
Seharian Kei habiskan untuk mengawasi jalannya perombakan kamar yang digunakan untuk menyambut kelahiran buah hatinya 8 bulan lagi. Neta sama sekali tidak menegurnya lagi setelah tadi nenek Fuji yang sempat mengingatkan pun terkena sembur dari Kei. Awalnya nenek Fuji hanya mengingatkan supaya nanti saja merapikan kamar tersebut, akan tetapi gagasan nenek fujiri tolak mentah-mentah oleh cucu semata wayangnya.
"Ah, capeknya aku ...." Kei mengeluh. Dia berbaring di atas pangkuan sang istri yang tengah asyik memainkan ponselnya.
"Capek?" Neta bertanya sembari mengusap dengan lembut rambut sang suami. Sesekali dia juga memainkan kening suaminya dengan memijit-mijitnya pelan.
"Iya kalau kamu merasa capek, istirahat Sayang. Berhenti, jangan terlalu sibuk mengurusi kamar itu. Lagian juga aku baru mulai hamil dan masih sangat lama untuk melahirkan. Masih 8 bulan lagi, persiapanmu ini terlalu dini," ujar Neta yang berusaha untuk membuka omongan dari hal persiapan kelahiran calon bayi mereka yang ia nilai terlalu cepat untuk saat ini.
"Apanya yang terlalu dini? Aku sudah sangat lama menunggu untuk mempunyai momongan. Bisa-bisanya kamu bilang ini semua terlalu cepat aku persiapkan. dulu kamar itu juga sudah pernah aku isi dengan barang-barang bayi, tapi saat Salma mengatakan bahwa dia tidak ingin punya anak untuk sementara aku merasa kecewa dan patah hati. jadi barang-barang itu ku keluarkan dan ku bagi-bagikan begitu saja kepada semua orang. dan sekarang aku sudah benar-benar mempunyai calon anakku sendiri jadi apa salahnya aku mempersiapkan semuanya dari sekarang?"
Di saat Kei mengutarakan isi hatinya yang selama ini menusuk begitu dalam, di saat itu jugalah perlahan Neta bisa merasakan bagaimana tulus dan besar kasih laki-laki yang berada di pangkuannya itu kepada calon buah hati mereka yang memang sudah sedari lama sangat ia dambakan kehadirannya. Di setiap saat mereka bersama tidak ada yang terjadi kecuali suatu perasaan hangat dan bahagia. semua ini jelas jauh berbeda ketika Kei masih bersanding dengan Salma.
"Iya sudah kalau begitu hias saja sesukamu aku hanya mendukungmu saja," kata Neta yang memasrahkan semuanya kepada sang suami.
"Iya memang seharusnya hanya aku saja yang mempersiapkan ini semua. Aku tidak mau kamu kelelahan karena aku juga tahu bagaimana dokter memberikanmu banyak nasihat setelah keguguran kemarin." key dengan perlahan dan penuh perasaan mengusap lembut perut sang istri bahkan dia juga berkali-kali mendaratkan ciuman sayang di sana.
__ADS_1
"Dia tidak berbohong dengan ucapannya. Dia memang sangat menyayangi calon buah hatinya ini. bahkan aku saja sampai tidak boleh melakukan ini dan itu. aku merasa sudah seperti wanita tua yang tidak berdaya." Neta hanya berani mengeluh di dalam hatinya.
Sikap posesif dari suaminya belakangan ini membuatnya tidak berani mengajukan protes sama sekali. Alih-alih mengajukan protes dia lebih baik diam dan menjaga ketenangan dan kedamaian. pasalnya key memanglah cucu yang penurut Akan tetapi jika sudah bersangkutan dengan urusan calon buah hatinya maka dia akan berubah menjadi tegas dan sangat posesif.
"Ah ... sudah aku merasa sudah jauh lebih segar sekarang ini." Kei langsung duduk iya memeluk sekilas sang istri dan mendaratkan ciuman di pipi lalu pergi begitu saja meninggalkannya tanpa menunggu Neta membalas dengan kata-kata.
