
83. END
1 tahun kemudian.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya Kei kepada sang istri yang tengah mendandani putra mereka, Nakano Syabil.
“Sudah Sayang tapi lihat anakmu itu tidak bisa diam, acara belum mulai dan dia sudah berganti baju sebanyak dua kali. Huh! Pusing aku,” keluh Neta sembari memoles makeup di wajahnya.
“Sabar Sayang, dia ini lagi baru bisa jalan. Wajar saja kalau semuanya mau dieksplore. Sini biar sama aku saja, kamu dandan aja,” kata Kei yang kemudian meminta si kecil Naka dari tangan ibunya.
Masih di sela-sela kesibukan itu datanglah seorang wanita tua yang masih bisa berjalan, dia adalag nenek Yuki yang semenjak kelahiran Nakano sikapnya justru melunak dan menyukai bayi tampan itu. akan tetapi Kei tetap tidak bisa mempercayakan anaknya begitu saja kepada sosok wanita yang mempunyai catatan buruk di dalam ingatan masa lalunya.
“Naka …! Sini sama nenek Sayang,” ajak nenek Yuki dengan merentangkan kedua tangannya.
Kei seperti menahan tubuh Naka supaya tidak terjatuh pada dekapan wanita yang dulu sangat membencinya itu. Neta hanya melihat interaksi itu melalui cermin riasnya. Tak lama dari itu Kenny pun ikut masuk dengan gayanya yang acuh.
“Jangan cemas dan khawatir Kak Kei, nenek itu sudah terhipnotis dengan liurnya Naka. Dia sangat nge-fans dengan anakmu. Untuk ulang tahun hari ini saja nenek membelikan dia hadiah emas batangan.” Kenny berbicara tanpa basa-basi dan nenek Yuki secara refleks langsung menepuk bagian belakang kepala cucu kandungnya itu.
“Jaga mulutmu, itu bukan apa-apa. itu hanya hadiah kecil untuk Naka. Siapa tahu saat dia besar nanti akan berguna. Nenek tidak tahu kapan usia nenek ini akan berakhir, jadi nenek pikir hadiah itulah yang paling pas buat cicit nenek yang tampan ini.”
“Kenapa, kamu iri? Makanya buat anak, nanti akan kuberikan semua yang kupunya untuknya,” cetus nenek Yuki sembari menimang Naka yang sudah tertawa melihat wajah nenek Yuki yang sering sekali mengajaknya bermain.
“Jangan terlalu keras kepada cucumu Yuki. Biarkan dia memilih wanitanya sendiri jangan diburu. Lihat Kei dulu yang sempat salah pilih karena terburu-buru. Santai saja, jodoh terbaik itu biasanya lama datangnya,” kata nenek Fuji yang terdengar membela Kenny.
“Oh, ini baru nenekku. Bukan yang itu,” kata Kenny yang dengan cepat langsung memeluk nenek Fuji yang duduk di atas kursi roda.
Semuanya berjalan lancar hari itu. Pesta ulang tahun pertama Naka berjalan dengan meriah. Begitu banyak kolega hadir mengisi undangan. Namun … di akhir acara saat tim EO tengah berberes, seorang wanita datang dengan
pakaian lusushnya. Dia adalah ibu Rahayu. Ibu kandung dari Neta. Entah apa yang terjadi dengannya, tapi yang elas kondisinya tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Tadi sebelum menemukan alamat baru Kei dan Neta, ibu Rahayu sempat duduk di sebuah warung bakso. Dia melihat siaran pesta dia juga mendengar klarifikasi yang digelar Kei secara besar-besaran untuk membersihkan nama baik istrinya. Bahkan dalam klarifikasi itu Kei menimpakan semua kesalahan kepada dirinya sendiri.
Melihat betapa besar cinta Kei yang ditujukan kepada putrinya membuat ibu Rahayu membuka mata. Ia tersadar bahwa tidak seharusnya ia menjual anaknya hanya karena ingin berlibur bersama sang adik. Namun di detik itu juga Tuhan seolah membuka tabirnya.
Tanpa sengaja ibu Rahayu mendengar ocehan bibi Risma tentang rencananya selama ini yang ingin membuat sengsara keluarga kakaknya karena ia anggap sebagai penyebab kematian suaminya. Karena hal itulah ia berusaha mencari cara supaya kakaknya juga kehilangan satu-satunya hal berharga di dalam hidupnya yaitu Neta, satu-satunya putrinya. Keduanya bertengkar hebat baklan bibi Risma sempat memukul kepala ibu
Rahayu dengan batu, lalu merampas uangnya yang tak seberapa kemudian pergi entah ke mana karena kejaran warga.
“Apa dia sudah tidur benar Sayang? Kalau belum nanti dia akan mengamuk lagi, dia seperti tidak mau terpisah dari nenek Yuki.” Neta merangkul pinggang Kei dari belakang saat suaminya tengah menidurkan anak mereka.
