Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
41. Rival Kei


__ADS_3

Sore hari, Neta merasa kini tubuhnya sudah membaik. Saat ini, dia sedang berada di area perkemahan yang terletak di kaki bukit. Di sana begitu banyak pasangan yang melakukan perkemahan. Bahkan ada beberapa keluarga kecil yang juga melakukan kegiatan tersebut.


Tidak banyak yang Neta lakukan. Dia hanya menikmati semua pemandangan yang tersaji di depan matanya. Ia menikmati kesendiriannya.


Matanya terus saja mengamati keluarga kecil yang sedang bermain lempar botol. Permainan sederhana dengan botol yang berisi setengah air yang mereka lempar supaya bisa berdiri. Siapa yang bisa melempar dan botolnya berdiri maka akan mendapatkan uang dari si ayah.


Neta tersenyum melihat kebersamaan itu. Sekilas ia kembali teringat saat sang ayah masih ada di dunia. Begitu manis dan ia merasa dunianya begitu lengkap.


Akan tetapi setelahnya, ia menitikkan air mata bagaimana dunianya hancur bersamaan dengan perginya sang ayah. Ia menjadi tulang punggung dan semua harta peninggalan ayahnya habis terjual. Tidak ada yang bersisa. ibu Rahayu begitu mahir menjual apa-apa yang suaminya tinggalkan dengan alasan membayar hutang.


"Hal sederhana tapi bisa membuat mereka bahagia," gumam Neta sendirian. Ia menatap cangkir kopi yang ia pegang. Tidak terasa air matanya menetes di sana.


"Sementara aku, aku berakhir mengerikan dengan uang santunan dan fasilitas pemberian mantan suamiku. Hidup macam apa ini Tuhan? Ibuku pergi tanpa kabar. Sampai saat ini aku bahkan tidak mengetahui di mana keberadaannya." Neta mengusap air matanya. Ia berbicara dalam hati menuntut keadilan dari Tuhannya.


Angin bertiup begitu lembab, dan sudah dapat dipastikan sebentar lagi akan turun hujan. Neta pun masuk ke dalam tendanya. Dia terlihat begitu sendu.


Siapa sangka bila dari kejauhan mantan suaminya masih saja menguntit. Kei terus mengawasi pergerakan mantan istrinya itu. Bersama Nindy dia pun berkemah di kaki bukit itu.


"Ah, kenapa masuk segala? Aku ini mau lihat kamu Ta, kangen aku," kata Kei sendirian.


"Bapak, datangi langsung saja, kenapa harus seperti mata-mata begini? Langsung saja dan tanya kabarnya, sejak kapan bapak jadi penakut?" cetus Nindy.


"Sejak aku takut kehilangan dia. Sejak aku merasa kalau ini semua bukan tentang ego. Ini semua tentang pengorbanan dan toleransi. Aku harus bisa memahami dan menerima kalau cinta itu bukan memaksakan," kata Kei pelan.


"Sekarang kamu pura-pura jalan ke sana dan lihat dia sedang apa. Perhatikan dengan baik, jangan sampai terlewat sedikit pun," kata Kei memberikan perintahnya.

__ADS_1


"Sedikit pun?" Nindy mencubit angin. "Kalau dia di dalam tenda, aku bisa apa?"


Kei masuk ke dalam tenda dan mengambil alat perekam suara yang bentuknya menyerupai batu. Ia lalu memberikannya kepada Nindy. Nindy hanya bisa melongo melihatnya.


"Apa ini Pak?" tanyanya dengan bingung.


"Ini, Tahu bulat. Udah tahu ini kayak batu, ini alat perekam, nanti kamu taruh di dekat tenda Neta ya, aku ingin dengar apa saja yang ia bicarakan saat sendirian di dalam tendanya." Kei memberikan perintahnya.


"Oh, Ia. Siap!" Nindy langsung berangkat.


Penyamaran Nindy kali ini adalah dia menggunakan burqa. Sama sekali tidak bisa dikenali. Adapun yang terlihat hanyalah kedua matanya saja.


