
"Pak, Bapak!" seru Nindy yang berusaha untuk menyadarkan Kei dari lamunannya.
"Apa?" sahut Kei setengah membentak. "Kamu ini mengganggu aja orang lagi mau berhayal, padahal aku tadi sudah sampai ke tendanya dia loh."
"Iya, tapi berhayal 'kan?" kata Nindy meralat ucapan majikannya.
"Hemh, ya sudah ada apa? Apa masalahnya kalau aku menghayal untuk bertemu dengan mantan istriku? Aku sudah merubah penampilan seperti ini. Apa susahnya untuk menemuinya dan mendekatinya lagi?" tantang Ke-i yang merasa mendekati Neta itu sama mudahnya dengan mendekati Salma.
"Bapak kira ibu Neta itu ibu Salma? Oh, tidak semudah itu Bapak, Ibu Neta itu sangat tertutup dengan orang baru. Apa lagi laki-laki. Yakin bisa?" tanya Nindy yang terkesan meremehkan majikannya.
"Oh, jadi kamu berani memandang remeh aku?" ucap Renzo dengan berapi-api.
"Bukan meremehkan Bapak, tapi memang ibu Neta itu susah untuk didekati sama laki-laki," kata Nindy yang menekankan siapa Neta.
"Eh, tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menolak pesonaku. Lihat aku bahkan lebih tampan dari si Reza itu. Coba mana profil Reza itu!" ujar Kei dengan jengkelnya.
Nindy hanya bisa menghela napasnya pelan. Dia menggeleng perlahan akan tetapi tangannya langsung menjulurkan tabletnya. Ia memperlihatkan profil Reza.
"What? Jadi Reza ini sebenarnya anak orang kaya?" pekik Kei dengan matanya yang nyaris melotot.
Reza adalah pengusaha kaya yang sedang bosan dengan urusan bisnisnya. Dia sebenarnya bukan seorang fotografer jalanan. Memotret hanyalah bagian dari hobinya, juga menjadi mata-mata atau pengintai adalah ahlinya. Dia melakukan semua itu hanya karena bosan dan pelampiasan setelah putus dari tunangannya yang tertangkap berselingkuh 2 tahun lalu.
"Reza Wicaksono? Astaga ... bukankah aku pernah bertemu dengan dia saat perhelatan akbar pemberian anugerah penghargaan pebisnis muda? Reza itu kan dia?" tanya Kei untuk memperjelas siapa Reza yang di maksud.
"Iya, dia berada hanya satu level di bawah Bapak. Jadi bagaimana? Apa masih jadi pertarungannya?" tanya Nindy.
Kei seketika berdeham. "Ehem!"
__ADS_1
"Jelas jadi, kenapa harus mundur?" tanya Kei dengan suara gugupnya.
"Ah sial! Reza ini lagi. Dulu dia hampir mengalahkanku di tender besar itu. Sekarang aku bahkan baru merintis perusahaan baru dan harus bersaing lagi untuk mendapatkan hati mantan istri siriku? Oh my God!" batin Kei kesal setengah mati.
"Aku tidak akan mundur, aku sudah terlanjur mencintai Aneta Azri. Apa pun tantangannya akan aku tahlukan. Apa aku sudah berbeda?" tanya Kei pada Nindy untuk menilai penampilannya.
Nindy, menjawabnya dengan ragu. "Sudah sih, kayaknya."
"Apanya yang berbeda? Penampilannya sama saja, ibu Neta tidak sebodoh itu untuk bisa melupakan dengan mudah wajah mantan suaminya. Bapak ini aneh-aneh saja, dia menjadi gila karena ibu Neta," gumam hati Nindy.
...----------------...
Satu Minggu tidak terasa telah berlalu, Kei kini kembali ke apartemennya dan juga Neta yang masih menempati rumah pemberian Kei. Iya, setelah perceraian, Neta masih menempati kediaman yang Kei berikan. Itu adalah perjanjian mereka, Neta anggap itu murni kebaikan. Akan tetapi bagi Kei, itu adalah caranya untuk mengunci pergerakan mantan istrinya itu.
"Ibu, mau ke mana?" tanya Nindy pada Neta yang sudah berdandan.
"O ... oh, begitu? Kalau begitu apa boleh saya ikut?" tanya Nindy yang semata-mata ingin menjalankan misi dari Kei.
"Mbak Nindy, sebenarnya saya ingin bicara hal ini dari kemarin, tapi saya tidak enak hati," kata Neta dengan ragu-ragu.
