Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
72. Sikap Posesif Calon Ayah


__ADS_3





"Jadi saat ini kita pulang saja Bu? Mas Kei sudah ada di rumah dengan mbak Neta," tanya suster Dini kepada nenek Fuji yang tengah duduk santai mengamati pemandangan luar jendela.


"Iya segera kita menuju ke rumah besar saja aku sangat yakin saat ini mereka sudah berada di sana. Aku mendengar laporan dari para pelayan yang ada di rumah bahwa Kei baru saja memborong banyak peralatan bayi dan dia tengah mendekorasi satu kamar kosong."


"Apa itu artinya mas Kei dan Mbak Neta berhasil mempunyai keturunan?" Suster dini bertanya dengan wajahnya yang terlihat gembira dan begitu antusias menyambut kabar baik tersebut.


"Iya Sus, kamu benar Neta saat ini sedang hamil dan sebentar lagi aku akan menimang cicit," sambung nenek puji dengan perasaan bahagianya di mana apa yang sudah iya idam-idamkan sedari lama kini akhirnya terkabul juga.


"Tidak menyangka ya nek padahal mbak Neta mengalami luka yang lumayan parah karena perbuatan Mbak Salma. Tapi Tuhan seperti berbicara lain akan ada sesuatu yang baik menghampiri orang baik dan Mbak Nita membuktikan itu." Suster dini mempunyai opini tersendiri tentang setiap kebaikan yang Neta berikan.


Nenek Fuji mengangguk sambil tersenyum. "Iya aku tidak salah mengenal dan menilainya sejak awal kami bertemu aku sudah bisa merasakan semua kebaikan gadis itu. Hanya saja cucuku yang salah dalam memposisikan gadis itu sebagai perebut laki orang (Pelakor). Andai saja key bisa lebih tegas dan tidak mengorbankan Neta dalam keadaan ini mungkin semuanya tidak akan jadi rumit seperti ini."


"Aku bisa merasakan seperti apa bingung dan pusingnya Neta dalam menghadapi hinaan para warganet. Mereka semua menilai bahwa Neta adalah seorang jalan yang merebut suami orang. Padahal pada kenyataannya justru Kei yang menjadi dalang dibalik semua ini dia yang membuatnya tak menjadi pelaku atas sesuatu yang sama sekali tidak ia mengerti," kata nenek Fuji.

__ADS_1


"Tapi aku sangat bersyukur karena Neta bukanlah Salma dia tidak mendendam dan tidak membalas keburukan dengan keburukan." Nenek puji tersenyum setiap kali membicarakan tentang kebaikan hati seorang Aneta Azri.


---**---


Sementara itu di rumah besar kei sudah memborong banyak kebutuhan bayi dan juga beberapa barang-barang untuk mendekorasi kamar baru bagi calon buah hatinya. Para pelayan pun dibuat sibuk olehnya sementara Neta memegang sapu saja tidak boleh. Neta hanya kebingungan memandang orang berlalu larang berseliweran mengerjakan tugasnya masing-masing. Sementara dia hanya boleh duduk, makan, makan, makan, dan makan.


"Mas Kei, kalau seperti ini nanti lama-lama aku akan menjadi gajah duduk di sini. Kamu melarangku melakukan sesuatu ini dan itu semuanya tidak boleh bahkan membantu menyapu dan mengelap meja saja aku tidak boleh melakukannya. Aku juga ingin bergerak SAYANG," tutur Neta dengan begitu lembut namun menekankan kata sayang di akhir kalimat dengan maksud supaya suaminya mengerti.


"Hem!" deham Kei dengan menikmatinya yang terus saja memandang contoh desain kamar yang nantinya akan ia jadikan sebagai kamar calon buah hatinya dia sedang fokus dan serius saat ini.


"Iya memang kamu hanya harus duduk, makan, makan, makan, dan makan. Apa kamu lupa apa yang tadi dokter kandungan katakan? Dokter bilang kamu harus memperhatikan jam istirahat untuk memulihkan tenagamu dan juga memperhatikan asupan makanan supaya gizi dari janin kita juga ikut bagus," kata Ke-i dengan santainya.


