
"Selamat malam Nek," sapa Kei kepada nenek Fuji.
"Malam Sayang, Ta, bagaimana liburannya seru?" tanya nenek Fuji yang lebih senang memberikan respon kepada Neta dari pada Kei.
"Aku sudah diacuhkan dan sebentar lagi akan ditendang. Aku yang bertanya, Neta yang dijawab," gerutu Kei sembari menarik kursi untuk istrinya duduk.
"Baik Nek, liburannya seru banget kok. Iya kan Kei?" tanya Neta kepada Kei dengan kepalanya yang meneleng dan bibirnya yang menyunggingkan senyumnya.
"Kei, Kei saja terus," sindir Ke-i dengan maksud mengingatkan Neta akan kesepakatan mereka kemarin untuk memanggil Sayang dan bukan nama saja.
"Oh, suamiku itu agak sensitif Nek, dia tidak mau dipanggil nama, dia mau dipanggil Sayang. Manja sekali kan Nek?" tanya Neta sambil meneleng.
Nenek Fuji tersenyum mendengarkan itu. Apalagi, saat ini pipi Kei memerah karena perbuatan istrinya. Seharusnya dia tidak bicara blak-blakan seperti itu di hadapan nenek.
"Sayang, jangan marah ya. Aku hanya bercanda tadi," kata Neta sembari tersenyum manis dengan tangan yang bergerak mengusap punggung Kei yang duduk tanpa menatapnya.
Di saat yang begitu hangat itu, terdengar suara derap langkah kaki yang mendekat. Kei dan Neta dengan kompak menoleh dan mendapati sosok asing di mata Neta tetapi tidak di mata Kei. Dia adalah Keni dan Nenek Yuki. Dua orang yang bahkan tidak diundang dalam acara pernikahan Ke-i kemarin.
"Kenapa ada mereka di sini?" desis Ke-i seketika kepada sang nenek.
"Mereka datang untuk urusan bisnis dan juga ...." jawab nenek Fuji yang belum selesai namun Kei sudah memotongnya.
"Apa soal warisan? Ah, mereka itu tamak Nek. Kenapa harus mengundang mereka lagi?" tanya Kei penuh penekanan.
"Kei, kita tidak bisa selamanya menghindar. Nenek sudha tidak akan lama lagi di dunia ini. Nenek ingin menyelesaikan apa yang harusnya diselesaikan," kata nenek Fuji.
__ADS_1
"Sayang, jangan marahi nenek. Kalau kamu tidak suka, kita ke kamar saja," kata Neta dengan lembutnya.
Kei menatap Neta, wanita lembut itu sama sekali tidak berapi-api meskipun membahas soal warisan. Bila itu adalah Salma, tentu yang terjadi adalah perkelahian. Akan tetapi saat ini suasananya masih terbilang kondusif.
"Kenapa harus ke kamar? Kami ini tamu dan batu datang, Kak Fuji, apa begini caramu mendidik cucumu satu-satunya? Oh sungguh disayangkan sekali sikapnya ini," cetus nenek Yuki yang terdengar begitu merendahkan kualitas didikan nenek Fuji.
"Kei, duduk kembali," kata nenek Fuji tanpa mau menatap cucunya.
Wanita tua dengan baju putihnya itu duduk dengan gayanya yang begitu angkuh. Dagunya terangkat dan terlihat betapa ia ingin dijunjung tinggi di perjamuan itu. Kei yang sudah sangat hapal dengan sikap nenek beserta cucunya yang sebelas dua belas itu pun memilih untuk acuh.
"Apa kabar Kakak ipar? Perkenalkan aku Keni, aku masih berkerabat dekat dengan tuan muda Keiji ini. Nenekku adalah adik tiri dari nenek Fuji. senang berjumpa denganmu meski di saat pernikahan kalian kami sama sekali tidak dikabari," kata Keni yang memperkenalkan dirinya dengan panjang lebar.
Neta yang tadinya menerima uluran tangan Kenichi itu pun kemudian menangkap adanya sinyal permusuhan. Dia lalu berupaya untuk menarik tangan Kenichi, namun sayangnya Keni tetap menggenggam tangan kakak iparnya itu. Ia tersenyum miring dan terlihat ingin menggoda Neta.
"Sayang," desis Neta seperti meminta pertolongan. Maniknya menatap sang suami dengan iba dan Kei segera berdiri.
"Lepaskan tangannya, ini tidak pantas terjadi di meja makan. Hormati dia!" tegur Kei.