"Ada apa Ibu? Bicaralah," ujar Nindy.
Neta menunduk lalu menggenggam tangannya. Ia menunduk seperti sedang mempersiapkan diri. Dia juga terlihat tidak sampai hati mengatakan hal ini.
"Saya sebenarnya sudah tidak membutuhkan jasa Mbak Nindy lagi. Saya juga merasa masih membebani Kei, kalau Mbak masih bekerja di sini dan dia yang membayar Mbak. Tolong katakan sama Kei, kalau saya ingin sendiri. Saya sudah tidak apa-apa. Saya berterima kasih sekali atas semua perhatian yang dia berikan. Tapi saya juga butuh privasi, saya ingin sendiri," kata Neta yang membuat Nindy melongo.
Nindy pada saat itu sedang memegang ponselnya, ia melakukan panggilan suara dengan Kei dan Kei hanya diam saja menyimak semua itu. Kei yang tidak bisa menahan lagi kali ini benar-benar meluncur dan menemui Neta. Bahkan dalam hitungan menit dia yang berada di tempat yang cukup jauh itu bisa sampai di sana.
__ADS_1
"Apa maksudnya dengan tidak membutuhkan perhatianku lagi huh?" bentak Kei yang masuk dengan tiba-tiba ke dalam rumah Neta.
"Kei, apa-apaan ini? Kenapa kamu tiba-tiba masuk ke sini? Kita sudah berjanji untuk saling menghargai privasi satu sama lain," tutur Neta dengan suaranya yang bergetar.
"Itu hanya janji, hanya ucapan! Nindy, keluar kamu dan tunggu di luar! Aku ingin menyelesaikan sesuatu dengan wanita keras kepala ini," ucap Kei dengan emosinya.
"Baik Pak," jawab Nindy dengan segera. Ia keluar dan Kei dengan cepat mengunci pintu rumah tersebut.
"Dia, kenapa kekuatannya tidak terduga seperti ini? Ada apa ini? Dia marah atas alasan apa?" pikir Neta yang kebingungan dengan sikap Kei yang seperti preman.
Neta ketakutan, dia melangkah mundur sedangkan Kei terus saja mendekatinya. Tatapan mereka saling beradu. Kei menatap penuh emosi dan Neta menatapnya dengan takut.
"Hari ini, aku Keiji menyatakan dengan sadar bahwa aku ingin rujuk kembali dengan istriku Aneta Azri. Aneta Azri, pada hari ini aku kembalikan statusmu untuk menjadi istriku," kata Kei.
"Eh, enggak bisa begitu Kei. Kita udah cerai, dan kalau pun rujuk harus sama-sama mau. Dan aku ...."
Neta belum selesai bicara namun Kei sudah meluma* bibir Neta secara brutal. Lelaki itu sudah tidak bisa menahannya lagi dia sudah menahan hasratnya selama berbulan-bulan dan pada hari ini semuanya pecahlah sudah. Kei meledak dalam sekali waktu.
Neta menggigit kasar bibir Kei, akan tetapi rasa sakit itu tidak membuat Kei melepaskannya. Dia justru mengangkat tubuh Neta dan membaringkan dengan kasar setengah membantingnya di ranjang. Neta menangis, namun sama sekali tidak terdengar di telinga Kei.
Sementara Nindy dia mendengarkan ******* dan tangisan bercampur erangan dari dalam rumah itu. Nindy paham benar siapa Keiji. Lelaki itu tidak mau kalah begitu saja. Dia harus memiliki apa yang dia mau.
"Ah ...! Kei! Lepaskan!" pinta Neta sambil memberontak dan ingin melepaskan diri. Namun tenaga Kei lebih kuat dan tinggal beberapa centimeter lagi penyatuan itu terjadi.
"Terima aku atau kamu akan ternoda dan hamil di luar nikah? Aku tidak akan pernah mau melepaskanmu Neta, tidak akan!" pekik Kei dengan suaranya yang menggema memenuhi kamar tersebut.
"Sebenarnya yang keras kepala itu aku atau dia? Dia melakukan ini karena ingin aku menjadi miliknya lagi. Kalau aku tolak maka aku akan hamil dan melakukan zina. Lalu apa katanya tadi, dia hanya memberikan talak satu kepadaku? Apa surat-surat itu hanya rekayasa?" pikir Neta yang baru sadar akan sesuatu.
__ADS_1