Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
37. Neta Adalah Wanita yang Tepat


__ADS_3

-Tidak ada mahluk yang mampu melampaui kuasa Tuhan-


...-----...


"Bisa bantu gue enggak sih lu? dari tadi perasaan lu kayak jijik gitu lihat gue," celetuk Reza pada Dara yang terlihat enggan menatap luka di tangan Reza yang mulai mengering.


"Bukannya gue jijik Za, gue cuma agak ngilu aja kalau udah bahas soal luka. Untung malem itu gue enggak muntah pas lihat darah elu. Sebenarnya gue udah kayak mau pingsan tau enggak. Dah, gue tutup aja lagi luka lu ya?" tanya Dara yang bersiap menutup luka di telapak tangan Reza.


"Jangan, biar cepat kering kok," sergah Reza yang tidak mau ditutup lagi lukanya walau sebentar.


Di saat mereka sedang ngobrol, datanglah Deska si pengacara yang ditunjuk oleh nenek Fuji. Deska datang dengan membawa berkas kerja sama. Dia diutus oleh nenek Fuji untuk mengurus juga butik kecil milik Neta.


"Ada apa, kalian ini sukanya berdebat saja," tegur Deska yang baru masuk ke ruangan tersebut.


"Enggak, bukan apa-apa kok. Biasa hanya sekedar ngobrol. Ada apa ya Pak Deska?" tanya Dara yang merasa penasaran sekaligus terheran. Pasalnya, tidak setiap hari Deska ini datang.


"Ini, saya diperintahkan oleh nenek Fuji untuk mengurus surat kerja sama ini di mana Mbak Dara di minta untuk menjadi pengurus dari butik Bu Neta. Tentunya dengan gaji yang dinaikkan," kata Deska sembari membuka lembar perjanjian.


"Wah, terus mana ibu Netanya?" Dara malah celingukan mencari keberadaan Neta yang tentunya tidak ada di ruangan itu.


Deska tersenyum kecil. "Dia di rumah nenek Fuji. Hanya saya yang diutus sebagai perwakilan. Silahkan dibaca dan ditandatangani bila sudah mengerti. Kalau ada yang belum paham, silahkan tanya saya," kata Deska.


Dara pun segera membacanya, dia pun menandatangani perjanjian tersebut. Semuanya kelas dan tidak berbelit-belit sama sekali. Setiap poin perjanjian hanya membahas tentang cara kerja dan gaji.


"Baik, kalau begitu saya permisi. Maaf jadwal saya padat, jadi tidak bisa berlama-lama." Deska berpamitan.


"Pak, kapan kami boleh pulang? Saya sudah bosan setiap hari harus mengurusi dia. Dia ini seperti bayi," keluh Dara spontan.


"Huh! lu pikir gue mau kayak gini? Eh, lu udah enggak kasihan sama gue?" desis Reza sembari menarik ujung baju Dara.

__ADS_1


"Kalian ini berisik terus, nanti saya nikahkan mau?" tanya Deska dengan menahan tawanya.


"Enggak!" pekik keduanya.


...----------------...


Sementara itu di tempat yang lain, Neta lagi-lagi mendatangi makan anaknya. Dia menangis namun kali ini sudah tidak terlalu mengharu biru seperti kemarin. Kali ini dia sudah bisa lebih tenang.


Kei, pagi tadi dia sudah pergi mengurus perceraian juga sekaligus pelepasan saham miliknya. Kei mengambil langkah menjual saham miliknya. Iya, semua langkah itu ia ambil untuk mendapatkan ketenangan hidup.


Bila dahulu dia berambisi untuk menjaga dan mempertahankan hartanya, kali ini dia tidak lagi dengan misi yang sama. Banyak nasihat dari nenek Fuji yang singgah dan mengisi pemikirannya. Kini tujuannya hanyalah mencari ketenangan dengan keluarga kecilnya.


Nenek Fuji memberikan contoh dirinya sendiri kepada Kei. Waktu itu ....


"Kei, kamu sudah berada pada titik ini. Dulu, nenek sudah pernah mengingatkanmu supaya tidak terlalu berambisi untuk urusan harta. Pikirkan juga nanti masa tua dan juga ketenanganmu. Rasa tenang itu sederhana Kei, tapi mahal bagi mereka yang tinggi rasa gengsinya," kata nenek Fuji.


