Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
55. Kebenaran Tentang Neta


__ADS_3





"Apa jadwal hari ini?" tanya Neta kepada Kei yang sedang berada di dalam pelukannya.


Mereka berdua masih berada di atas ranjang setelah bangun pagi. Tidak langsung melakukan kegiatan, Ke-i justru bermanja-manja terlebih dahulu dengan meminta supaya Neta mengusap kepalanya. Hal seperti ini yang tidak pernah ia dapatkan dari pernikahan sebelumnya.


"Em, jadwalnya yaitu aku harus menemui notaris untuk mendengarkan pembacaan warisan itu. Sebenarnya kamu juga harus ikut untuk mengurus sertifikat tanah yang diberikan oleh nenek semalam. Tapi, aku rasa besok saja bisa kalau Keni sudah pergi."


"Kenapa harus menunggu sampai Keni pergi? Ada apa memangnya?" tanya Neta dengan begitu polosnya. Tangannya sama sekali tidak berhenti bergerak mengusap lembut rambut sang suami.


"Karena aku tidak mau kamu dan dia berinteraksi cukup lama nantinya. Ah, kalau saja aku boleh mengusirnya," gumam Kei yang kemudian mendapatkan tepukan di punggungnya.


"Jangan jahat begitu, dia juga saudaramu walaupun hanya saudara tiri. Ingat apa yang aku katakan semalam? Bukan aku menggurui, tapi bukannya damai itu lebih baik?" tanya Neta yang seolah mengingatkan.


Kei tidak menjawabnya, dia hanya menghela napasnya dan lalu mencium pundak Neta. Sebenarnya sosok Ke-i hanyalah sosok lelaki dingin yang butuh kehangatan dan perhatian. Sedikit memanjakan akan membuatnya merasa begitu di prioritaskan.


"Usap saja terus, aku suka begini Ta," gumam Kei pelan namun begitu jelas di telinga Neta.


"Kamu suka? Aku juga. Memanjakan suami itu besar pahalanya. Ayah dulu pernah bilang seperti itu," kata Neta sembari tersenyum pias.

__ADS_1


"Aku harus berterima kasih kepada ayahmu yang sudah mendidik wanita sepertimu ini. Hem ... Kalau keadaanmu sudah membaik bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Jogja? Aku merasa kita butuh jalan-jalan untuk meningkatkan kualitas hubungan kita dan melupakan soal masalah kemarin. Media sudah tidak ramai lagi menuliskan soal itu." Kei berusaha membujuk Neta.


Kei melaju pergi, membelah jalanan kota dengan mobil hitamnya. Dia sama sekali tidak memikirkan bila saudara tirinya, Keni masih berada di rumah saat ini. Ia kira Keni sudah pergi menemui notaris terlebih dahulu bersama nenek Yuki. Akan tetapi, pria yang terkenal playboy itu masih berada di rumah.


Sementara itu, Neta yang mengira bahwa keadaan rumah sudah sepi pun menuju ke taman belakang. Ia menyapa anak sulungnya yang tertanam di tanah. Janin yang tidak tahu apa-apa yang pada akhirnya menjadi korban dari pertengkaran orang dewasa.


Keni, yang masih berada di dalam kamarnya terdiam mengamati Neta yang membersihkan dan mengusap gundukan tanah kecil yang ada di sana. Ia tidak tahu akan apa yang berada di bawah tanah itu. Rasa penasaran menuntunnya untuk turun dan mencari tahu tentang apa yang ada di sana.


"Kakak ipar, aku kira kamu pergi bersama dengan suamimu," cetus Keni yang tanpa permisi tiba-tiba berjongkok dan mengamati nama yang tertulis di batu nisan.


"Oh, ini makam keponakanku? Benarkah? Anak denganmu atau dengan kak Salma?" tanya Keni dengan nada mengejek.


Jelas sekali lelaki berparas tampan itu mengejek Neta. Tatapannya mengatakan bila ia menilai rendah sosok Neta. Semalaman ia membaca artikel tentang gosip yang menyeret nama Neta di dalamnya.


"Oh, ini kabar besar rupanya. Hanya kabar ini yang tidak aku temukan di internet. Rapi sekali kalian menutupinya. Hemh ... Jadi ini keponakanku?" ucap Keni dengan menatap nisan kecil itu.


"Silahkan kalau mau menghinaku. Aku tidak peduli, tapi jangan menghina anakku. Permisi," pungkas Neta yang segera berdiri dan ingin mengakhiri sesi perbincangan menyakitkan hati tersebut.


