
Dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, sepasang suami istri tengah berdebat kecil. Neta dan Kei lagi-lagi membicarakan soal anak dan kali ini agaknya lumayan serius. Keduanya sampai terkekeh setelahnya. Entah angin apa yang membawa tawa itu.
"Kataku juga apa, kamu itu tidak apa-apa, semua itu hanya diagnosa menyebalkan dari satu dokter, aku sering menjumpai hal seperti itu di mana antara satu dokter dengan dokter lainnya mempunyai diagnosa yang berbeda."
"Ya, aku juga tahu itu Kei. Tapi apa kamu tahu bagaimana rasa sakitnya? itu sakit yang sakit sekali, aku sampai pingsan kadang," aku Neta.
Kei menoleh lalu mengusap kepala sang istri. "Hemh ... yang terbaik sekarang ini kamu sudah tidak apa-apa lagi. Aku senang setelah inj adalah masa suburmu. Kita bisa fokus mencetak bayi kecil setelah ini."
Neta tersipu malu, ia lalu menepuk paha snag suami. "Kalau itu sih selalu yang jadi kemuanmu. Kami selalu mau banyak anak. Tapi aku tidak mau kalau mengurusnya sendirian. itu melelahkan."
"Aku akan mengurusnya juga Ta, mereka kan anakku," kata Kei sambil tertawa kecil. Bagaimana bisa seorang ayah yang begitu mendambakan kehadiran anak tidak mau membantu istrinya?
Setelah tawa itu memudar, suasana berganti menjadi begitu hangat. Kei, dia terdiam beberapa saat sebelum kembali berbicara. Kali ini pembicaraannya lumayan serius.
"Ta, kamu sudah memaafkan aku. Lalu bagaimana dengan Ibu dan bibimu? Apa hatimu sudah bisa menerima mereka kembali? Jika tidak karena ulah ibu, kita tidak akan jadi seperti sekarang ini Ta," kata Kei.
Neta terdiam. Dia menunduk lalu berbicara dengan sedikit kegelisahan yang mewarnainya. Kenangan masa kecil itu hadir dan membuatnya meragukan hubungannya dengan sang ibu.
"Kamu tahu, setelah kejadian dia menjualku kepadamu itu aku jadi berpikiran, apa dia itu ibu kandungku atau bukan. Aku baru menyadari sesuatu bahwa sikapnya kepadaku itu datar dan dingin. Apa lagi ... semenjak kematian ayah," kata Neta yang kembali mengenang sang ibu.
Kei terheran, dia tidak tahu bila istrinya itu mempunyai masa sulit dengan sang ibu. Selama ini dia kira hubungan ibu dan anak itu berjalan dengan baik. Namun, pada hari ini Kei baru tahu bila ternyata semua itu hanyalah semu.
"Sebagai ibu, dia sama sekali tidak pernah memelukku di waktu aku sedih. sama sekali tidak. Di saat kematian ayah saja ... dia sama sekali tidak menyentuhku. Aku baru menyadarinya sekarang ini bahwa sikapnya itu aneh untuk dikatakan sebagai seorang ibu yang baik."
__ADS_1
"Ibu yang baik itu bukan ibu yang suka memeras anaknya bukan? Ibuku ... setelah aku telaah lagi, setelah kejadian kemarin, aku baru menyadarinya bahwa dia suka sekali mengambil keuntungan dariku," papar Neta dengan menitikkan air matanya.
"Hei, jangan menangis Sayang. Tenanglah, aku sudah menjauhkan dia. Sudah tidak lagi ada di sekitar kita," kata Kei yang berusaha untuk menenangkan Neta.
Mendengar perkataan Kei membuat Neta mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa maksud terselubung suaminya itu. Semula, Neta pikir ibunya pergi atas kemauannya setelah melihat banyaknya masalah yang ia alami, tapi ini?
"Apa maksudnya? Apa kamu mengasingkan dia?" tanya Neta.
"Iya, aku mengasingkannya ke sebuah rumah di tengah perkebunan ku. Aku marah setiap kali mendengarkan laporan dari para penjaga bahwa ibu masih saja ingin membuatmu menikah dengan orang lain yang lebih kaya dariku. Oh ... hubungan macam apa yang kalian miliki? Apa kamu ini hanya dia anggap sebagai objek?"
