Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
70. Mencemaskannya Lebih Dari Apapun


__ADS_3

"Ta!" teriak Kei menyeru nama istrinya yang tak sadarkan diri. Wanitanya pingsan dan terasa lemas.


"Kita harus cepat, cepat!" ujar Kei dengan membopong Neta dan berlari dengan begitu cepatnya mengabaikan banyaknya semak berduri dan beberapa ranting kayu yang melukai bahkan menusuk kakinya.


Kei berlari seperti orang yang kesetanan, sembari membopong tubuh yang bahkan tidka bisa dikatakan ringan. Dia sama sekali tidka menghiraukan adanya luka dan rasa sakit di kakinya. Demi wanitanya ia rela mengorbankan apapun.


"Ayolah cepat, jangan lembek begini," kata Reza sembari memapah Kenny yang kesusahan berjalan.


"Lembek bagaimana? Aku ini terluka, aku ini kesakitan. Apa maksudmu berkata seperti itu tadi?" tukas Kenny dengan tatapan matanya yang nyalang.


"Akh ...." Kenny mengaduh kesakitan.


"Za, pelan-pelan. Dia mengalami luka seperti lukamu dulu, jadi jangan buat dia semakin sakit Za," kata Dara yang masih mempunyai rasa iba terhadap Kenny.


"Kenapa? Lo suka sama dia? Gue perhatiin dari tadi lo bela dia terus. Perhatian banget lo sama dia!" tuduh Rez yang membuat Dara gelagapan.


Tentu saja Dara suka, secara dari fisik dan keuangan Kenny jauh lebih mapan dibandingkan dengan Reza, di mata Dara. Padahal, jika Reza membuka jati dirinya yang sesungguhnya mungkin semua penilaian itu akan terlimpahkan kepada Reza. Reza, bukan seseorang dari kalangan menengah, dia juga kaya raya hanya saja saat ini dia sedang berjuang untuk menemukan wanita dengan caranya.


"Sial, padahal gue udah mulai suka sama Dara, tapi tiba-tiba ada cecunguk ini," keluh Reza dalam hatinya.


"Kenapa dia dari kemaren kayak enggak suka gitu sih tiap gue bantuin Kak Kenny? Ada apa?" pikir Dara yang tidak paham dengan kelakuan Reza yang semakin aneh.


"Ya karena gue suka sama elu bego! Gue enggak mau cewek gue deket sama cowok lain," jawab Reza penuh penekanan dan dia menempelkan bibirnya di telinga Dara hingga membuat Dara merasakan sengatan aneh.


"Ih gila Lo!" tepis Dara dengan tatapan sinisnya.

__ADS_1


Dara lebih memilih untuk mengabaikan hal itu dan kembali berjalan di bawah guyuran hujan. Dia terus saja menapaki jalan setapak yang mulai tersamarkan oleh padatnya intensitas hujan. Berada di bawah pepohonan rindang membuat Dara ketakutan.


Beberapa jam berjalan, pada akhirnya mereka sampai di ujung desa. Beruntunglah mereka pada saat itu masih ada beberapa ibu-ibu yang berteduh usai mencari kayu. Bantuan pun mereka dapatkan dan Neta di bawa ke salah satu rumah warga yang rupanya adalah dukun bayi.


"Apa bisa memijit? Aku terkilir, tapi mereka malah mengantarkan kita ke rumah dukun bayi," keluh Kei dengan memijat kakinya pelan.


Jerit tangis bayi mengisi rumah yang berbahan papan itu. Rumah seorang janda dengan 3 anak yang terlihat begitu sederhana. Kala itu Kei meminta warga untuk mengantarnya ke tukang urut, tapi mereka salah tanggap karena mengira tukang urut itu ditujukan untuk istrinya padahal untuk dirinya sendiri yang kakinya terkilir.


"Bisa deh Pak kayaknya, dicoba dulu. Ini pelanggannya aja banyak," jawab Dara.


"Banyak juga bayi semua Ra, kamu pikir Pak Kei ini bayi?" ketus Reza.


"Udahlah pasti bisa, yang terpenting kita tunggu sampai ada bantuan datang dan bawa Neta ke rumah sakit," sambung Kenny.


Kei terus saja menggenggam tangan Neta, dia terlihat khawatir dan begitu cemas. Kenny yang memerhatikan hal tersebut pun tersenyum miring. Ada rasa iri di dalam hatinya. Iri lantaran tidak bisa mendapatkan pasangan yang setara dengan Neta.


"Ini siapa yang mau diurut?" tanya dukun bayi.


"Kaki saya terkilir Mbah, apa bisa?" tanya Kei.


"Oh, bisa. Gampang kalau hanya itu," ujar dukun bayi sembari mengambil minyak pijat.


Beberapa gerakan pijatan yang pertama, Kei belum berteriak. Justru dia terlihat bingung kenapa tidak ada sensasi rasa sakit? Kenapa justru terasa pedih di luka-lukanya yang tergores kayu dan duri tajam?


Hingga ....

__ADS_1


"Argh ...!" teriak Kei dengan mer*mas tangan Neta dengan kuat. "Ampun ...!"


"Sa-kit ...! Ampun Mbah ...." teriak Kei hingga membangunkan Neta yang pingsan.


"Sayang!" Neta terperanjat. "Aduh, duh! Sakit Sayang," keluhnya merasakan tangannya yang teremas kuat.


"Sebentar lagi, kamu tadi pasti membawa istrimu dengan panik le, sampai tidak melihat banyak duri dan ranting. Lihat kakimu sampai lecet dan berdarah begini. Sedikit lagi selesai," kata mbak dukun bayi itu dengan santainya.


"I-iya Mbah, dia tiba-tiba pingsan dan aku takut. Sebelumnya dia muntah-muntah, nanti bisa tolong periksa dia juga Mbah?" pinta Kei sebelum suara gemertak tulang terdengar.


Kretek! gemertak tulang terdengar dan Kei langsung melotot setelah sebelumnya ia menjerit. Jeritannya sampai membuat burung-burung beterbangan. Sungguh keras dan menggema.


"Mas, Mbah udah Mbah. Suami saya kesakitan," kata Neta tanpa bisa beranjak dari tempat tidurnya.


"Udah ini," kata si dukun bayi dan Kei membelalak. Dia tidak merasakan sakit lagi.


"Eih? Sudah tidak sakit lagi loh," ucapnya penuh rasa takjub.


Neta memandang suaminya dengan intens. "Serius Mas?"


"Iya, kamu juga di periksa ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa," kata Kei sembari mengusap penuh sayang kening istrinya.


Wanita berpredikat sebagai dukun bayi itu tersenyum. Dia mengamati sebentar wajah Neta dan mengusap perutnya. Tatapannya begitu lembut dan menyiratkan kebahagiaan.


"Bojomu ini lagi mulai hamil le, masih kecil usia hamilnya. Tidak bisa dipijat dulu, diperiksakan dulu ke dokter nanti. Dari penglihatan Mbah, dia sedang hamil," kata Mbah dukun bayi yang membuat Kei dan Neta justru membeku.

__ADS_1


"Apa Mbah serius?" tanya Kei untuk memastikan. Dia tidak mudah percaya begitu saja sedangkan dokter berkata butuh waktu beberapa bulan untuk menunggu kehamilan itu bisa terjadi.


__ADS_2