“Iya kalau kamu mau dia tidur, kamu jangan begini. Ini bangun lagi dia mendengar suaramu,” ujar Kei yang kesal. Pasalnya ada rencana tersendiri yang akan ia lancarkan malam ini setelah sang anak terlelap.
“Ba! Naka belum ngantuk ya? Ini sudah jam 10 malam loh Sayang,” kata Neta seraya tertawa kecil dan menciumi gemas pipi sang anak.
“Bapak, Ibu, maaf di depan ada tamu katanya mencari Anda. Ibu Rahayu namanya,” ujar si staf EO.
Mendengar nama itu Neta langsung terkesiap. Pasalnya beberapa bulan belakangan ini dia selalu berusaha mencari keberadaan ibu kandungnya. Namun sayangnya sama sekali tida terendus ke mara atah perginya. Lalu malam ini tepat di acara ulang tahun Naka, ia datang dengan sendirinya. Tentunya hal ini seperti hadiah termahal yang Neta dapatkan.
“Ayo kita lihat.” Kei segera menggandeng tangan Neta dan menggiringnya untuk melihat siapa yang di maksud si staf EO itu.
“Anakku …!” panggil ibu Rahayu dengan suaranya yang bergetar menahan tangis.
Tanpa berpikir panjang Neta langsung memeluknya erat, ia menciumi wajah kusam sang ibu tanpa rasa jijik atau apa pun. Jauh di dalam hatinya, dia sama sekali tak sanggup membenci ibu kandungnya sendiri terlebih dia sendiri sudah mengalami rasa sakit saat melahirkan itu seperti apa.
“Ibu ke mana saja? Kenapa kabur? Aku sengaja menaruh ibu di pedesaan supaya tidak terendus media. Supaya mereka tidak akan tahu kebenarannya seperti apa tentang ibu yang menjual anaknya kepadaku,” papar Kei yang langsung menjelaskan maksud dari semua perlakuannya selama ini.
“Aku pergi karena menuruti pemikiran Risma. Aku pikir dia baik karena dia adik kandungku. Tapi ternyata aku salah. Selama ini dia bersikap seperti itu hanya ingin memanfaatkan putriku dan merusak hubungan kami. Ibu minta maaf sama kamu Neta. Ibu minta maaf, ibu sama sekali tidak pernah mendengar omonganmu selama ini tentang kecurigaanmu terhadap bibi Risma,” aku ibu Rahayu dengan berlinang air mata.
“Sudah ibu, lupakan saja. Apa tidak malu menangis di hadapan cucumu. Dia cucumu ibu, Naka namanya.”
Kebahagiaan Neta menjadi begitu lengkap malam itu. tapi tidak dengan seorang laki-laki yang baru saja melamar seorang gadis pendiam. Iya, Kenny memberanikan diri untuk melamar Wilda, wanita pilihan Neta.
__ADS_1
“Ini sebenarnya kamu mau dengan ikhlas apa karena terpaksa Wilda?” tanya Kenny yang sudah kesal terhadap sosok wanita yang terlampau anggun di hadapannya ini.
“Ikhlas, kenapa memangnya. Kita sudah setahun ini pacaran dan kamu tahu bagaimana aku.” Wilda menjawabnya dengan wajah tertunduk. “Aku suka cincinnya,” imbuhnya.
“Aku bukan tanya soal cincinnya, tapi kau itu beneran mau jadi istri aku atau tidak? Kita satu tahun pacaran tapi bergandengan tangan saja tidak pernah, jalan berdua juga tidak pernah, apa lagi sampai berciuman aku sang ….”
Kenny tiba-tiba terdiam pada saat ocehannya berbalaskan sesuatu yang begitu manis di bibirnya. Wilda tiba-tiba menciumnya dengan menangkup wajahnya. Setelahnya gadis itu kembali tertunduk dan tersipu malu.
“This is true?” tanya Kenny yang masih tidak percaya dengan apa yang didapatkannya.
“Ya.” Wilda mengangguk, “Tapi jangan lagi, sudah sekali itu saja, selebihnya kalau kita sudah menikah saja.”
“Yes!” pekik Kenny kegirangan. “Wuhu …!” soraknya seraya berlari memutari taman sendirian sedangkan si wanita hanya tersipu malu di tepian.
*
*
*
Sementara itu di dalam sebuah kamar nan besar dan mewah.
“Terima kasih ya, sudah menjelaskan kepada dunia kalau aku ini bukan sengaja merebutmu dari istrimu Mas. Tapi apa pun itu tetap saja tidak akan bisa mengubah cerita yang ada. Ternyata aku pelakornya. Sekarang aku terima itu dengan lapang dada.”
“Iya, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menatap masa depan. Jangan sibuk mengurus masa lalu, urus masa depan rumah tangga kita dan anak-anak kita saja.”
Neta mencium sekilas pipi Kei. “Mengurus kamu juga. Aku tidak mau jika nanti ada pelakor dalam rumah tangga kita.”
“Tidak akan, ‘kan kamu pelakornya,” balas Kei yang kemudian tertawa bersama sang istri.
~ END ~
__ADS_1