"Apa yang tidak membuatmu yakin Kei? Dia yang berbaring ini juga belum bisa membuatmu merasa yakin? Dia wanita yang tepat untukmu Kei, wanita yang akan menjagamu saat kamu tua nanti. Lihat nenek ini yang dulu semasa muda terlalu sibuk bekerja hingga merasa hanya cukup dengan satu anak."


"Sekarang ini nenek sadar, menjadi tua dan kesepian itu tidak enak Kei. apa kamu mau seperti nenek juga?" tanya nenek Fuji.


"Kamu masih punya waktu untuk membenahi semua ini. Relakan saja apa yang membuatmu tidak tenang," ucap nenek Fuji menasehati. Ia lalu pergi meninggalkan cucunya yang terdiam memikirkan nasihatnya.


"Apa yang nenek katakan memang benar. Aku tidak mau kesepian sampai tua. Sedari kecil aku sendirian, apa iya sampai tua hingga meninggal nanti aku kesepian?" pikir Kei.


...----------------...


Kei baru saja kembali dari pengadilan agama. Sejumlah pertanyaan dari pengacara dan penasihat hukum membuatnya pusing. Mereka tetap saja mengikuti prosedur yang berlaku. Mereka menyarankan untuk adanya mediasi.


"Kalau begini lebih baik aku tidak datang dan terima beres. Cukup datang nanti di saat sidang pembagian harta gono-gini saja," kata Kei pelan sembari memasuki rumah.

__ADS_1


"Nek, lagi apa?" tanya Kei saat bertemu snag nenek yang sedang membaca buku dengan kaca mata bacanya.


"Lagi baca buku, biar tidak kaku otaknya. Bagaimana hasil pertemuan tadi?" tanya Nenek Fuji.


"Mereka meminta mediasi. Nek, entah mengapa tadi tiba-tiba saja aku merasakan kasihan pada Salma. 4 tahun kita bersama dan tidak selalunya dia bersikap buruk. Apa aku sudah keterlaluan karena berniat memenjarakan dia?" tanya Kei yang meminta pendapat sang nenek atas hatinya yang bimbang.


"Apa kamu ragu untuk berpisah dengannya? Harus seperti apa lagi cara Tuhan membuka mata hatimu? Dia bukanlah wanita yang baik Kei, Salma bukan wanita yang baik," ucap nenek Fuji penuh penekanan.


"Oh, sudahlah. Aku malas berdebat denganmu. Sebaiknya aku pergi saja. Temui saja Neta di taman belakang. Dari siang dia juga belum makan. Aku perhatikan dia semakin kurus saja." Nenek Fuji beringsut dan pergi dengan kursi rodanya.


Kei terdiam. Perlahan dia mulai menuju ke taman belakang. Ia melihat Neta sedang mengusap lembut tanah kuburan kecil dan menata beberapa bunga di atasnya.


"Dia sangat menyayangi anaknya. Hatinya begitu baik, tapi mengapa malah dipertemukan dengan kami yang jahat seperti ini. Tuhan, rencana apa yang sedang Engkau siapkan?" batin hati Kei dalam keharuan.


"Ta, dari tadi kamu di situ?" tanya Kei sembari berjalan mendekat.


Neta menoleh dan tersenyum manis. Tidak banyak bicara, hanya saja dia langsung meraih tangan Kei dan menciumnya. Hal seperti ini yang sama sekali tidak pernah ia dapatkan dari Salma.


"Sudah pulang? Pasti lelah ya? Ayo kita masuk!" ajak Neta sembari tersenyum pias. Dia sedang menyembunyikan kesedihannya.


"Sebentar, aku juga ingin menyapa anak kita," kata Kei yang kemudian berjongkok setelah sebelumnya ia tersenyum dan memeluk sekejap tubuh Neta.


"Sayang, Papa pulang. Makasih ya, kamu udah jaga Mama, baik-baik di sana ya Sayang. Semoga kita bisa berkumpul bersama suatu saat nanti," kata Kei yang membuat Neta perlahan mendekat lalu mengusap punggungnya.


"Sudah, ayo kita masuk." Neta menarik tangan Kei perlahan.


"Bagaimana tadi, apa semuanya baik? lancar? Apa kamu ketemu sama Kak Salma?" tanya Neta yang tetap dengan sopan memanggil Salma dengan sebutan Kak.


"Dia tetap bersikap sopan meski yang dia bicarakan adalah wanita yang sudah membuat anak kami tiada. Dia bahkan sama sekali tidak menaruh dendam. Aku jadi semakin yakin kalau apa yang nenek katakan itu benar adanya. Iya, kamu adalah wanita yang tepat."

__ADS_1


__ADS_2