"Aku tidak tahu," Neta menggeleng. "Tapi dia baik-baik saja 'kan? Mau bagaimana juga dia itu tetap ibuku, walaupun aku meragukan dia itu ibu kandungku atau bukan," ucapnya cemas.
"Kamu ini baik hati sekali," puji Kei sambil tersenyum manis kemudian menggenggam tangan sang istri dan menciumnya.
"Kenapa kamu sampai mengasingkannya seperti itu?" tanya Neta dengan polosnya. Maniknya terlihat begitu menantikan jawaban jujur.
Kei menepikan mobilnya dan mereka sudah sampai di rumah besar. "Karena aku mencintaimu. Aku tidak mau kamu jauh dariku, sebab dia berkali-kali mengatakan ingin menikahkanmu dengan orang yang lebih dariku."
"Tidak mungkin juga aku akan masuk ke dalam perangkapnya lagi Kei. Sudah cukup selama ini aku selalu menuruti kemauannya. Karena kejadian kemarin itu merupakan suatu pukulan besar bagiku. Aku tidak akan mau lagi menikah atas paksaannya." Neta menjawabnya dengan membuang muka. Ia menatap keluar jendela dengan tangan yang saling mer*mas seolah itu merupakan penggambaran hati yang sakit dan kecewa.
"Sudah sampai, mari kita turun," ajak Kei yang kemudian membuka sabuk pengaman dan dia hendak membukakan pintu untuk istrinya.
Namun ... Neta sudah mendahului dengan membuka sendiri pintu tersebut dan turun dengan santainya. Dia tidak peka terhadap satu hal ini di mana suaminya sedang berusaha memberlakukan dirinya seperti seorang ratu. Hal itu tentunya membuat Kei merengut di depan pintu.
__ADS_1
"Ngapain sudah turun sebelum aku membuka pintu untukmu? Siapa yang menyuruhmu seperti itu? Kembali masuk dan aku akan membukakan pintunya," titah Kei diselingi dengan ocehan lucu.
"Eh, dia ini seperti ini rupanya? Sangat posesif sekali," gumam Neta dalam hatinya.
...----------------...
Sementara itu dari dalam rumah besar, nenek Fuji dan suster Dini sudah mempersiapkan semuanya untuk menyambut keduanya. Mereka bahkan sampai membuatkan namakan spesial. Bukan hanya itu, adik nenek Fuji pun hari ini datang dari Jepang.
Nenek Yuki, datang bersama cucu laki-lakinya yang bernama Kenichi. Kedatangan keduanya memang berkaitan dengan bisnis keluarga. Mereka akan membuat pengembangan di resort baru.
"Sus, siapa itu, Kei atau Keni?" tanya nenek Fuji pada suster Dini.
Suster dini pun segera membuka ponselnya yang terhubung dengan CCTV. "Oh, itu tuan muda Kei. Dia baru saja tiba."
"Mana, aku mau melihatnya juga," kata nenek Fuji dengan raut bahagia. Wanita tua yang mempunyai banyak harta itu terlihat begitu senang kala mengamati bagaimana sang cucu yang saat ini terlihat lebih hidup dari sebelumnya.
"Kei, saat ini terlihat seperti manusia normal. Dia tidak lagi seperti zombie. Oh iya, bagaimana pemeriksaan kesehatannya, apa paru-parunya sudah menunjukkan perubahan?" tanya nenek Fuji.
"Kita belum melakukan pemeriksaan lagi Nek, tapi melihat dia yang selalu mematikan rokok saat di dekat Nona Neta, itu sudah menunjukkan satu perubahan yang luar biasa. Saya juga sudah tidak lagi pernah mencium bau alkohol saat di dekatnya," jawab suster Dini dengan begitu yakin dan mantap.
"Bagus, memang seharusnya dia begitu memikirkan kesehatannya juga sebab dia satu-satunya pewaris semua yang aku punya," kata nenek Fuji.
"Lalu adik tiri anda, apa dia masih saja berusaha untuk melengserkan tuan muda?" tanya Suster Dini.
__ADS_1
"Masih, dia bilang Keni lebih baik dari pada Kei untuk mengurus bisnis keluarga kami." Nenek Fuji menjawabnya dengan berat hati. Bahkan membicarakan cucu kesayangannya akan dilengserkan pun sudah membuatnya merasa bersedih.