Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
62. Kenny si Jahil


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Kei hanya diam. Sebaliknya, Kenny terlihat lebih ceria dan terus berbicara. Dia mengoceh sepanjang jalan dengan balasan atau tidak sama sekali.


Neta, ia merasa terjebak dalam situasi yang serba salah. Di mana setiap kali ia menjawab pertanyaan Kenny, saat itu juga suaminya akan melirik tajam kepadanya. Sungguh hal seperti ini sangat tidak mengenakan.


"Kakak ipar, itu pohon apa? Kenapa aneh begitu? Di Jepang aku tidak pernah melihatnya," tanya Kenny sembari mentoel pundak Neta yang tatapan matanya fokus menghadap jalanan dan sesekali menikmati pemandangan menuju ke villa.


"Itu sejenis pohon Dadap. Bunganya merah tapi pohonnya jika dilihat dari dekat akan menunjukkan dirinya. Pohonnya berduri," jawab Neta sebisanya.


"Oo ...." Kenny ber-o ria sambil membulatkan bibirnya.


"Kalau itu?" tunujuknya lagi pada sebuah pohon pakis besar.


"Itu jenis pakis, tapi yang besar," jawab Neta datar.


"Nah, kalau yang itu?" Kenny menunjuk lagi sebuah pohon yang berdiri di tepi jalan tepat di sebelah kanan hingga Neta menatap wajah suaminya yang masam.


Belum sempat Neta menjawab, Kei sudah menjawabnya dengan geram. "Kamu tidak bisa diam Ken? Mau aku turunkan di sini sekarang juga? Supaya puas kamu berkenalan dengan semua pohon di sini."


"Galak sekali," gumam Kenny dengan matanya yang melirik kesal.


"Kakak ipar, kamu begitu hangat dan suamimu dingin dan galak. Kenapa bisa kalian bersama? Bagaimana ceritanya seorang malaikat bertemu anak buah iblis begini?" cetus Kenny yang sengaja ingin menyindir dan mengejek Kei.


"Kenny!" bentak Kei dengan lantang, Neta seketika tergugup melihatnya.


"Sayang, jangan marah. Dia ini hanya bercanda. Sudah ya, sebentar lagi kita sampai." Neta mengusap lengan Kei yang nyaris saja bergerak ke lain tempat untuk menyerang penumpang cerewet di belakang.


"Kenny, aku minta jaga bicaramu ya. Bercanda itu ada batasnya," ucap Neta pelan dengan raut wajah yang menunjukkan betapa lembut perasaannya dan hal itu justru membuat Kenny tersenyum manis ke arahnya.

__ADS_1


"Tapi itu kejujuran, bukan candaan," ucapnya pelan nyaris tanpa suara dan hanya Neta yang bisa melihatnya.


"Oh astaga ... Dia ini memang adik yang menyebalkan yang menguras kesabaran," batin Neta.


Setelah itu hening, lantaran mereka sudah sampai Villa dan Kei segera turun begitu saja dengan menggandeng tangan istrinya berjalan masuk ke dalam villa, mengabaikan Kenny yang berada jauh dibelakang. Kei langsung masuk ke dalam kamar mereka dan tidak menuju ke kamar belakang tempat di mana Dara dan Reza berada. Sementara Kenny, dia dibiarkan terlantar begitu saja.


"Sayang, kita harusnya ke kamar belakang, ada Reza dan Dara di sana," ucap Neta sambil terus berjalan mengimbangi langkah lebar suaminya.


"Nanti. Aku itu bingung sama kamu ya, udah aku bilang jangan memberikan respon yang baik kepada anak brengsek itu. Dia itu sama seperti neneknya yang suka mengganggu kehidupan orang lain. Mereka itu parasit, kamu tahu?" ujar Kei dengan begitu menggebu-gebu dia sangat marah kali ini lantaran Neta seperti mengabaikan perkataannya.


"Sayang, bukan begitu. Aku hanya bersikap selayaknya manusia yang bisa mendengar dan berbicara. Lagian apa salahnya dengan itu, toh mau bagaimana pun juga, mereka itu tetap kerabatmu. Justru mungkin saja kalau kita bersikap baik, perlahan mereka juga akan bersikap baik," kata Neta.


