
3 bulan berlalu dari semenjak kejadian itu. Sidang perceraian pun telah usai dengan Kei yang mengalah dengan sedikit harta gono-gini yang ia dapatkan. Dia lebih memilih istri keduanya dari pada tumpukan harta yang sebenarnya bisa dengan mudah ia dapatkan.
Akan tetapi, masalah tidak berhenti sampai di sana. Masalah itu masih berlanjut dengan banyaknya gosip yang beredar tentang hubungan mereka. entah siapa yang memviralkan hal ini, yang jelas karena ini kini mental Neta kembali tertekan. Dia yang hanya wanita pendiam sampai tidak berani keluar dari rumah.
"Mana istrimu, apa dia tidak ikut makan malam?" tanya nenek Fuji.
"Sebentar Nek, biar aku panggil dia. Banyak berita yang beredar menyudutkan dirinya. Dia merasa bersalah dan tertekan atas semua ini. Aku sudah melarangnya untuk bermain ponsel sementara waktu ini. Hhh ... mereka semua menyebut Neta sebagai Pelakornya." Kei sampai mengusap wajahnya gusar.
"Iya, jika dilihat dari kejauhan memang semua ini salahnya. Predikat sebagai perebut laki orang itu sudah melekat pada dirinya. Sayangnya, Neta itu wanita baik-baik yang sama sekali tidak pernah melakukan hal melenceng seperti ini. Jadi wajar bila satu kesalahan yang dituduhkan kepadanya membuatnya frustasi. Kamu harus bisa membuatnya lupa Kei. Bawa dia melakukan apa yang dia suka," kata nenek Fuji.
"Iya Nek, Nenek benar. Aku rencananya hari ini akan mengajaknya untuk berkemah berdua. Iya hanya di taman belakang."
"Itu bagus, setidaknya ada hal baru yang harus dia lakukan. Oh, begini saja. Kalian berangkat ke vila milik nenek dan berlibur lah, setidaknya untuk menenangkan pikiran." nenek Fuji tersenyum lembut saat mengatakannya. Tatapan matanya terlihat teduh.
"Hem, oke. Nek, semenjak hari itu banyak yang berubah padanya," aku Kei yang baru berani mengatakan kejujuran mengenai keadaan istrinya.
"Apa itu Kei?" tanya nenek Fuji dengan segala atensinya. Dia tertarik dengan apa yang cuci semata wayangnya ceritakan.
"Neta, dia menutup diri dariku. Dia menjaga jarak dariku dan lebih banyak diam. Dia seolah ingin mengasingkan diri Nek. Tubuhnya semakin kurus saja, dia bahkan sangat senang berada di kamar mengunci diri. Aku bingung Nek harus bagaimana, sedangkan aku aku terlanjur mencintainya aku tidak bisa jauh darinya tapi dia, dia ingin jauh dariku," aku Kei dengan air matanya yang menetes melambangkan sakit hati yang ia alami.
"Itu wajar Kei, sudah nenek bilang, dia itu gadis baik-baik jadi terlibat dalam masalah yang pelik dan rumit seperti ini bisa membuatnya sangat frustasi. Dia merasa sangat berdosa dan memang butuh waktu untuk menyembuhkan perasaannya. Posisinya saat ini adalah sebagai pelaku kejahatan yang dia sendiri tidak sadar telah melakukannya. Kamu, kamu yang harus bersabar dan terus melindunginya. Dia terlalu ringkih untuk bertarung dengan kejamnya dunia."
__ADS_1
Kei menghela napasnya dan berlalu menuju ke kamar sang istri. Kini, tidak ada waktu yang menyita lagi. Keseharian Kei hanya dihabiskan di rumah dan berdiam diri. Ia baru saja berencana untuk membuka usaha baru.
Kei menata ulang hidupnya bersama Neta. Dia tidak mau bila suatu saat nanti di saat Salma keluar dari jeruji besi, ia menuntut banyak hal yang sudah Kei lakukan bersama dengan Neta. Kei tidak mau itu sampai terjadi.
"Ta," panggil Kei pelan pada wanita yang tengah terdiam menatap ke hamparan hijau rerumputan.
"Iya," sahut Neta lirih.
