Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
39. Cerai


__ADS_3

Apa yang terjadi hari itu sebenarnya telah meninggalkan banyak luka bagi Neta. Hari di mana Salma datang menyerangnya merupakan hari di mana kenyataan pahit datang menghampiri. Di hari itu dia terbukti menjadi perebut suami orang.


Di hari itu, dia menyadari bahwa ibunya selama ini tidak benar-benar tulus menyayangi. Di hari itu dia sadar bahwa semua orang yang dia percayai telah menipunya. Meski 3 bulan sudah berlalu, namun luka itu masih membekas dengan jelas di dalam hatinya.


Hingga detik ini, 3 bulan dari kejadian kelam itu, dia dan Kei masih saja berpisah ranjang. Hari ini Kei memberanikan dirinya untuk membahas mengenai kelanjutan hubungan mereka. Kei sejujurnya sudah cukup bersabar dengan memberikan kelonggaran pada sang istri.


Akan tetapi, sepanjang apa pun waktu yang ia berikan, selalu saja kurang bagi Neta. Dia merasa sangat diabaikan. Perlakuan Neta menjadi berbeda dengan sebelumnya.


Pagi ini, Neta masih menggambar pola desain baju langganannya. Semua alat berupa buku dan juga monitor tertata rapi di dalam kamarnya. Kamar itu nampak seperti ruang kerja dengan pencahayaan minim.


"Ta," panggil Kei pelan ketika ia memasuki kamar istrinya sepulang dari kantor barunya, sebuah perusahaan kecil yang bergerak pada produksi pengolahan kelapa.


"Hem, sudah pulang?" sahut Neta sekedarnya tanpa menolehkan kepalanya. Dia terus saja menggambar.


Srek ....


Kei membuka tirai kamar mereka. Kamar tidur yang seharusnya ditempati oleh mereka berdua namun beberapa bulan ini hanya ditempati oleh Neta saja. Kamar yang remang itu seketika menjadi terang. Akan tetapi ....


"Kei, susah aku bilang jangan dibuka semua tirainya, sedikit saja," pinta Neta dengan tatapan matanya yang cekung.


Kei mendekat lalu tiba-tiba duduk di atas pangkuan istrinya. Tangannya Nia lingkarkan di leher sang istri dengan posesif. Ia seperti anak kecil yang merindukan sentuhan ibunya.


"Aku kangen, kamu enggak kangen aku Ta? 3 bulan kita tidak pernah berpelukan. Lihatlah, tubuhmu ini semakin kurus saja. Siang ini kamu tidak makan lagi?" tanya Kei dengan suaranya yang terdengar sendu.


"Kei, kamu berat," sanggah Neta. "Turun ya, kita duduk di ranjang saja. Ada apa kamu tiba-tiba seperti ini?" tanya Neta.

__ADS_1


"Aku udah bilang 'kan? Aku kangen, aku kangen sama kamu Ta. Mau sampai kapan kamu begini hanya demi menghindari mereka yang menghinamu?" tanya Kei dengan tatapan matanya yang sendu. Ia menatap iba sosok wanita kurus dengan pipi tirus di hadapannya.


"Sampai aku bisa melupakan kejadian itu, kejadian di mana semua orang menipuku termasuk kamu." Neta menjawabnya dengan tatapan matanya yang dingin dan tidak berekespresi sama sekali.


"Tatapannya, tatapan yang membuatku merasa takut dan juga bersalah. Iya, aku yang berperan besar dalam semua ini. Sudah sepantasnya dia membenciku, sudah seharusnya memang dia marah padaku. Tidak pergi dan lari dariku saja itu sudah jauh lebih baik," kata Kei dalam hatinya.


"Okey, aku akui aku salah. Tapi mau sampai kapan kamu begini Neta? Kamu sudah seperti mayat hidup yang hanya tahu menggambar saja. Kamu hanya tahu warna pakaian saja tanpa memedulikan aku!" pekik Kei.


"Peduli? Peduli katamu Kei? Hei, sadarlah. Sewaktu kamu melakukan semua itu, menikahiku secara pura-pura lalu menyetubuhiku dengan rencana jahat semata-mata untuk mengambil anak kita dan menceraikanku apa ada rasa pedulimu? Ada Kei?" bentak Neta yang sudah tidak tahan lagi dengan semua masalah mental yang ia hadapi.


"Iya dulu aku sempat berpikir untuk bertahan denganmu. Tapi nyatanya, semua itu justru semakin merusak mentalku. Aku hampir gila karena semua masalah ini Kei!" pekik Neta dengan air matanya yang berlinangan.


"Kenapa? Kenapa kamu datang menemuiku bila hanya ingin bertengkar seperti ini? Pergilah Kei, pergilah! Aku hanya ingin membuktikan kepada semua bahwa aku ini bukan pelakor! Aku wanita baik-baik! Aku bukan pelakor!" teriak Neta sambil menangis dan menjambak rambutnya sendiri.