Keni menatap Neta seolah Neta adalah mainan yang menarik baginya. Dengan lancang tangannya itu kemudian menarik pergelangan tangan Neta hingga membuat Neta terjerembab dan jatuh ke dalam pelukannya. Keni memeluknya dengan begitu erat, mengunci pergerakan Neta hingga tangannya tak mampu bergerak.


"Ken! Lepaskan! Apa yang kamu lakukan ini? Ini tidak sopan!" pekik Neta dengan berusaha melepaskan diri namun sia-sia. Tatapannya nyalang menghunus Keji yang justru tersenyum miring kepadanya.


"Sopan? Apa aku harus berlaku sopan kepada wanita yang suka mengganggu rumah tangga orang lain dan menghasilkan anak haram?" hina Keni kepada Neta.


Neta yang mendengar hinaan itu, yang tidak bisa melakukan apa-apa pun hanya diam dengan kedua tangannya yang mengepal. Ia menyimpan kemarahan namun tidak bisa melakukan apa-apa. Tatapan marah ia arahkan untuk Keni dengan matanya yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Neta menarik napasnya, dan menghembuskan perlahan. Dia seolah sedang melepaskan beban berat yang ada. Meskipun saat ini ingin sekali dia berkata-kata kasar, namun dia tidak melakukannya.


"Keni, aku hormati dan hargai kamu sebagai saudara dari suamiku. Apa yang kamu lakukan ini bukanlah sesuatu yang benar. Aku tidak akan berusaha untuk membuatmu memihakku karena itu tidak berguna bagiku. Tapi setidaknya, kamu harus mencari tahu cerita yang sebenarnya supaya kamu tidak menjadi badut di hadapanku. Lepaskan aku sekarang! Ada hati yang harus aku jaga. Jika kamu tidak bisa menghormatiku, setidaknya kamu harus menghormati suamiku yang merupakan kakakmu!" kata Neta penuh dengan ketegasan.


"Apa ini, dia sangat elegan bahkan di saat marah. Aku tahu dia marah dan mungkin bisa berkata-kata kasar. Mencaciku atau memakiku. Tapi dia mengatakan kemarahannya dengan begitu beretika namun tajam menusukku. Dia pandai dan sopan. Lalu apa, ada yang aku lewatkan dari berita-berita itu? Kenapa dia bicara seperti ini?" pikir Keji yang kemudian perlahan tangannya mengendur dan melepaskan pelukan tersebut.


Neta pergi sembari mengusap air matanya dan dia tidak berkata apa-apa lagi. Bukannya masuk ke dalam kamarnya, Neta justru pergi ke luar. Ia menuju ke butik lamanya. Ia ingin melepaskan penat dengan menemui Dara dan Reza.


"Aku, sekeras apapun aku mencoba menjelaskan kepada Dunia bahwa aku bukan Pelakornya, tapi Dunia sudah menempelkan predikat itu seolah aku ini adalah benar-benar pelakornya. Hemh ... Bahkan anggota keluarganya saja menilaiku rendah seperti itu. Aku tahu ini tidak akan berakhir dengan mudah," batin Neta yang kemudian pergi meninggalkan rumah besar.


Keni yang ingin menyusul Neta dan mengganggunya lagi pun harus mengurungkan niatnya ketika ia bertemu dengan nenek Fuji dan suster Dini. Mereka bertiga berhenti di ruang tamu tepat sebelum menuju ke pintu keluar. Nenek Fuji menatap tajam Keni.


"Keni, apa yang kamu lakukan kepada istri kakakmu itu sudah kelewatan!" tegur Nenek Fuji.


"Kelewatan? Oh ... Bukankah dia itu Pelakor? Bukannya Pelakor itu sangat senang bila digoda? Apa salahnya aku yang menyenangkan istri kakakku?" jawab Keni yang begitu menguras emosi.


"Suster Dini, jelaskan semuanya kepada Keji supaya dia bisa menjaga mulutnya ketika bicara," kata nenek Fuji kepada suster Dini.


"Baik Nek," jawab Suster Dini yang kemudian menjelaskan semuanya.


"Jadi dia sama sekali tidak tahu bila dia dijual ibunya?" tanya Keni.


"Tidak, dia hanya korban di sini. Saya harap Anda lebih bisa menghargai privasi dari tuan Keni. Saya harap Anda tidak mengusik nona Neta lagi. Beliau sama sekali bukan seperti apa yang anda bayangkan atau seperti apa yang ada di dalam berita," pungkas suster Dini.


"Jadi aku sudah salah mengeksekusi? Pantas saja tadi dari caranya bicara dan sikapnya sama sekali tidak menunjukkan kalau dia ini wanita gatal. Ah, aku merasa terhina bila begini." Keni membatin.

__ADS_1


__ADS_2