Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
53. Mulai posesif


__ADS_3

"Udah marahnya, masak mau marah terus Kei, eh Yang. Udah ya, mau bagaimana juga mereka itu saudaramu. Posisinya hampir sama dengan kita kalau kamu dan Kak Salma punya anak." ucap Neta.


"Kalau aku ada anak, aku tidak akan menikah lagi Ta," jawab Kei.


Neta tersenyum lalu melepaskan pelukannya. Ia lalu duduk di sofa yang ada di kamar tersebut. Sambil memijit kakinya sendiri ia bicara, "Siapa yang bisa menjamin kedepannya mau seperti apa? Kamu bisa bilang begitu karena kamu belum melakoninya."


"Seumpama kamu ada anak dan kelakuan Kak Salma masih sama. Apa iya kamu akan bertahan? Tidak Ke-i, ke mana harga dirimu sebagai laki-laki? Apa kamu bisa membunuh egomu sendiri? Aku enggak yakin, secara logika saja sudah terlihat bagaimana nantinya kamu mengambil sikap, tetap bercerai dan mencari istri baru. HHhH ... makanya aku merasa begitu was-was di sini. Kalau aku tidak hamil juga sedangkan kamu sudah sangat ingin anak, maka kamu akan menceraikanku juga," papar Neta dengan pemikirannya.


Mendengar apa yang Neta katakan, Ke-i seketika mendekat dan duduk di sampingnya. Matanya menatap lurus sang istri tanpa berkedip. Entah tatapan macam apa itu, yang jelas Neta sampai kebingungan dibuatnya.


"Kenapa lihat aku kayak gitu? Ada apa? Aku benar kan? Keluarga ini butuh penerus, dan kalau aku tidak bisa memberikannya maka pernikahan kita juga akan sia-sia, jadi ya, apa sal ...."


Neta belum selesai bicara dan Kei sudah menubruknya membuatnya jatuh dan berbaring di atas hamparan kasur empuk itu. Kei segera mengungkungnya, menguncinya dan membuat Neta tak bisa bergerak sama sekali. Kali ini tatapan matanya berbeda, seperti campuran rasa marah dan kecewa.


"Sudah ratusan kali aku bilang, jangan bicara seperti itu. Siapa juga yang akan ninggalin kamu. Kalau enggak ada anak ya udah, kita buka panti asuhan aja. Dengan begitu kita akan punya banya anak tanpa kamu harus melahirkan," kata Kei.


"Terus, siapa yang akan mewarisi harta kalian nantinya kalau tidak ada keturunan?" tanya Neta yang sebenarnya hanya ingin memancing Kei. Dia hanya ingin tahu bagaimana pemikiran suaminya untuk masalah ini.


"Kalau kita buka panti asuhan, semua harta yang kita punya ya untuk mengurus panti. Bukankah ini hanya bagaimana cara kita untuk menghabiskan uang? Sama saja, malah akan lebih berkah," kata Ke-i yang membuat Neta tercengang.


"Dia sudah tidak terobsesi lagi dengan hartanya. Tidak ada lagi niatan untuk menambah kekayaannya. Sangat jauh berbeda dengan Kei yang aku temui beberapa bulan lalu saat kami bercerai," batin Neta.


"Oke kalau begitu, mungkin aku bisa belajar untuk percaya," kata Neta yang sebenarnya hanya ingin menggoda Kei saja.


Kei menyeringai dan melihat dari bawah lalu naik ke atas dengan senyuman yang sedikit mengerikan bagi Neta. "Kalau begitu kita harus rajin mencobanya, aku sudah merindukan kegiatan ekstra itu."

__ADS_1


"Ap ... apa maksudnya?" Neta tergugup dan langsung menyilangkan kedua tangannya ke dada dengan tatapan mata curiga.


"Wah, kamu sudah pandai seharusnya Sayang, aku sudah beberapa kali mengajarkannya, bahkan sudah pernah ada si kakak di sini," jawab Kei sambil mengusap lembut perut sang istri.


Awalnya memang mengusap lembut. Tapi pada akhirnya dia menggelitik hingga Neta tertawa terpingkal-pingkal. Gelak tawa memenuhi ruangan itu. Tawa lepas yang telah lama menghilang dari Kei, kini kembali lagi.


"Tapi ini di rumah nenek dan di luar sedang ada tamu, nanti kamu berisik," ujar Neta menyebutkan kebiasaan Kei yang ketika mencapai puncaknya dia akan mendesah dan mengerang kuat.