Seperti apapun itu, Neta seketika dipanggil oleh suaminya sellau saja bisa menampilkan ekspresi wajah yang sedap dipandang mata. Ia tersenyum lalu menghampiri Kei. Kei yang mendapatkan perlakuan baik seperti inilah, yang membuatnya sangat tidak bisa bila harus berjauhan dari istri mudanya ini.
"Lagi apa?" tanya Kei yang mendekat sambil tersenyum. Jemarinya hinggap di pucuk kepala Neta lalu mengusapnya penuh kasih.
"Enggak apa-apa, lagi lihat gerimis aja. Bagus Kei kena sorot lampu," jawab Neta bohong.
"Benarkah? Aku tahu kamu bohong Ta. Kamu habis nangis lagi?" tebak Kei dengan tatapan matanya yang menatap lurus sang istri.
Pada akhirnya Neta mengangguk pasrah. Lelakinya ini selalu saja tahu apa yang ia rasakan. Kegalauan, dan kegelisahan itu menyergapnya dan membawanya menjauh dari kenyamanan dan ketenangan.
"Aku sedih, mereka semua menuduhku. Mereka menuliskan sesuatu yang aku saja sama sekali tidak merasa melakukannya. Mereka mengaitkannya dengan guna-guna. Mereka juga sebarkan berita tidak benar, tentang aku yang sudah mengincarmu dari dua tahun lalu hanya berdasarkan pada desain baju yang kamu kenakan saat acara ulang tahun nenek. Apa itu masuk akal?"
"Aku sakit hati Kei harus dicap seperti itu," tutur Neta dengan deraian air mata.
__ADS_1
"Hei, sudahlah. Kamu hanya punya satu mulut, itu akan menghabiskan sisa hidupmu untuk menjelaskan itu. Tapi, kamu punya dua tangan untuk menutupi telingamu. Setidaknya dengan begitu kamu tidak akan mendengar tentang apa yang mereka katakan. Apa kamu main ponsel lagi hari ini?"
Neta menggeleng. "Aku enggak main ponsel Kei, cuma nonton TV dan berita tentang kita, sama sekali belum mereda. Hhh ... kadang aku merasa kalau aku ini terlalu lemah. Aku tidak bisa sekuat mereka yang dengan mudah melabrak atau berkoar-koar untuk hal yang memalukan."
"Karena kamu itu wanita baik-baik, kamu mempunyai kelasmu sendiri," kata Kei yang kemudian memeluknya.
"Ta, sudah 3 bulan kita pisah ranjang. Kamu bilang ingin menenangkan diri. Apa sekarang sudah bisa lebih tenang? Apa bisa kita satu ranjang lagi? Aku kangen sama kamu Ta," kata Kei.
Mendengar apa yang Kei katakan Neta langsung melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah. Dia seolah tidak mau memberikan Kei kesempatan untuk bisa bersama di dalam satu ranjang lagi. Sementara itu, Kei menatapnya bingung.
"Ada apa Ta? Aku suamimu," ucap Kei.
"Hanya suami siri Kei. Suami siri, aku bahkan tidak bisa menuntut apa-apa darimu. Kalau Kak Salma saja bisa kamu tinggalkan karena aku, lalu bagaimana bila suatu saat nanti kamu juga meninggalkan aku demi wanita lain?"
Pertanyaan yang Neta lontarkan sukses membuat Kei marah. Dia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku tangannya memutih. Dengan membawa kemarahan Kei pergi dari kamat sang istri dengan membanting kasar pintu kamarnya.
Brak!
Neta terdiam. Dia terlonjak akan tetapi sama sekali tidak bergeming. Ia hanya mengutarakan ketakutannya selama ini.
Tidak menutup kemungkinan memang bila apa yang Kei lakukan pada Salma, suatu hari nanti juga bisa ia lakukan kepada Neta. Terlebih, Neta juga masih belum bisa dipastikan untuk hamil lagi setelah kejadian itu. Hal itulah yang membuat Neta merasa terancam.
__ADS_1
"Bisa-bisanya dia berpikiran aku akan seperti itu?" kata Kei sembari membanting pintu. "Apa kamu pikir aku itu sangat buruk Ta!" teriaknya.
"Ada apa lagi anak itu?" gumam Nenek Fuji yang terheran dengan apa yang Kei lakukan.