Tidak ada yang bisa Neta katakan selain ucapan syukur dan penuh rasa kebahagiaan.
...----------------...
Sementara dari atas balkon Kei yang melihat adiknya itu tengah berada di bawah dan mendongak ke atas menatapnya, dia malah secara sengaja mempererat pelukan dan memberikan kecupan di pipi sang istri. Kei juga menyorotkan pandangan mata mengejek kepada Kenny. Sontak saja dari taman bawah Kenny mengepalkan tangannya dan mengacungkannya ke udara.
"Kamu kenapa jadi aneh begini tiba-tiba memelukku dan tidak mau melepaskanku? tolonglah lepaskan aku aku sudah merasa kebelet pipis," pinta Neta dengan menoleh ke belakang dan melirik wajah sang suami yang justru tersenyum jahil.
"Oh mau pipis ya ya sudah sana aku masih ingin di sini menikmati suasana pagi sebelum nanti para pekerja datang lagi. Oh ya apa kamu mau pergi ke butik hari ini kalau mau aku akan mengantarmu," kata Kei yang terdengar aneh bagi Neta padahal semula yang melarang dirinya untuk melakukan apa-apa adalah suaminya ini.
__ADS_1
"Benar? Apa aku sudah boleh pergi ke butik? Wilda tadi mengirimkan pesan. Ada customer yang datang dan ingin memesan banyak baju untuk dijadikan Bridesmaids," kata Neta dengan binar kebahagiaan yang memenuhi sorot matanya dia bahkan nyaris bertepuk tangan dan berjingkat di hadapan sang suami.
Kei mengangguk sambil tersenyum. "Iya benar kamu boleh ke butik dan aku pun akan pergi mengurus Villa dan juga beberapa hal lainnya di luar jadi mungkin aku akan pulang malam dan kamu pun boleh pulang sampai malam tapi ...."
"Tapi apa sayang apa masih ada syarat lain yang akan kamu perlakukan untukku?" Neta bertanya-tanya.
"Tentu ada syarat yang akan aku berikan demi kebaikan kalian berdua." Kei menatap serius sang istri.
"Yang pertama mulai hari ini, aku sudah mencari seorang suster untuk menjagamu sampai nanti anak kita lahir, dan membantumu untuk merawat anak kita. yang kedua aku juga sudah mencari seorang sopir dan membelikan sebuah mobil baru khusus untuk mengantarmu pergi ke mana saja. yang ketiga aku menugaskan seorang asisten untuk membantumu membawa barang-barangmu," kata Kei yang membuat rahang netanya ris terjatuh lantaran ternganga.
"Sayang, aku ini bukan artis papan atas. Aku hanya orang biasa dan menurutku itu semua sangat berlebihan. Kondisi fisikku baik-baik saja, aku sudah cukup istirahat dan cukup makan. Aku pun cukup kuat untuk melakukan segala aktivitasku sendiri, tanpa bantuan orang lain." Neta menolak semua kebijakan yang suaminya berikan karena baginya itu semua sangatlah berlebihan dan tidak sepatutnya dia dapatkan.
"Apanya yang berlebihan tidak ada yang berlebihan bagiku karena aku tulus menyayangi kalian semua dan hanya menginginkan yang terbaik untuk kalian berdua. Kalau kamu mau pergi dan bisa leluasa bertemu dengan teman-temanmu yang lain maka terimalah semua yang aku berikan tadi. suster sopir dan asisten pribadi sudah hanya 3 orang saja tidak 1 RT Neta!" tegas Kei berbicara dan penuh dengan penekanan di akhir kalimatnya yang membuat Neta hanya bisa menunduk dan pasrah akan segala sesuatunya.
"Ah aku merasa seperti anak kecil yang sedang diawasi ketat oleh orang tuanya," cibir Neta dalam hatinya. tentu saja dia hanya berani mengutarakan semua itu dalam hati dan tidak berani mengucapkannya dari mulut karena dia tidak mau ada keributan yang terjadi hanya karena dia menolak bentuk perhatian dari sang suami.
__ADS_1