"Ya! Memamg harus begitu mengekspresikan kenikmatannya. Kalau hanya diam saja itu tidak asyik. Kamu tahu Ta, sedikit desa*anmu itu sudah bisa membuat dedek gemesku berdiri," aku Kei yang membuat Neta membulatkan matanya.


"Itu pengakuan terjorok yang pernah aku dengar dan itu dikatakan oleh suamiku sendiri. Hahaha, Bapak Kei, aku ini masih sangat awam. Masih butuh banyak bimbingan, bahkan mendesah aja aku masih fals." Neta membalasnya dan itu membuat Kei tertawa.


"Hahaha! Kenapa istriku ini sangat menggemaskan?" ucapnya sembari menjatuhkan tubuhnya tepat di atas tubuh sang istri. Tiada jarak diantara mereka berdua, melekat dan hangat.


"Makasih ya, sudah mau kasih aku kesempatan lagi. Aku merasa sangat beruntung bisa berada di saat seperti ini bersamamu. Aku, harus lebih banyak membahagiakanmu Sayang," kata Kei yang membuat hati Neta berbunga-bunga. Pujian dan ucapan syukur itu bersanding dan membuatnya bahagia.


"Oh, Nona matre rupanya," sindirnya.


"Bukan matre, tapi realistis saja," ralat Neta sambil mengusap lembut rambut hitam sang suami yang mana wajahnya terbenam di lehernya.


"I love you," bisik Kei dengan suaranya yang begitu pelan dan berat seolah bergetar di telinga Neta.


"Yang, geli loh. Kalau ngomong jangan di leher," tegur Neta sambil menahan geli.


"Geli ya? Kalau gini?" tanya Ke-i dengan tangan terampilnya yang sudah masuk ke dalam piyama sang istri yang meraba sesuatu yang menonjol kenyal di sana.

__ADS_1


Pada akhirnya, tetaplah keinginan Ke-i yang terkabulkan. Selesai dengan hubungan yang berpahala besar itu, Ke-i langsung memiringkan tubuh Neta ke kanan. Neta yang tidak tahu apa tujuan suaminya itu pun bergerak dan berniat pergi ke kamar mandi.


"Stop! Jangan gerak dulu 15 menit. Aku lupa bilang ya, mulai sekarang kita program buat anak cowok. Katanya kalau anak cowok harus miring kanan. Kalau anak cewek harus miring kiri," kata Kei.


"Hah, apa? Sayang, apa kamu serius? Kenapa harus kayak gini sih? Kenapa enggak sengasih-Nya aja," ujar Neta penuh penekanan.


Kei dengan setia mendorong tubuh Neta supaya tidak berbalik ke arah sebaliknya. "Anak satu dua harus cowok. Anak ke tiga baru cewek. Cowok dulu biar bisa jaga ibu dan adeknya. Biar ada yang bantu aku cuci mobil dan nata taman."


"Hahahaha, kalau kayak gitu kenapa enggak bayar pembantu sama tukang kebun aja Yang? Aneh kamu ini," kata Neta.


"Eh, ngomong-ngomong geli tahu Yang bokongku kena si dedekmu ya udah layu itu," bisik Neta yang membuat Ke-i tertawa geli.


"Satu hal yang sama sekali tidak pernah aku jumpai ketika berumah tangga bersama Salma. Ada canda tawa, dan hukan hanya serius soal pekerjaan dan target saja. Aku baru sadar bila aku ini manusia biasa yang juga bisa tertawa dan bercanda. Makasih Neta," batin Ke-i begitu senang.


"Tuan Muda Kei, nenek memanggil Anda," terdengar suara dari balik pintu.


"Dipanggil nenek malam-malam begini, ada apa ya?" tanya Ke-i terheran.


"Aku enggak tahu, udah sana temui dulu," usir Neta pelan.


"Eh, kok ngusir? Enggak akan pergi ya, masih 13 menit lagi. Taham posisi kayak gini. Besok dua hari lagi kita buat lagi," ucap Kei.


"Siapa yang ngusir Sayang, kamu mah salah paham. Itu ditunggu orang tua, pasti penting ini," ucap Neta.


"Ya nanti aja, ini masih belum kelar Sayang. Udah deh enggak usah bandel. Nurut sama suami," kata Ke-i pada akhirnya.

__ADS_1


"Apa ini hanya perasaanku saja bila dia punya sifat prosesif?" batin Neta.


__ADS_2