Nindy berjalan mendekati tenda Neta yang terlihat begitu sepi. Sesuai dengan perintah ia lalu melemparkan dengan pelan batu itu ke dekat tenda. Sayangnya, sewaktu ia melempar batu tersebut, bersamaan dengan Neta yang membuka resleting tenda.


"Eh, kamu siapa? Kenapa melempar tendaku dengan batu?" tanya Neta pada Nindy yang tertangkap basah.


Dengan akalnya, Nindy hanya menggunakan bahasa tubuh. Dia berlagak seperti orang penyandang tuna wicara. Tangannya bergerak memberikan isyarat bahwa dia tidak bisa berbicara.


"Oh, kamu tidak bisa bicara?" tanya Neta dengan begitu pelan dan lembut.


Nindy mengangguk dan dia meminta maaf dengan mengatupkan kedua tangannya. Pada saat itu Kei sudah bisa mendengar apa yang mantan istrinya itu bicarakan. Dia tersenyum senang saat mendengarnya.


"Iya, tidak apa-apa. Jangan diulangi lagi ya Kak, takut nanti kalau berlubang tendaku. Maaf juga ya tadi udah bentak Kakak," kata Neta dan Nindy lagi-lagi hanya mengangguk. Ia lalu pergi.


"Ah, selamat juga aku akhirnya. Untung aja aku ini cerdas," kata Nindy seraya kembali ke tendanya.

__ADS_1


Setelah itu terdengar Neta kembali masuk ke dalam tendanya dan dia melakukan video call dengan seseorang laki-laki. Terdengar Neta menanyakan kabar dari laki-laki itu dan tentunya hal itu membuat Kei panas. Kei yang masih menyukai dan menyayangi istrinya itu pun mengepalkan tangannya saat mendengar perbincangan mereka.


Di dalam tenda Neta.


"Oh, bagaimana keadaan mu Za? Mana coba aku lihat tanganmu?" tanya Neta.


Reza menunjukkan kedua telapak tangannya yang masih sakit tentunya sebab belum sembuh benar. "Ini, masih sakit tahu Ta, enggak bisa buat genggam."


"Oh ya? Aku minta maaf banget ya Za. Karena aku, kamu jadi seperti itu. Kakimu juga belum sembuh ya?" tanya Neta.


"Belum, masih suka sakit buat jalan. Aku masih naik kursi roda," jawab Reza.


"Kenapa sih Za, kamu sampai kayak gitu? Kenapa kamu ngorbanin diri kamu?" tanya Neta.


"Karena aku suka sama kamu dari pertama kita ketemu Ta, tapi kamu sudah ada suami 'kan? Aku hanya enggak mau kamu terluka Ta, kamu itu orang baik. Oh iya, hubunganmu sama suamimu baik 'kan?" tanya Reza.


Neta menghela napasnya dalam-dalam. "Aku udah bercerai sama dia Za. Aku enggak kuat dengan omongan orang, terlebih aku sama sekali enggak ada niat buat merebut suami orang. Aku tulus menerima perjodohan dan pernikahan itu. Apa-apa yang aku lakukan, aku niatkan untuk ibadah. Aku sama sekali enggak nyangka kalau akan jadi kayak gini, aku jadi pelakor."


Neta berbicara dengan senyuman getir yang menghiasi bibirnya. Ia pun mengusap air matanya. Dia begitu sedih bila kembali mengingat hal tersebut.


"Kamu udah cerai? Oh, aku enggak tahu harus senang atau sedih sih Ta. Tapi ada baiknya sih, seenggaknya aku bisa lebih Deket sama kamu karena kamu sudah bukan milik siapa-siapa," cetus Reza dengan entengnya.


"Hahaha! Enggak usah bercanda deh Za. Ada-ada aja kamu ini," tampik Neta segera sambil tertawa.


Sementara itu, seorang laki-laki sedang terbakar cemburu. Dia kesal bukan main. Ia sampai menggigit ujung bantal dan meninjunya berkali-kali.

__ADS_1


"Enak aja, kurang ajar! Mau deketin? Oh, enggak bisa dibiarkan. Oke mulai sekarang kamu sainganku Reza," geram Kei.


__ADS_2