Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
31. Perasaan Neta yang Sebenarnya


__ADS_3





3 hari sudah berlalu dari kejadian itu. Neta pun sudah boleh kembali ke rumahnya dengan catatan harus kembali memeriksakan keadaannya seminggu sekali. Dengan kata lain, dia harus menjalani rawat jalan.


Sementara untuk Salma, dia menghilang dan polisi meyakini bila wanita itu berada di bawah perlindungan kedua orangtuanya. Kali ini nenek Fuji sama sekali tidak mau membiarkannya lolos. Dengan berbagai macam cara dia berupaya untuk menangkap Salma supaya bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya.


"Apa bisa?" tanya Kei kepada Neta yang berusaha untuk berdiri sendiri.


"Aku harus latihan sedikit-sedikit," jawab Neta dengan wajahnya yang memerah menahan sakit di tubuhnya.


"Dokter bilang hati-hati, jangan terlalu banyak bergerak. Nanti bisa pendarahan lagi, hati-hati dan diamlah," pinta Kei dengan kembali mendudukkan Neta secara perlahan.


"Jangan membantahku, aku hanya ingin kamu cepat sembuh Ta," ucap Kei sambil berjongkok di depan Neta yang duduk di tepi ranjang.


"Sudah cukup kamu sampai sakit seperti ini gara-gara aku, jangan lagi," kata Kei yang seolah pada saat kembali pada Kei kecil.


Di saat seperti itu, ternyata nenek Fuji tengah memperhatikan cucunya. Ia meneteskan air matanya. Perlahan hatinya menghangat dan tersentuh.


"Kei kecilku sudah kembali Sus, kamu melihatnya juga 'kan?" Nenek Fuji mengajak suster Dini bicara.


"Iya, dia bukan Kei yang dingin lagi Nek," jawab Suster Dini yang notabene adalah anak dari pembantu di keluarga itu.


Bagaimana perjalanan di keluarga Fuji telah semuanya suster Dini ketahui. Sedari kecil juga dia dibesarkan di sana. Bahkan nenek Fuji sebenarnya sudah menganggap suster Dini sebagai keluarganya sendiri.


Anak dari suster Dini pun nenek Fuji kuliahkan di Singapura. Nenek Fuji tidak pernah menganggap Ari sebagai orang lain, dia sudah seperti cucu bagi nenek Fuji. Untuk saat ini Ari tengah menjalani kehidupannya di negara asing untuk menempuh pendidikan.

__ADS_1


"Iya, tuan muda sempat kehilangan jati dirinya semenjak kematian tuan dan nyonya. Saya masih sedih setiap kali mengingatnya Nek," kata suster Dini.


"Iya, sampai saat ini pun aku masih inget dengan jelas bagaimana anak dan juga menantuku beserta suamiku pergi dengan membawa senyuman, tapi sayangnya mereka tidak pernah kembali," kata nenek Fuji menimpali.


"Iya, mereka pergi dengan bahagia. Kita tidak pernah tahu kematian seperti apa yang akan menjemput kita," imbuh nenek Fuji dengan air matanya yang berderai.


****


"Mau makan?" tanya Kei setelah dia datang dari luar.


"Kamu tanya terus dari tadi aku mau apa. Aku mau kamu duduk diam, atau kalau tidak kamu tidur siang di sini, mataku lelah melihatmu seperti setrikaan laundry," cicit Neta dengan suaranya yang lemah.


Kei tersenyum meski dengan tubuhnya yang masih merasakan sakit di beberapa bagian. Dia duduk di tepi ranjang Neta dan menatapnya teduh. Tatapan matanya mengandung berjuta makna.


"Aku tidak pernah menyangka bila akan menemui bidadari di dalam kesalahan hidup. Kamu itu wanita kedua, orang ketiga di dalam rumah tanggaku, tapi kenapa justru kamu juga yang banyak menyadarkan ku?" tanya Kei dengan tatapan matanya yang sendu.


"Aku tidak tahu Kei, mungkin ini adalah karma karena aku yang sangat membenci perselingkuhan. Aku benci itu semua," aku Neta dengan tersenyum pias.


Neta menertawakan dirinya sendiri sampai bahunya bergerak turun naik. Bulir bening pun jatuh diantara kedua matanya. Ada kesedihan mendalam yang ia simpan.


