
Seorang laki-laki tengah menangis seorang diri di ruang tunggu lorong rumah sakit. Kei terus saja menangisi keadaan istrinya yang kedua. Meskipun tadi ia juga menerima banyak pukulan tetapi keadaannya jauh lebih baik daripada Neta yang mengalami pendarahan.
Jelas saja wanita itu mengalami pendarahan. Sebab, sebelumnya dokter saja sudah mengatakan bila kandungannya itu masih sangat cukup rentan untuk mengalami keguguran. Lalu kedatangan Salma yang begitu saja dan tanpa diduga-duga menendangnya sekuat tenaga, hal itu tentu saja membuat Neta langsung ambruk dengan darah yang mengalir di antara kedua pahanya.
Sebenarnya meskipun keadaannya bisa dikatakan baik-baik saja, dokter tetap menyarankan Kei untuk berbaring di dalam ruang rawat. Akan tetapi Kei yang keras kepala pun menolaknya dia tidak ingin melewatkan satu detik pun setiap hal yang terjadi pada istrinya. Di dalam hatinya dia terus berdoa meminta supaya calon bayinya masih bisa diselamatkan.
Namun bukankah tidak semudah itu berharap dan berdoa? Tidak semua doa manusia itu dikabulkan oleh sang pencipta. Ada kalanya doa-doa itu hanya mengambang di langit menunggu antrian untuk sampai kepada si pengucapnya.
Begitupun keadaan Kei saat ini harapan dan doanya sudah melambung tinggi. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Neta dinyatakan kritis dan dokter menyarankan agar Kei bersikap tenang dan mendoakan supaya istrinya itu masih bisa bertahan hidup.
"Maaf untuk saat ini sebaiknya bapak harus bersikap tenang bersabar dan juga berdoa. Keadaan istri bapak sedang dalam masa kritis. Beliau banyak kehilangan darah dan juga setelah kami melakukan pemeriksaan beliau mengalami luka di rahim karena hantaman yang begitu keras dan itu lumayan serius," kata dokter ketika ia memanggil Kei untuk berbicara langsung di ruangannya setelah memeriksa Neta untuk yang kesekian kalinya.
"Rahim istri saya mengalami luka dok?" Tanya Kei lagi yang seolah tidak percaya sekaligus ingin memperjelas maksud dari ucapan dokter tersebut.
"Iya anda bisa lihat ini. Ini adalah hasil pemeriksaan kami, di monitor terlihat sangat jelas rahim istri anda mengalami luka dalam karena hantaman yang sangat keras. Kalau hanya sekedar jatuh ataupun terpeleset dari tempat yang tidak cukup tinggi, maka lukanya tidak akan seperti ini. Dari lukanya ini, saya melihat penyebabnya. Jika tidak karena dia jatuh dari tempat yang tinggi, kecelakaan yang fatal, atau bisa juga karena pukulan yang dilakukan dengan sengaja dan sangat keras," papar si dokter yang bertanggung jawab atas kondisi Neta saat ini di rumah sakit tersebut.
Dokter menunjukkan hasil rekam medis dan juga beberapa foto rontgen pada Kei. Key menjadi bertambah pucat setelah melihat rekam medis tersebut. Terlihat jelas pada gambar itu setelah sekian panjang dokter menjelaskan memang nampak seperti ada robekan dari dalam.
__ADS_1
"Lalu apakah istri saya masih bisa hamil dok?" tanya Kei dengan raut wajah yang putus asa dia sendiri tidak yakin dengan jawaban yang akan didengarnya.
Sebelum menyampaikan apa yang dokter sudah ketahui dan pelajari selama bertahun-tahun sebagai spesialis kandungan. Dokter itu pun menghela nafasnya dalam dalam. Seolah, dia tengah mempersiapkan diri untuk menyampaikan hal terburuk yang bisa saja terjadi.
"Untuk sementara ini, jangan pikirkan soal hamil dulu. Pikirkan dulu soal kesehatan si ibu. Janin yang istri anda kandung sudah tidak bisa dipertahankan lagi dan kami sudah membersihkannya tadi. Sementara untuk luka ini kita lihat masa observasinya dalam 6 jam ke depan. Jika pendarahannya bisa berhenti maka kemungkinan rahimnya masih bisa dipertahankan."