Kei tersenyum miring lalu menunjuk kening sang istri. "Naif, pemikiran mu ini terlalu naif Ta."


Neta bukannya marah. Dia mendongak lalu tersenyum manis dan tanpa diduga-duga, dia langsung memeluk suaminya. Ia menempelkan telinganya di dada bidang sang suami dan mendengarkan degup jantungnya.


Neta semakin tersenyum manis dan menggeleng. Ia berani menatap netra Kei yang penuh dengan kemarahan saat ini. Tatapan matanya seolah menginginkan supaya tidak ada orang yang mendekatinya.


"Jangan marah-marah terus. Satu kali orang marah, maka akan banyak syaraf di otaknya yang terganggu bahkan putus. Sebaliknya, jika orang itu dalam masa bahagia akan banyak syarafnya yang kembali pulih dan semakin kuat. Juga jantung, jika orangnya bahagia maka dia juga akan semakin kuat dan sehat. Jadi jangan marah-marah terus ya, apa lagi untuk hal kecil seperti ini."


Kei tertegun mendengarnya. Dia seperti terhipnotis dibuatnya. Bahkan amarahnya pun seketika turun dan nyaris tidak ada. Perlahan, denyut jantung kembali normal.


"Aku, bilang seperti ini karena aku menyayangimu. Demi kesehatanmu juga, jadi jangan marah-marah terus ya. Anggap saja Kenny itu adalah adik kecilmu yang banyak tanya, yang sedang dalam masa eksplorasi," ucap Neta yang semakin membuat Kei merasa kagum.


"Dulu, kalau yang ada diposisimu ini Salma, sudah ada perang tadi di dalam mobil. Dia bahkan sama sekali tidak menyukai Kenny. Tapi kamu, kamu malah memintaku untuk bersikap baik," kata Kei.


Neta berjinjit dan mengecup bibir suaminya. "Sayang, manusia itu tidak akan ada yang tahu bagaimana jalan hidup mereka kedepannya. Bagaimana nanti jika anak kita diberlakukan seperti itu juga sama pamannya, apa kamu tidak akan sakit hati? Sebenarnya, mungkin juga selama ini Kenny memendam rasa sakit hati karena kamu dan nenek yang juga bersikap keras terhadapnya. Kalau aku lihat, dia itu baik kok."

__ADS_1


"Semua orang di matamu itu pasti terlihat baik. Termasuk Salma yang sudah berbuat jahat sampai kita kehilangan anak kita pun kamu masih bilang dia baik," kata Kei menimpali.


"Dia, tidak akan melakukan itu kalau aku tidak mengandung anak dari suaminya," kata Neta yang seolah memberikan tamparan keras dan mengingatkan Kei bahwa semua itu adalah salahnya.


"Kamu benar," ujar Kei yang kemudian mengeratkan pelukannya.


"Masih marah?" tanya Neta.


"Kalau iya, kenapa?" tanya Kei balik.


"Kalau iya, aku akan terus memeluk suamiku begini supaya dia tidak mengamuk adiknya yang sedang banyak tanya," jawab Neta sambil tertawa kecil.


----***----


"Kak! Kei! Kamarku yang mana? Aku mau kamar yang ada di dekatmu ya!" seru Kenny sambil mengetuk pintu kamar Kei.


"Lihat, dia sangat sayang sama kamu. Sampai kamar saja maunya berdekatan." Neta berbisik kepada suaminya yang sedang ia peluk erat.


"Dia hanya mau menguping pembicaraan dan kegiatan kita nanti malam," bisik Kei sambil tersenyum dan mengakhirinya dengan mengecup bibir Neta.


"Tidak boleh! Kamu tidur di luar saja!" sahut Kei mengerjainya.


"Apa? Oh, kalau begitu aku sekamar saja sama kalian!" seru Kenny dari luar.


"Dengar, dia itu brengsek," bisik Kei lagi.


"Jahil, bukan brengsek," ralat Neta.

__ADS_1


__ADS_2