sana ada makam anak sulungnya.


"Wilda itu terlalu pendiam. Menikah dengannya itu sama saja melatihku untuk menjadi orang bisu. Kamu mau kalau aku menjadi bisu? Aku sudah menuruti saranmu untuk mengajaknya jalan-jalan, kita melakukan kencan tapi selama itu dia juga hanya diam saja," papar Kenny. "Aku maunya cari wanita yang seperti kamu," imbuhnya pelan.


"Jangan seperti aku juga. Aku itu tidak ada istimewanya. Aku ini sangat biasa Kenny. Lihat dirimu, tampan dan berkecukupan. Harusnya akan ada banyak wanita yang suka denganmu. Carilah yang selevel. Aku tidak akan memilihkan wanita yang tidak selevel denganmu. Wilda itu orang tuanya kaya, hanya saja anak itu masih mau mendalami dunia fashion designer."


Kenny mengangguk. "Ya aku tahu itu. Tapi yang aku tidak suka dia itu sangat irit bicara. Kami hanya seperti orang yang tidak saling mengenal kemarin."


"Hemhh ... akan sangat sulit sekali. Sudahlah buang saja ambisi anehmu itu. Aku ini sudah bersuami juga untuk mencari yang sama persis sedangkan aku tidak mempunyai kembaran itu akan sangat susah. Aku rasa aku hanya membuang waktu di sini, bye!" kata Neta yang kemudian beranjak pergi dengan membawa perutnya yang buncit.


Neta kelihatan kesusahan sekali saat dari jongkok lalu berdiri. Kenny hanya bisa diam memerhatikan hal tersebut. Dia lalu mengambil gambar punggung Neta seraya tersenyum.


Tidak berselang lama, Kei pulang. Keiji Syabil itu membawa apa yang istrinya inginkan. Tadi sebelum berangkat, Neta sangat ingin makan martabak manis.


"Sayang ...!" seru Kei.


"Iya!" seru Neta yang berjalan kesusahan dengan menopang pinggangnya. Ia tersenyum menyambut kedatangan sang suami.


"Sudah pulang? Mau mandi dulu atau makan dulu? Atau sudah makan?" tawar Neta yang seperti tidak sabaran saat bertanya dengan napas yang memburu.


"Kamu habis ngapain kok ngos-ngosan seperti itu?" tanya Kei yang mendapatkan hal aneh pada raut wajah istrinya yang berpeluh di sekitar kening.


"Sampai keringetan begini," ucap Kei sembari mengusap kening sang istri dengan telapak tangannya.


Neta lalu meraih tangan Kei dan mencium punggung tangannya. "Aku tidak apa-apa, mungkin hanya lapar saja dan mau makan martabak ini."


"Sayang, kalau kamu merasa ada yang aneh di dalam tubuhmu atau perutmu, bilang saja. Katakan saja ya, jangan ada lagi bahasa takut merepotkan. Aku ini suamimu dan anak ini juga anakku. Sudah seharusnya kita bekerjasama," terang Kek sembari mencium kening Neta.


"Iya, tapi sepertinya aku .Hanya kelehan saja," jawab Neta yang tidak ingin suaminya panik. Pasalnya saat ini saja dia merasakan mules yang berbeda dari biasanya.

__ADS_1


"Oh ya? Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu, nanti kita makan malam bersama. Tunggu ya, sebentar saja," pamit Kei dengan lembutnya sebelum dia masuk ke dalam kamar mereka berdua.


Selama suami istri itu berbincang, selama itu juga Kenny memerhatikan keduanya. Ia nampak menyebarkan tatapan iri. Terlihat begitu jelas dari senyuman sinis yang ia tebarkan.


"Kali ini aku baru menyaksikan kebahagiaan yang benar-benar kebahagiaan. Sebelumnya aku hanya melihat sesuatu yang meragukan dari mata Salma. Tapi dari mata Neta, dia begitu tulus. Aku hanya bisa mengandai-andai dan tak bisa mendapatkan yang serupa. Hemh ... Wilda, dia sebenarnya tidak jelek, tapi aku belum ada klik sama dia," batin Kenny yang kemudian memutar badan dan hendak meninggalkan Neta seorang diri.