Belum selesai dokter menjelaskan Kei sudah menyambarnya terlebih dahulu. Dia sudah sangat tidak sabar untuk mendengarkan kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpa istri keduanya tersebut. "Lalu kemungkinan terburuknya apa Dok?"
"Kemungkinan terburuknya kami akan melakukan operasi pengangkatan rahim. Jika pendarahannya tidak bisa berhenti itu akan sangat membahayakan nyawa pasien. Pendarahan yang tidak bisa berhenti itu mengindikasikan bahwa memang jaringan rahimnya sudah rusak parah dan tidak bisa lagi untuk bertahan, untuk tetap ada di tubuh istri anda," terangsang dokter yang membuat tangis Kei semakin pecah.
"Lalu mengapa sampai saat ini istri saya belum sadar juga dok?" tanya Kei dengan tatapan matanya yang nanar dan sembab.
"Kalau itu mungkin saja bisa terjadi karena beberapa faktor. Mungkin istri Anda saat ini tengah mengalami trauma atau bisa juga disebabkan oleh efek obat bius yang kami berikan," terang si dokter dengan tenang.
"Kita akan memantaunya secara intensif dalam 6 jam ke depan selama masa observasi berlangsung. Bapak jangan khawatir kami akan tetap melakukan yang terbaik untuk istri anda," ucap si dokter sembari menepuk pundak Kei seolah dia tengah mentransfer kekuatan dan ketenangan untuk laki-laki tersebut.
Dengan perasaan yang bercampur adu Kei keluar meninggalkan ruangan sang dokter. Tubuhnya yang masih belum optimal pun pada akhirnya tumbang. Dia jatuh pingsan di lorong rumah sakit setelah berusaha bersikap kuat dan tegar.
__ADS_1
****
2 jam sudah berlalu dari saat itu dan pada saat ini Kei sudah kembali membuka mata dan betapa terkejutnya dia saat membuka mata ternyata nenek Fuji sudah ada di sampingnya. Kei sama sekali tidak menjelaskan apa-apa dia hanya menangis dan terus menangis menyesali apa yang telah terjadi kepada si istri kedua. Nenek puji sebisa mungkin menenangkan cucu satu-satunya itu.
"Calon anakku Nek, calon anakku," adu Kei dengan meraung dan meratapi kepergian calon bayi mereka.
"Iya aku tahu semuanya dokter sudah menjelaskannya tadi panjang lebar kepadaku. Apapun itu key kita harus bertanggung jawab terhadap Neta. Kalau sampai keadaan yang terburuk yang terjadi sampai dokter mengangkat rahimnya nenek harap kamu tidak akan meninggalkannya," kata nenek Fuji yang langsung kepada inti pembicaraan tanpa berbasa-basi lagi.
Setelah ia mendengar apa yang neneknya katakan barulah Kei menyadari sesuatu. Bahwa, dia sebelumnya sama sekali belum pernah menceritakan tentang sosok Neta kepada anggota keluarganya yang lain termasuk si nenek. Tangisan kei terhenti dan dia menatap bingung neneknya.
"Aku sama sekali belum pernah mengatakan kalau aku menikahinya. Lalu kenapa nenek bisa berbicara seperti tadi? Apa nenek sudah mengetahuinya?" Kei tercengang.
"Kita kemarin belum sempat bicara apa-apa," kata Kei terheran.
"Sudahlah, yang terpenting sekarang kalian sehat dulu. Untuk mengurus Salma, biar nenek saja. Nenek dulu sudah bilang sama kamu berkali-kali. Jangan menikah dengan seorang wanita hanya karena hartanya. Lihat sekarang seperti ini kelakuannya." Nenek Fuji mencetuskan uneg-unegnya.
Kei hanya terdiam, namun dalam diamnya dia terus saja memikirkan keadaan Neta. "Bagaimana keadaanmu Ta, semoga tidak ada hal buruk yang menimpamu. Aku merasa bersalah atas semua ini Ta."
__ADS_1