Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
54. Usulan Keni


__ADS_3

"Ada apa Nek?" tanya Kei kepada neneknya yang duduk menghadap ke jendela besar di kamarnya.


"Hem, duduklah Kei," titah sang nenek sembari tersenyum ia menepuk sisi sofa yang kosong di sebelahnya.


"Mana istrimu?" tanya Nenek Fuji lagi setelah menunggu beberapa detik Neta tidak juga datang.


Kei menepuk pahanya sendiri. "Aku kira aku saja yang dibutuhkan. Ada apa sampai ingin dia juga ke sini?"


"Ada hal penting yang harus aku beritahukan kepada kalian. Ini mengenai pembagian harta. Aku ingin memberikan beberapa milikku juga kepadanya karena telah menolongku dulu. Memberikan darahnya hingga aku masih bisa hidup sampai sekarang. Panggil lah dia Kei," titah nenek Fuji.


"Baik, aku panggilkan dia dulu. Sebentar ya Nek," ucap Kei yang kemudian bangkit dari duduknya.


Kei kembali masuk ke dalam kamarnya. Tanpa mengetuk ia masuk begitu saja. Neta yang sedang menyisir rambutnya itu pun sampai terkejut.


"Sayang, ada apa? Kenapa enggak ketuk pintu dulu? Bikin kaget aja. Apa kata nenek?" tanya Neta dengan menggelontorkan banyak pertanyaan.


"Maaf, aku kebiasaan begini," ujar Kei.


"Ya, kalau tidak ada laki-laki lain di sini mungkin aku tidak akan kaget. Tapi sekarang ada Keni juga di sini. Aku harus lebih bisa menjaga sikap bukan?" ucap Neta yang membuat Kei tersenyum sipu.


"Apa kamu merasa terganggu dengan kehadiran Keni dan neneknya?" tanya Kei sembari duduk di samping Neta meskipun hanya dengan sedikit ruang yang ada.


"Sempit Sayang," keluh Neta dan Kei dengan cepat menariknya lalu memangkunya. Mereka duduk bersama begitu dekat dan hangat.


"Aku tidak terganggu dengan mereka. Mereka juga saudaramu mau bagaimana pun kisah di baliknya. Tapi, aku lebih ingin menjaga sikap dan batasan saja. Bukannya, ancaman terbesar dalam suatu rumah tangga itu adalah ipar?" tanya Neta.


Kei menggidikan bahunya dan dia menempatkan dagunya di pundak Neta. "Entahlah, aku tidak begitu berpengalaman soal itu. Tapi ... yang aku tahu, minuman keras dan pergaulan yang salah juga ancaman fatal."

__ADS_1


"Oh, kamu bisa berpikiran seperti itu karena kamu dulu begitu. Iya?" tanya Neta.


"Iya. Aku memang begitu. Mabuk, dan wanita pemandu lagu itu tuntutan pekerjaan Sayang. Mau menolak pun tidak bisa, apa lagi bila yang menunjuk adalah klien penting atau investor. Ah, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sudahlah ayo temui nenek dulu, nanti kita bicara lagi soal ini. Aku perlu banyak belajar darimu," pungkas Kei yang kemudian mengajak Neta untuk berdiri.


"Ah, begitu rupanya? Dunia bisnis memang tampil seperti apa yang sering aku dengar ceritanya dari para pelangganku di butik dulu. Para istri yang menutup mata atas kelakuan suaminya asalkan ada transferan masuk maka dunia mereka aman-aman saja. Apa aku bisa seperti itu? Jika selama ini Kak Salma bisa menutup mata untuk itu, maka aku tidak. Aku tidak suka suamiku begitu dekat dengan wanita lain. Apa lagi sampai mabuk dan tidur bersama," pikir Neta.


"Ada apa Nek?" tanya Neta setelah ia duduk di sofa tempat di mana tadi Kei duduk.


"Oh, Ta. Apa suamimu tidak bercerita sesuatu?" tanya nenek Fuji dengan suaranya yang bergetar.


Neta menatap Kei sekilas lalu menggeleng. Sementara Kei hanya berekspresi datar dan duduk dengan gayanya yang terlihat berwibawa. Dia seperti tidak mengetahui apa-apa sedangkan sebenarnya sudah banyak yang ia ketahui.


"Tidak Nek, tidak ada," jawab Neta dengan lembutnya.


Nenek Fuji mengulum senyumnya dan dia mulai berbicara, "Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu. Kamu terima ya? Ini adalah hadiah untukmu karena kamu sudah menolongku."