"Ta! Sadarlah, semua itu sudah berlalu! Jangan membesarkan masalah. Kita mulai semuanya dari awal," bujuk Kei.


Mendengar pertengkaran tersebut, Nindy si orang kepercayaan yang ditugaskan untuk menjaga Neta pun datang melerai. Dia segera membawa Kei keluar dan meninggalkan Neta di dalam kamarnya. Seketika suasana menjadi hening dan hanya terdengar satu isakan.


"Ndy, apa dia baik-baik saja?" tanya Kei terheran. "Mengapa dia sangat kasar seperti itu?"


"Pak, beberapa hari yang lalu sebenarnya adalah hari terburuk bagi istri bapak. Ibu Neta mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena dia tidak kuat dengan hinaan para pengguna sosial media. Nenek Fuji datang hari itu setelah saya hubungi dengan membawa psikiater. Ibu Neta dinyatakan depresi dan butuh waktu lama untuk sembuh," terang Nindy.


Tubuh Kei seketika menjadi lemas setelah mendengarkan penuturan orang kepercayaannya itu. Kei terduduk sambil mer*mas rambutnya. wajahnya berubah sedih.


"Tadi kalau Bapak perhatikan lagi, masih ada bekas tali di leher ibu. Beliau hampir saja kehilangan nyawanya bila saya tidak datang tepat waktu. Oh iya, sebelumnya saya ada rekamannya. Saya tidak mau dituduh sebagai tersangka bila terjadi apa-apa dengan ibu. Karena itu, sebelum masuk saya menyalakan rekaman video dan saya menemukan ibu menggantung di dekat jendela," tutur Nindy.

__ADS_1


Kei melihat video tersebut dan ia menitikkan air matanya. Dia begitu sedih saat melihat itu. Bagi wanita baik-baik dicap sebagai perusak dan perebut milik orang lain adalah hal yang menyakitkan.


"Tidak mudah memang Pak untuk menerima kenyataan seperti apa yang Ibu Neta alami ini. Keguguran, dijual ibunya dan ditipu orang yang sangat ia cintai dan percayai, juga dicap sebagai perebut suami orang dalam sekali waktu. Ini sangat berat baginya Pak," kata Nindy.


"Kamu benar Ndy, baik demi kesembuhannya, saya akan pergi. Saya yang akan pergi menjauh. Biarkan dia di sini, supaya dia senang saya juga akan mengirimkan surat cerai untuknya. Tapi, kamu tetap di sini sampai saya memberikan perintah untuk kamu pergi. Bisa?" tanya Kei.


"Apa maksudnya Pak? Bapak mau bercerai dari Ibu? Tapi Bapak ini sangat mencintai Ibu kalau saya lihat," cetus Nindy terheran.


"Ini pengorbanan untuk rasa cintaku Ndy. Melihatnya sehat dan bahagia adalah caraku untuk mencintainya. Bila berjauhan dariku bisa mengembalikan senyumnya, lalu apa salahnya?"


"Bapak serius?" tanya Nindy yang tidak percaya begitu saja dengan keputusan yang Kei ambil.


Kei mengangguk yakin lalu kembali menatap ke pintu kamar istrinya. Dia meneteskan air mata meski tanpa suara. Tangannya bergetar saat melihat rekaman video dari Nindy.


...----------------...


"Apa dia sudah tidur?" tanya Kei pada Nindy yang baru saja keluar dari kamar Neta dengan membawa nampan obat dan air minum.


"Reaksinya 15 menit dari sekarang Pak, Bapak tunggu saja," jawab Nindy seraya berjalan pergi.


15 menit Kei menunggu dan waktu itu pun tiba. Ia masuk secara perlahan dan mendapati istrinya tertidur pulas. Ia setiap harinya Neta mengonsumsi obat tidur di malam hari, bila tidak maka dia tidak akan bisa memejamkan matanya karena pikirannya terus saja disibukkan dengan predikat buruk yang melekat padanya.


Perlahan, Kei naik ke atas ranjang. Ia memeluk erat dan mengecupnya dengan sayang. Tidak ada na*psu, yang ada hanyalah tulus kasih sayang.


"Besok, dua hari lagi. Surat cerai yang kamu inginkan akan tiba. Terlalu cepat memang, tetapi itu setidaknya bisa membuatmu bahagia. I love you," bisik Kei seraya mencium bibir istrinya.

__ADS_1


"Waktu itu memang semua kerabat dan acaranya palsu. Tapi tidak dengan penghulu dan juga ijab kabul kita. Juga, perasaanku setelahnya adalah benar-benar aku mencintaimu. Tidak ada kepalsuan di sana Sayang," gumam Kei dengan bibirnya yang berbicara di samping telinga Neta.


__ADS_2