Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
64. Kenny Sebenarnya Baik


__ADS_3

Selama acara memanggang berlangsung, selama itu pula Kenny cekatan membantu kakak iparnya. Dia begitu antusias meski tidak ada pasangan di sisinya. Kenny adalah sosok yang ceria dan bukan kaku seperti Kei. Dia bisa membaur di mana pun berada.


"Kamu enggak capek dari tadi bekerja seperti itu? Aku lihat kamu cekatan juga Ken?" ucap Neta sembari merapikan piring dan gelas usai mencucinya di dapur villa.


"Enggak, aku senang bisa bekerja dan membantumu kakak ipar yang cantik. Kalau kakak iparku jelek, aku mungkin tidak mau melakukan hal seperti ini," jawab Kenny dengan senyuman jahilnya.


"Hahaha! Benar kata kakak mu ya, kamu itu suka menggoda wanita. Tapi untungnya, aku ini bukan wanita yang suka pujian." Neta berbicara sambil tertawa kecil. Baginya pujian Kenny bukan apa-apa. Sebab Neta sendiri adalah orang yang tidak haus pujian. Dia lebih suka dengan sikap sederhana dan seadanya dan bukan pujian yang kebanyakan melebih-lebihkan.


"Ternyata Kei masih juga mengamati sikapku. Aku pikir setelah kita bertahun-tahun tidak pernah bertemu, dia sudah tidak memerhatikan aku lagi. Bagaimana pun juga aku harus tetap berada pada misiku, merebut apa yang dia miliki sama seperti nenek yang terus berada pada misinya merebut apa pun dari nenek Fuji." batin Kenny dengan pemikiran jahatnya.


"Sudah selesai?" tanya seseorang secara tiba-tiba sembari meraih pinggang Neta. Siapa lagi jika bukan Kei.


Neta tersenyum, senyuman yang begitu manis dan sederhana yang selalu mampu menggetarkan hati Kei. Kei menatapnya lalu mengusap pipi sang istri yang sedikit chubby. Ia selalu merasa gemas dengan kedua pipi manis tersebut.


"Senyuman manis ini selalu dia suguhkan. Tidak seperti Salma yang hanya bisa menyuguhkan sikap manis di atas ranjang. Selebihnya dia masam, apa lagi bila sudah sibuk bekerja. Oh, kenapa aku selalu saja mengingat masa-masa kami bersama? Namun bukan masa yang indah yang tersisa, melainkan masa menyedihkan sepanjang sejarah hidupku," batin Kei.


"Udah, em kalian mau cake? Tadi Dara yang membelinya, sekarang aku mau memotongnya. Mau?"


"Mau! Aku mau, di mana piringnya? Aku bantu ambil ya Kak Ta," sambar Kenny dengan matanya yang membulat antusias.

__ADS_1


Melihat sikap Kenny yang mudah membantu itu Neta langsung berbisik kepada suaminya. "Sayang, adikmu itu tidak sepenuhnya buruk. Aku rasa dia hanya kurang perhatian saja semasa kecilnya."


Kei menatap punggung Kenny. Ada rasa getir di sana sebab dia juga tahu, dia juga saksi bagaimana Kenny tumbuh dulu. Kenny sering dihukum dan dipaksa untuk bisa mengejar semua ketertinggalan.


Kenny kecil adalah sosok yang selalu tertindas, baik oleh ibunya sendiri atau pun neneknya. Kenny kecil tumbuh di bawah tekanan dua wanita yang super galak. Hingga dia dewasa pola seperti itu masih saja berlangsung dan sampai detik ini juga Kei tahu mengapa Kenny begitu antusias mendekatinya.


"Dia itu bersikap baik kepada kita, rajin membantumu, itu karena ada tujuannya. Kamu jangan mudah termakan sikap manisnya ya," bisik Kei penuh makna.


Neta tidak banyak bicara lagi, dia hanya menatap suaminya penuh makna. Sebenarnya ada begitu banyak hal yang ingin dia tanyakan, akan tetapi dia lebih memilih untuk mengurungkan niatnya lantaran menjaga perasaan suaminya. Gurat kecemburuan itu nampak begitu nyata di matanya.