"Mungkin akan menyenangkan ya, bila menjadi pelakor dengan keinginan sendiri, bukan dengan ditipu seperti ini. Menjadi pelakor dengan jalur dijual ibunya sendiri. Menyedihkan sekali," gumam Neta berkubang lara. Ia kembali tergugu.


Kei luruh, hatinya terenyuh mendengarkan perkataan Neta. Dia mendekat lalu memeluk wanita dengan wajah pucat itu. Tidak bisa hatinya tetap tegar sedangkan wanita yang tidak tahu apa-apa itu saat ini tengah berusaha tampil kuat.


"Jangan sesali, ini jalan kita. Ini jalan dan cara kita untuk bertemu. Aku tidak akan pernah menyesal bertemu pelakor sepertimu. Kamu lebih baik dari pada istri sahku. Setelah ini semua selesai, aku ingin kita mulai dari awal," kata Kei.


"Dari awal? Kalau begitu maka aku boleh menghilang sesaat dari hadapanmu?" tanya Neta dengan mendongakkan kepalanya.


Kei menatapnya teduh. Kepalanya sedikit tertunduk dan ia menyatukan kening mereka. Hembusan napasnya yang hangat saling membelai.


"Tidak usah menghilang, jangan buat drama Korea dalam rumah tangga kita. Aku sudah terlalu candu untuk berpisah darimu. Itu akan menyiksaku Neta," ucap Kei yang mengakui sesuatu yang tumbuh di dalam hatinya.

__ADS_1


"Tapi, entah mengapa setelah kejadian ini aku merasa perasaanku padamu semakin memudar. Aku merasa kita tidak pantas bersama. Aku malu dengan statusku yang jelas-jelas berperan sebagai perebut laki orang. Aku malu," batin Neta dalam diamnya.


Perlahan keduanya larut dan terlelap dalam damai. Begitu menenangkan bagi mereka sebab Salma disinyalir sudah berada pada proses penangkapan beserta kedua orangtuanya. Kasus lama mereka pun terkuak kembali berkas kerja keras tim pengacara dan penasihat hukum nenek Fuji.


***


"Bagaimana hasil kerja hari ini Deska?" tanya Nenek Fuji melalui sambungan telepon.


"Kami berhasil mengumpulkan bukti dan menghubungi keluarga korban penyiksaan dan pembunuhan itu Nek. Kasusnya akan kembali kami buka dan mungkin akan menyeret banyak nama," lapor Deska selaku pengacara yang nenek Fuji tunjuk.


"Iya, koordinasikan saja dengan baik, atur dengan sangat rapi. Aku percaya kamu bisa mengatasi ini. Percuma aku bayar mahal kalau kamu tidak bisa membuat keluarga itu bangkrut dan mendekam di penjara," kata nenek Fuji dengan santainya.


"Tapi, karena hal ini juga akan membuat perusahaan kalian yang selama ini Kei pimpin tumbang, nilai sahamnya akan terpengaruh dan bisa saja anjlok," ujar Deska mengingatkan.


Nenek Fuji tertawa terbahak-bahak. "Hanya satu perusahaan untuk menebus kebahagiaan keluarga kami. Tidak apa-apa aku rela, lakukan saja tugasmu dengan baik Pak pengacara," jawabnya penuh penekanan.


****


"Kei bangun, ini sudah sore. Kamu belum mandi," Neta mengguncang pelan lengan suaminya.


"Oh, aku ketiduran ya?" sahut Kei pelan dengan suara seraknya yang khas bangun tidur.


"Iya kamu ngorok," jawab Neta sambil tersenyum.


"Eh, apa iya? Enggak ya, aku kalau tidur itu cakep, bobok tampan," jawab Kei sambil tertawa kecil.


"Iya deh, walaupun ngorok tetep tampan kok. Udah sana kamu mandi, jangan Deket aku, aku udah berapa hari enggak mandi. Badanku lengket," kata Neta pelan dengan suara lemahnya.


"Aku yang mandiin ya? Aku yang elap," tawar Kei.


"Gimana bisa? Aku malu, iya kita pernah melakukan hubungan suami istri, tapi yang aku rasakan saat itu hanyalah hambar. Selama ini aku hanya menghormatimu saja sebagai suami. Aku tidak menolak karena takut akan melukai perasaanmu," batin Neta sendu.

__ADS_1


__ADS_2