"Wohoho! Marah rupanya? Wah, jauh berbeda sekali ya. Istrimu yang pertama seperti keturunan iblis. Kenapa sekarang memilih yang bergaya malaikat begini?" ejek Keni dengan sangat sengaja dan tatapan matanya seperti sedang melucuti Neta.
"Jaga sikap dan bicaramu! Ini rumahku!" bentak Kei yang sudah marah lantaran sikap kurang ajar Keni.
"Hentikan! Jangan ada keributan di meja makan. Jaga sikap kalian!" tegur Nenek Fuji.
Nenek Yuki lalu menarik pelan ujung lengan jas Keni. "Duduklah, jangan seperti orang kampung!"
__ADS_1
Perseteruan dingin itu diakhiri dengan acara makan malam yang begitu hening. Selain piring dan sendok yang berbicara , tidak ada lagi suara di sana. Setelahnya, barulah mereka kembali bicara ketika Kei menarik tangan Neta dan mengajaknya menuju ke kamar mereka.
"Tunggu! Duduk di sini, kami datang ke sini hanya untuk membahas soal warisan yang belum dibagikan secara adil. Jadi jangan menghindar lagi dari kami. Kami sudah lelah menghadapi kebohongan kalian!" kata Nenek Yuki yang terdengar begitu lantang sampai suara menggema di dalam rumah besar itu.
"Siapa yang berbohong? Nenekku maksudmu? Hei, coba diingat kembali siapa yang berasal dari wanita simpanan di sini. Kamu atau nenekku? Ingat asal usulmu!" tunjuk Kei yang sudah terlanjur marah.
"Kak, kamu lihat itu? Wah, dia sangat mirip dengan ayahnya yang juga selalu menentang kehadiran keturunanku. Apa kamu tidak bercerita juga bagaimana ibumu dulu memperlakukan ayah?" tanya nenek Yuki yang seolah sangat ingin membuka aib lama.
"Hentikan! Hentikan Kei," putus nenek Fuji yang mulai mengambil sikap.
"Duduklah, nenek harus mengatakan ini kepadamu. Ada cerita yang belum kamu ketahui selama ini. Bahwa kakek buyutmu dulu menikah dengan nenek buyut hanya karena terpaksa. Karena dijodohkan sampai lahirlah nenek. setelah banyak badai yang menghantam, terjadilah pertengkaran hingga mereka berpisah ranjang. Lalu, nenek buyut dari nenek Fuji ini kembali. Dia adalah cinta sejati dari kakek buyutmu."
"Semenjak saat itu, kakekmu beristri dua dan dia lebih memilih istri pertamanya sampai ajal menjemputnya. Tidak jauh berbeda dengan kisah pernikahanmu Kei. Jadi aku mohon, mengertilah. Terimalah keadaan ini, nenek Yuki dan Kenichi juga mempunyai hak atas peninggalan kakekmu. Dulu ayahmu selalu melarangku untuk membaginya. Sekarang aku mohon buka hatimu," pinta nenek Fuji.
Kei tidak menjawabnya, dia bergegas pergi begitu saja. Entah apa yang dia rasakan namun sepertinya ada rasa malu di sana. Semua laki-laki di dalam keluarga mereka seperti mengulang kisah yang sama. menikah dua kali dan mendapatkan cinta sejati di istri kedua. Bahkan nenek Fuji pun merupakan istri kedua dari kakeknya.
Jeglek! pintu tertutup dan Kei menghadap ke jendela kamarnya. Dia merasa frustasi menghadapi masalah ini. Begitu mengusik pikirannya hingga membuatnya malas untuk berkata-kata.
"Sayang, kamu marah?" tanya Neta dengan sangat halus.
"Aku marah terhadap takdir kami. Takdir keluarga kami. Kenapa laki-laki dari keluarga kami ditakdirkan menikah dua kali? Kenapa Ta? Juga fakta ini tentang Kakek buyut yang sama sepertiku di pernikahan pertama, sama sekali tidak dihargai oleh istri pertamanya. Aku kesal, aku sedih Ta," aku Kei.
"Tenang, jangan marah. Menikah itu bukan sekali seumur hidup. Tapi tentang bagaimana kamu menemukan kenyamanan dan ketenangan di dalamnya," ucap Neta yang berusaha untuk menurunkan kadar amarah sang suami.
"Pelukannya selalu bisa membuatku merasa tenang. Kenyataan dan takdir apa ini? Kenapa setiap anggota keluarga kami selalu mempunyai kisah cinta ke dua?" pikir Kei.
__ADS_1