Namun, baru beberapa langkah saja ia berlalu, ia mendengar suara mendesis, seperti suara meringis menahan sakit. Ia benar sekali suara itu berasal dari bibir Neta. Wanita hamil itu meringis kesakitan dan Kenny melihat ada seperti tumpahan air menggenang di bawah kaki Neta.


"Ta ...!" teriak Kenny dengan spontan. Ia panik sekaligus ketakutan melihat peristiwa tersebut. Ini merupakan pengalaman pertama baginya.


"Ken, panggilkan suamiku sepertinya aku mau melahirkan." Neta meringis meminta tolong sembari duduk bersandar di sofa. Jemarinya meremas kuat kulit sofa.


Kenny segera berlari menuju ke lantai atas. Dia seperti orang kesetanan, terlihat panik dan ketakutan seolah saat ini yang sedang berjuang untuk melahirkan adalah istrinya. Berkali-kali ia mengetuk pintu dan Kei tidak menyahut.


"Kei! Buka pintunya! Itu istrimu mau melahirkan!" ucap Kenny dengan napas yang memburu.


Kei yang berada di dalam kamar mandi kebetulan dia sedang buang air besar itu sama sekali tidak mendengarkan. Kenny yang tidak sabar langsung membuka pintu dan menyelonong masuk. Ia mencari ke segala penjuru dan pada akhirnya dengan inisiatif ia langsung membuka pintu kamar mandi.


"Hei! Kamu bisa sopan tidak Ken? aku ini sedang berak!" bentak Kei sembari menutupi bagian inti miliknya dengan tangannya.


Kei berada di dalam kaca buram meski begitu ia merasa sangat risih dengan kehadiran Kenny.


"Cepatlah! Itu air keluar dari perut istrimu! aku tidak tahu dia kenapa tapi dia kesakitan dan katanya anakmu mau lahir!" ujar Kenny sembari menutup hidungnya.


"Keluar! sana keluar!" usir Kei yang masih saja kesal.


"Itu tolong dulu istrimu!" sentak Kenny.


"Keluarlah, aku mau cebok dulu! Mau kamu kena taiku?" ujar Kei dengan sarkasnya.


"Cih! Najis!" maki Kenny yang kemudian menutup dengan kasar pintu kamar mandi tersebut.


Selesai dengan ritualnya, Kei langsung turun dengan membawa semua perlengkapan yang sudah ia siapkan bersama sang istri. Di lantai bawah para pelayan dan nenek Yuki sudah memasukan Neta ke dalam mobil. Nenek Yuki yang walaupun dia membenci nenek Fuji, tapi melihat Neta kesakitan seperti tadi ia pun menjadi tak tega.

__ADS_1


"Hati-hati," kata nenek Yuki saat berpesan kepada Kenny yang sudah duduk di bangku kemudi.


"I ... iya," jawab Kenny tergugup.


"Heran, kenapa nenek tiba-tiba berubah mau membantu Neta? Padahal sebelumnya bicara saja tidak mau katanya Neta bukan levelnya," pikir Kenny.


"Ayo cepat Ken kita ke rumah sakit!" titah Kei yang segera duduk di samping sang istri yang meringis kesakitan.


"Iya," jawab Kenny yang segera menginjak pedal gas.


...****************...


"Suaminya yang mana ya?" tanya si perawat.


Kenny dan Kei yang sedang duduk pun langsung berdiri bersamaan.


"Saya!" kompak keduanya menyahut.


"Hah? Suaminya dua?" cetus si perawat yang melongo sangking terkejutnya.


Kei melotot pada Kenny yang kemudian meringis garing. "Hehehe, saya adiknya suaminya. Ini kakak saya suaminya. Hehehe."


"Oh, begitu? Mari Bapak yang merasa suaminya ikut saya. Pasien ingin ditemani suaminya," ajak si perawat.


Kenny masih saja refleks berdiri dan hendak mengekor di belakang si perawat. Kei langsung mencekalnya dan menghentikan langkahnya.


"Hei, hei hei! Aku suaminya, bukan kamu!" ujar Kei dengan lantang.


"Maaf, lupa," kata Kenny lagi-lagi salah tingkah.


"Ckk! Ini karena efek lama tidak membuang Sari Pati, jadi merasa memiliki padahal setelah hari itu aku sudah tidak pernah lagi memeluk dan menyentuhnya," batin Kenny.


~ Bersambung ☺️

__ADS_1


__ADS_2