
“Aku tidak bisa membiarkan semua ini menjadi kacau seperti ini. Mereka semua pasti akan merendahkanku sebagai seorang sosialita. Aku yang cantik dan kaya raya harus kalah dengan wanita ke tiga yang tidak jelas apa latar belakangnya? Cih! Tidak, tidak akan aku biarkan, aku harus mencari tahu siapa wanita yang telah membuat Kei berusaha untuk menceraikanku begini,” ujar Salma seorang diri di dalam kamarnya setelah ia menenggak banyak minuman keras.
Wanita itu tengah merasakan frustasi atas kepergian Kei dan juga gugatan yang suaminya layangkan. Salma berada dalam bahaya saat ini di mana pihak kepolisian akan segera menjemputnya untuk datang sebagai tersangka kasus penganiyayaan. Semua bukti konkrit mengarah kepadanya.
Kedua orang Tua Salma, Jamal dan Aini, keduanya memberikan dukungan penuh bahkan menyewa pengacara mahal untuk mengalahkan Kei di persidangan. Akan tetapi mereka tidak bisa berkutik karena di dalam video CCTV terlihat dengan sangat jelas bagaimana Salma menghajar Kei dengan brutal. Dia terlihat kesetanan.
“Aku harus menghubungi Reza. Dia yang bisa membantuku, setidaknya kalau bukti perselingkuhan Kei dan wanita sialan itu ada, maka penyeranganku ini menjadi berdasar. Aku marah karena diselingkuhi,” kata Salma sembari memencet nomor ponsel Reza.
Panggilan pun terhubung dan Reza pun mengangkatnya. Selayaknya lelaki jantan, Reza mengangkatnya tanpa beban. Dia terlihat begitu santai saat ini. Suaranya pun terdengar tidak bergetar sama sekali.
“Iya, halo ada apa nona Salma,” sapa Kei dengan santainya.
“Halo Reza, ini aku Salma. Apa kamu masih menyimpan foto Kei dengan gadis itu?” tanya Salma dengan penuh harapan. Berharap Reza berada di pihaknya. Akan tetapi sayangnya tidak seperti itu. Reza, berada di pihak Neta.
“Foto? Oh, maksudmu bukti yang terbantahkan itu?”
“Iya,” jawab Salma dengan mengangguk penuh semangat.
“Tidak ada, sudah kuhapus. Buat apa aku menyimpannya? Sudah jelas salah target dan mereka tidak melakukan apa-apa. Oh, buat apa kamu menmanyakan itu lagi?” tanya Reza uang tertarik dengan masalah yang Salma hadapi.
“Bantu aku, bantu aku Reza. Suamiku melaporkanku atas tindakan kekerasan di dalam rumah tangga. Ini sangat memberatkanku, setidaknya jika ada sebab yang masuk akal bahwa aku melakukan semua itu karena aku cemburu
__ADS_1
suamiku berselingkuh mungkin hakim bisa mengurangi hukumanku,” ujar Salma yang membuat Reza menyeringai.
“Dasar wanita gila, jadi dia akan tetap melakukan itu dan menghalalkan segala cara meskipun salah sasaran? Oh, pantas saja suaminya lari terbirit-birit darinya. Aku tidak akan tega mengumpankan wanita sebaik kamu Neta. Aku akan menutupi semuanya,” batin Reza.
“Aku tidak menyimpannya lagi, aku tidak menghapusnya. Bahkan sejak beberapa minggu lalu pun aku tidak berhenti bekerja dengan siapa, wanita yang ada di dalam foto itu. Ah, aku lupa namanya,” kata Reza yang terdengar seolah-olah dia dengan mudah melupakan sosok Neta.
“Neta, namanya Neta,” kata Salma di dalam kepanikannya yang entah mengapa justru membuat Reza ingin tertawa mendengarnya.
“Oh, sial!” Salma meninju bantal di sampingnya.
“Datanya saja tidak kuhapus bersih, buat apa menyimpannya hanya memenuhi memoriku saja. Tidak dulu aku ada pekerjaan lain,” kata Reza yang terdengar sama sekali tidak tertarik dengan masalah yang Salma hadapi.
“Menyusahkan sekali, ngapain dia nelpon gue. Oh, gue enggak nyangka sifatnya buruk banget. Bahkan walau Neta tidak terkait dengan itu semua dia masih mau mengumpankan orang lain asal tertangkap kamera bersama suaminya. Wah, itu gila. Dia sama sekali tidak memikirkan kehidupan orang lain. Kamu benar Kei, lari sekencang-kencangnya dan tinggalkan dia. Gue pun akan melakukan hal yang sama bila gue jadi elu.” Reza berbicara seorang diri sambil tersenyum menatap foto Neta di tangannya.
“Kei, ini sarapannya,” ujar Neta sembari meletakkan sebuah nampan yang berisi sarapan mereka.
Melihat Neta yang datang dengan membawa sarapan pagi dengan senyuman hangat yang menyentuh kalbu itu pun Kei segera membalas senyumannya. Pagi berkabut di tepi danau dengan menikmati sarapan roti bakar dan susu hangat. Sungguh bagi Kei ini merupakan keistimewaan yang tiada tara.
“Ta, kamu masih saja memanggilku dengan sebutan nama? Bagaimana jika nanti anak kita menirukannya?” tanya Kei sembari menarik kursi lalu duduk dengan tatapan yang tidak teralihkan dari wajah Neta.
“Maunya dipanggil siapa?” tanya Neta dengan lembut sembari menyodorkan susu hangat.
__ADS_1
“Daddy?” cetus Kei yang membuat Neta tersenyum hingga matanya menyipit.
“Daddy? Serius?” tanyanya memastikan.
Kei mengangguk dengan mata bulatnya. “Iya, aku serius. Sudah sangat lama aku ingin dipanggil Daddy.”
“Oke, Daddy. Daddy Kei?” ulang Neta menirukan apa yang Kei ajarkan.
Kei mendekat lalu berjongkok, ia menyamakan tingginya dengan perut Neta. Dengan wajah yag tersenyum cerah ia berbisik di sana. “Baik-baik di dalam ya boy, nanti beberapa bulan lagi jumpa daddy.”
“Dari mana kamu tahu dia laki-laki?” tanya Neta.
Kei tersenyum dan mengecup prut rata Neta. “Firasat aja, feelingku mengatakan dia ini laki-laki nantinya.”
Neta tertawa mendengarnya. Dia tertawa sembari mengusap lembut rambut Kei dengan sayang. Kei pun menikmati kebersamaan itu, tidak pernah selama hidup bersama Salma ia merasakan kenyamanan seperti ini.
****
Sementara itu di kediaman nenek Fuji. Seorang wanita datang dengan kemarahan yang menggebu. Dia begitu meledak-ledak.
“Nenek, bagaimana nenek membiarkan Kei menggugatku?” tanya Salma tanpa ada sopan santunnya sama sekali.
__ADS_1
Nenek Fuji hanya bisa diam dan menatapnya datar cucu menantu yang saat ini terkesan melabraknya. Akan tetapi enenk Fuji hanya bisa diam dan membiarkan Salma seperti anjing menggonggong. Dia berusaha menjaga emosinya saat ini.
“Semakin kamu seperti ini, semakin aku tidak suka dengan sikapmu yang tidak sopan ini, Salma.” Nenek Fuji berbicara di dalam hatinya.