"Iya tapi bukan berarti aku jadi tidak boleh melakukan apa-apa seperti ini suamiku, aku ini sehat-sehat saja dan baik-baik saja mengapa kamu melarangku melakukan ini dan itu?" Tanya Neta yang sudah dengan perasaan gemas andai saja mencubit dan menggigit suaminya itu merupakan hal yang biasa dilakukan oleh para istri terhadap suaminya sudah pasti dia akan menggigit leher Kei saat ini karena saking gemasnya.


Pembantu itu lalu duduk bersimpuh di lantai dan langsung saja memijat kaki majikan wanitanya. Mendapatkan perlakuan itu netason tak saja menarik kakinya dia tidak terbiasa dengan hal seperti itu. Terlebih bukan dia sendiri yang meminta untuk dipijit.


"Bik Inah apa-apaan?" tanya nih tas sembari menari kakinya dan menatap bingung pembantunya itu. Dia tidak enak hati lantaran usia pembantunya jauh berada di atasnya dan malah duduk bersimpuh sambil memijat kakinya.


"Sudahlah sayang nikmati saja aku yang menyuruhnya tadi," kata Kei yang lagi-lagi tanpa melihat wajah sang istri.


Sementara saat sepasang suami istri itu tengah berdebat kecil tentang perlakuan yang berlebihan, Kenny turun dari tangga setelah ia tidur setengah hari lantaran berada di bawah pengaruh obat. Pria yang mengalami luka di tangan dan kaki juga kepalanya itu pun kemudian duduk dengan asal-asalan ia menghempaskan bokongnya begitu saja di sofa tepat di samping istri dari tuan posesif.

__ADS_1


Apa yang kini lakukan itu tentunya menyita perhatian Kei yang dengan serta merta menutup majalah, lalu menggulungnya, dan memukulnya tepat di kening sang adik. "Apa-apaan kamu duduk di situ? Pindah sana! Sofa di rumah ini sangat banyak, kenapa kamu duduk di dekat istriku!"


"Astaga ...!" Kenny menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya duduk di sampingnya bukan menidurinya, kamu ini berlebihan sekali Kei. Cek! Lagian istrimu ini bukan manusia tercantik di alam semesta ini," cibir Kenny.


Kei sontak saja memukuli lagi tubuh adiknya itu dengan gulungan majalah. "Apa? Apa katamu? Kurang ajar sekali memang kamu ini. Tahu begini aku tinggalkan kamu di hutan Pinus."


"Sudah ... Apa-apaan sih kalian ini setiap bertemu langsung bertengkar? Aku, aku saja yang pindah duduknya. Ribut saja sukanya," ketus Neta dengan melirik tajam keduanya dan dia pindah di sisi sofa yang sangat jauh dari keduanya.


"Benar Ibu, sebaiknya menjauh saja dari mereka ini. Dari dulu suka sekali bertengkar," kata Bik Inah dengan menenteng kembali anggur yang tadi ia cuci.


"Iya Bik, biar puas mereka gelut. Udah aku duduk sini. Sana kalian kalau mau gelut!" tukas Neta yang seolah tidak mau memerhatikan suaminya lagi.


Kei langsung mendekat dan mepet duduknya di samping sang istri. "Sayang, kok kamu gitu?"


"Iya ginilah, terserah mau ngapain kalian yang penting aku makan. Katamu tadi aku hanya boleh makan, makan, dan makan. Iya kan?" Neta seolah membalikkan perkataan suaminya.


"Iya, ibu benar. Makan aja Bu, saya pijitin kakinya." Bik Inah membenarkan apa yang Neta pilih.


"Ah! Gara-gara kamu ini Ken. Kamu itu selalu merusak acara orang saja."

__ADS_1


"Kamu saja yang terlalu prosesif," ledek Kenny dengan ekspresi wajahnya yang menyebalkan di mata Kei.


__ADS_2