"Nek, aku dulu menolong itu ikhlas. Tidak usah memberikan aku apa-apa. Lagian dulu ibuku sudah minta banyak uang sebagai imbalan bukan? Sudahlah Nek, jangan diingat lagi, tidak usah ya?" tolak Neta dengan lembutnya.


"Ta, kalau kamu menghormatiku, maka terimalah. Terimalah Nak, simpan ini untuk dirimu sendiri. Ini tidak ada kaitannya dengan harta yang nanti akan dibagikan dengan Kenichi. Semuanya sudah aku pilah-pilah. Untukmu, untuk Kei, dan untuk Kenichi, juga untuk nenek Yuki, semuanya sudah ada bagiannya masing-masing."


Neta terdiam lalu membuka berkas yang diberikan oleh nenek Fuji. Matanya membola dan terlihat kebingungan. Dia tidak menyangka bila akan mendapatkan hadiah berupa rumah dan tanah di jalan arteri kota.


"Nek, ini berlebihan sekali," ucap Neta.


"Apanya yang berlebihan? Ini sudah sepantasnya Neta. Aku lihat badai yang menerjang keluarga kita ini mulai berlalu pergi. Kamu bisa melanjutkan hobimu menggambar pola. Buat pakaian yang lucu untuk anak-anakmu kelak," ucap nenek Fuji pelan dengan harapan dan keinginan yang tertanam di dirinya.


"Nenek ... terima kasih," ucap Neta yang kemudian memeluk dan menangis haru.

__ADS_1


"Kamu, diberikan lokasi bagus dan mahal menolak dulu, lalu dipaksa baru mau menerimanya. Coba kalau ini tadi Salma, dia pasti akan menghina terlebih dahulu. Mengkeritik sesuka hatinya, merendahkan dan baru menerima." Kei berbicara dengan santainya.


"Sayang, jangan seperti itu. Aku tidak suka kamu terus saja mengingat dia. Kalau kamu rindu datangi saja langsung ke penjara, aku tidak melarang," cetus Neta yang membuat nenek Fuji tersenyum.


"Kei, jangan sebut nama itu terus di rumah ini. Kamu ini tidak peka. Istrimu cemburu," ujar nenek Fuji sambil menahan tawanya.


"Habisnya Nek, aku bisa merasakan dia itu suka sekali membandingkan kami. Kalau belum bisa move on kenapa memaksaku untuk rujuk. Aneh kan?" tanya Neta.


Nenek Fuji lalu mengusap lembut pipi Neta. "Karena dia itu sayang sama kamu Ta."


"Itu, dengarkan itu. Mana ada aku ini gagal move on. Justru aku menikah denganmu ini karena sudah melepaskan dia sepenuhnya!" ujar Kei membela dirinya.


"Halah alasan!" tampik Neta dengan mencibikan bibirnya.


Melihat itu, Kei yang semula santai pun berubah menjadi gemas. Dia gemas melihat bibir yang tadi memanjakannya itu maju beberapa sentimeter. Begitu menggemaskan dan menggugah hasrat.


"Alasan? Siapa yang alasan? Aku sungguh-sungguh. Bedanya itu kamu baik dan dia jahat. Kamu pencemburu, banget," cetus Kei sembari memeluk dan mencium pipi Neta.


"Sayang, malu ... ada nenek," protes Neta dengan perasaan malu.


"Tidak apa-apa, nenek juga senang pada akhirnya aku dapat istri yang sesuai dengan kriterianya," jawab Kei yang mendapatkan anggukan dari nenek Fuji.


"See, Nenek setuju," ucap Kei sambil tertawa-tawa.


Siang itu, mereka berbincang hangat di dalam kamar nenek Fuji. Siapa sangka bila tamu mereka merasa panas dengan kebersamaan yang mereka saksikan. Nenek Yuki ingat betul bila sebelumnya, saat ada Salma di dalam rumah itu, kedamaian hanya bisa terjadi dalam beberapa menit saja. Setelahnya, kalau bukan bertengkar dengan pembantu, maka akan ada pertengkaran dengan suaminya.


"Wanita itu rupanya membawa pengaruh baik di rumah ini. Tapi kenapa aku tidak suka sama sekali," gumam nenek Yuki.

__ADS_1


"Iya, aku juga sama. Bagaimana kalau aku buat sedikit pemanasan? Terlalu akur dan adem begini tidak baik. Akan lebih baik kalau agak hangat cenderung panas. Iya kan Nek?" usul Keni kepada neneknya.


"Ide bagus," ucap nenek Yuki sembari menyeringai.


__ADS_2