
59.
"Tidak bagus, wanita cantik sendirian di tempat seperti ini. Di mana suamimu kakak ipar?" tanya Kenichi sembari berjongkok di samping Neta.
Neta menoleh dan dia segera mengusap air matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah dengan menunjukkan kesedihannya. Neta tetap ingin terlihat kuat.
"Kakakmu sedang bekerja di ruangannya. Ada apa Keni, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Neta dengan lembutnya.
"Dia begitu lembut. Meskipun tadi kami sempat bertengkar, tapi sikapnya tetap baik. Sangat jauh berbeda dengan Kak Salma. Apa karena ini Kei begitu mencintainya dan memilihnya dari pada Kak Salma?" pikir Keni.
"Apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Neta sembari berdiri.
"O ... Oh, enggak. Tidak ada, hanya sedang ingin duduk di luar saja tadi dan melihatmu di sini," elak Keni dengan tersenyum canggung. Dia lalu berdiri untuk menyamai Neta.
"Em, kalau begitu aku permisi ya," pamit Neta yang tanpa menunggu balasan dari Keni pun ia langsung melenggang begitu saja.
"Tunggu kakak ipar! Apa bisa kamu buatkan aku kopi? Aku ingin minum kopi, tapi malas keluar rumah. Mau buat sendiri aku tidak bisa," kata Keni beralasan. Padahal dia hanya mengulur waktu untuk bisa lebih lama lagi bersama dan melihat kakak iparnya.
"Kopi ya? Kopi hitam atau, espreso? Kalau untuk kopi yang seperti itu kakakmu yang pintar. Aku hanya bisa membuat kopi hitam khas Indonesia," jawab Neta.
"Kalau memanggil Kei, itu menjadi tidak asyik lagi. Dia akan segera menarik masuk istrinya ke dalam kamar. Padahal aku sangat ingin bersama dengannya," batin Kenichi.
Keni terdiam beberapa saat sebelum dia menjawab pertanyaan Neta. "O ... Oh iya. Iya buat yang hitam saja. Aku penasaran bagaimana rasanya."
__ADS_1
Keni tersenyum begitu tipis, saat Neta mengangguk dan berjalan di depannya. Entah mengapa senyuman itu hadir. Dia senang saja kakak iparnya itu meluangkan waktu sejenak, dan mau membuatkan kopi untuknya.
Sampai di dapur, Neta dengan begitu luwesnya membuatkan secangkir kopi untuk Keni. Baru saja kopi itu ia suguhkan, Kei datang dengan tiba-tiba. Dengan santai suaminya itu langsung duduk di samping adik sepupu tirinya itu.
"Sayang, sudah kerjanya? Maaf ya, tadi aku ke luar sebentar buat jenguk adek. Enggak sengaja ketemu Keni dan minta buatin kopi," kata Neta yang menjelaskan panjang lebar.
Kei menyunggingkan senyumnya. Ia menatap sinis Keni yang tersenyum meledeknya. Sementara itu Neta langsung menggenggam tangan Kei meski terhalang meja dapur.
"Kamu mau aku buatkan apa?" tanya Neta kepada suaminya sambil tersenyum begitu manis.
Kei membalas senyuman manis istrinya. Ia menarik cangkir kopi milik Keni lalu menyeruputnya. Ia begitu tenang saat melakukan itu membuat Keji dan Neta terbengong.
"Kei, itu punyaku!" sergah Keni.
"Apa-apaan ini? Dia menyinggungku melalui secangkir kopi? Oh ... Oke," batin Keni yang mengangguk pelan.
"Iya, aku mengerti." Keni menjawabnya dengan begitu santai.
"Ah, kenapa mereka ini saling singgung seperti ini. Ini hanya soal secangkir kopi dan suamiku sudah marah seperti ini. Meski dia tidak mengatakan apa-apa, namun aku paham sekali akan bentuk kemarahannya. Hhh ... Dia berlebihan sekali," batin Neta.
"Sayang, mau aku buatkan wedang jahe?" tanya Neta menawari sekaligus ingin memecah situasi yang kaku dan menegangkan tersebut.
"Boleh, aku akan membantumu ya?" jawab Kei yang kemudian beralih, berpindah ke bagian dalam dapur. Padahal tadinya dia duduk di bagian meja yang nampak seperti meja di bar.
__ADS_1
Dalam kesempatan itu, di saat Neta membuatkan wedang jahe, Ke-i bukannya membantunya. Justru dengan begitu jahilnya dia memeluk lalu mencium pipi sang istri di hadapan adik tirinya. Melihat itu, entah mengapa Keni langsung merasa tidak nyaman. Dia sampai meremas gagang cangkir kopinya hingga patah.
Klek!
Suara patahan itu terdengar di telinga Neta dan Kei yang langsung menoleh. Mereka berdua menatapnya penuh tanya. Sedangkan Neta terkejut saat melihat itu. Tangan Keni terluka.
"Keni! Hati-hati, tanganmu terluka," ujar Neta yang ingin segera mendatangi Keni dan memberikan pertolongan.
Namun, Kei juga dengan cepat langsung mengambil sikap. Dia langsung memeluk sang istri dari belakang dan tak membiarkannya untuk memberikan pertolongan. Kei memulai dramanya.
"Oh, Sayang kenapa ya aku tiba-tiba pusing? Apa aku masuk angin ya? Bisa kamu utamakan aku dulu, hum?" tanya Kei dengan kedua matanya yang membulat meminta perhatian.
"Sayang, itu tangan Keni ...."
"Itu hanya luka kecil dan dia sudah besar. Luka seperti itu tidak akan membuatnya mati kehabisan darah." Kei berbicara dengan nada bicaranya yang terdengar menyebalkan bagi Keni.
"Oh, I'm oke. I'm oke," kata Keni. "Jangan terlalu khawatir kakak ipar. Oh, iya, terima kasih untuk kopinya ya. Ini enak dan aku suka. Lain kali buatkan lagi ya?" kata Keni yang dengan sengaja menguji kesabaran Kei.
Neta hanya tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya. Dia bingung harus bersikap seperti apa di hadapan suami dan adik sepupu tirinya yang tidak pernah akur itu. Keduanya hanya saling singgung dan menunjukkan pesonanya masing-masing.
"Jangan termakan dengan sikap baiknya. Itu semua hanya pura-pura. Aku tunggu di kamar ya," kata Kei.
"Muach!" Satu kecupan singkat Kei daratkan di pipi sang istri.
__ADS_1
"Ada apa kalian berdua ini? Ini aneh sekali, keduanya saling menjelekkan, tapi di mataku keduanya sama-sama baik," gumam Neta dalam hatinya sembari menatap punggung suaminya yang semakin menjauh.