"Iya Sayang," sahut Neta dengan lemah lembut. Ia bahkan menyempatkan untuk mengusap pipi suaminya.


"Ehem!" deham Kenny yang datang dengan membawa piring kecil. "Ini piringnya."


"Aku sudah banyak membantu dan rupanya dia lebih menyukai berada di sisi suaminya. Oh, baru kali ini ada wanita yang mengabaikan pesonaku. Hemh ... harus dengan apa aku merayunya? Oh, hadiah mahal," pikir Kenny.


Baru satu langkah kaki Kenny berbalik, Neta langsung menghentikannya. Dia memotong kue dan memberikannya kepada Kenny. "Ini, kuenya. Di makan dulu, baru boleh pergi. Kamu kan dari tadi sudah banyak membantuku. Jadi potongan pertama ini buatmu ya. Terima kasih Kenny."


Sikap manis dan ucapan lembut Neta membuat Kenny mematung. Selama ini dua wanita yang ada di dalam hidupnya hanya selalu marah dan membentak. Baik ibunya mau pun neneknya hanya terobsesi untuk menyaingi keluarga nenek Fuji. Termasuk soal pasangan, malah nenek dan ibunya selalu memintanya untuk menghancurkan rumah tangga Kei dengan berbagai macam cara.

__ADS_1


"Sikapnya begitu lembut, jauh berbeda dengan Salma yang juga galak seperti iblis. Dia ini begitu lembut dan setia. Pantas saja Kei begitu mencintainya. Aku merasa salah lapak ketika bermain di antara mereka. Kesetiaan Kei tidak diragukan lagi dan sekarang berpadu dengan kesetiaan Neta yang begitu solid. Ah, aku patah arang," keluhnya dalam hati. Ia kalah sebelum berjuang. .


"Sayang, ini punyamu. Mau di taruh di sini atau di halaman belakang bersama punya mereka?" tunjuk Neta pada Dara dan Reza yang sedang bersantai menikmati langit malam.


"Di sana saja," jawab Ke-i singkat sembari menyuguhkan senyuman manisnya.


Kenny hanya terdiam melihat keduanya berinteraksi dengan romantis dan hangat. Suatu perbincangan yang tidak memakai otot. Perbincangan yang jarang ia lihat dulu ketika Kei dan istrinya bersama.


"Lupakan saja tugasmu untuk merusak rumah tanggaku. Neta itu setia, dia tidak akan tergoda olehmu." Kei berbicara penuh dengan percaya diri.


"Belum apa-apa, ini bahkan belum berjalan," sahut Kenny yang kemudian pergi mengabaikan dan mengacuhkan Kei.


...----------------...


Hujan lebat di saat waktu menunjukkan pukul 23 malam. Guntur saling bersahutan seperti genderang perang. Neta memeluk erat tubuh suaminya, lantaran takut dengan hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi.


Tentu saja dia takut, pasalnya angin kencang sedang berhembus dan tengah berusaha untuk merobohkan beberapa pohon dan pondok kecil di villa itu. Kei berusaha untuk menenangkan sang istri, mereka berpelukan di dekat pintu depan. Bukan hanya mereka, namun Reza dan Dara juga. Semuanya berjaga-jaga bila saja ada musibah, mereka bisa berlari dengan cepat.


Kenny yang berdiri di dekat Neta itu juga terlihat waspada. Dia terlihat mengamati kencangnya angin. Di saat yang tidak terduga, angin bertambah kencang dan membuat pohon yang berdiri tegap di depan mereka tumbang dengan cepat. Hanya Kenny yang melihat itu.

__ADS_1


Efek dari tumbangnya pohon besar itu membuat beberapa tali pengait terlepas dan terpental menghantam kaca. Secara refleks, Kenny yang melihat itu pun segera melindungi Neta. Dia menghadang pecahan kaca yang berhamburan dengan tangannya.


"Awas!" teriak Kenny. "Auh ...." keluhnya saat sesuatu menancap di tangannya.


__ADS_2