
satu tas besar pakaian telah dipersiapkan. Dara dan Reza keduanya begitu bersemangat untuk pergi ke villa milik Kei. sebagaimana yang telah Kei janjikan dia mengajak Dara dan juga Reza pergi berlibur di villanya untuk beberapa hari sebagai ucapan terima kasih.
"Gue sama sekali nggak pernahnya enggak kalau bakalan punya bos yang super tajir kayak tuan Kei," kata Dara dengan raut wajahnya yang begitu gembira, dia tengah duduk dan memasang sabuk pengamannya, bersiap menuju ke Villa yang telah dibagikan lokasinya.
"Seneng banget lu cuman mau diajak berlibur doang, belum tentu juga villanya gede dan bagus," ujar Reza yang tidak ingin terlalu bersemangat padahal mereka sama sekali belum mengetahui tentang Villa yang dimaksud.
"Ih dasar lo tuh iri aja karena bos Kei lebih kaya daripada lo. Gue ini udah searching searching di internet ya vilanya tuh gude banget dan terkenal sebagai Villa paling mahal di sana," kata Dara yang begitu mengeluh-elukan Villa milik bos barunya itu.
"Gue bukannya iri ya, tapi yang namanya harta kan nggak bisa permanen selamanya. Siapa juga yang bakal tahu kalau seumpamanya semuanya itu bakal pergi gitu aja," kata Reza yang terkesan membela dirinya dan tidak mau disudutkan.
"Halah! Kalau lu iri juga nggak apa-apa sih nggak ngaruh juga buat gue," sahut Dara sembari menganggukan kepalanya seolah tengah meremehkan Reza.
"Nggak tau aja nih cewek tengil kalau gue juga diem-diem kayak gue kayak gini cuman karena gue lagi gabut doang!" batin Reza sembari terus terfokus pada kegiatannya sendiri ia lalu mengemudikan mobilnya menuju ke arah lokasi yang telah dibagikan.
...----------------...
Sementara itu di lain tempat, sepasang suami istri tengah menikmati sarapan paginya sebelum mereka pergi menuju ke villa untuk berlibur bersama pegawainya. Acara makan itu berlangsung dengan begitu sunyi tanpa suara apapun terkecuali sendok dan piring yang saling beradu. Hingga sampai setelah selesai makan Neta beranjak dari duduknya diikuti dengan suaminya yang dengan setia berjalan di sampingnya.
"Kalian buru-buru banget sarapannya keburu mau pergi ke mana?" Kenny bertanya dan dengan sangat sengaja dia mencekal pergelangan tangan kakak iparnya.
__ADS_1
"Kita mau ke mana itu bukan urusan kamu sama sekali, jadi sekarang tolong lu lepasin tangan istriku," titah Kei yang terdengar begitu tegas dan lugas.
"Wah ... kakak iparku yang cantik kamu lihat perangai suamimu ini? Aku ini adiknya dan dia seperti ini kepadaku apakah ini bagus? Seharusnya sebagai istri kamu bisa menasehatinya supaya bisa bersikap lebih baik kepada saudaranya sendiri," ucap Kenny yang sengaja ingin menabur garam di atas Luka.
Kenny sudah sangat tahu bagaimana perangai ke yang sesungguhnya dengan dirinya. Akan tetapi di hadapan menetas seolah-olah dia ini adalah korban yang patut untuk dibela. Dalam hatinya dia tersenyum setelah berhasil membuat Neta menghadirkan pandangan lain di dalam matanya. Pandangan yang seolah berkata iya baik aku akan membelamu.
"Tolong lepaskan tanganku ya? Kami tidak akan kemana-mana, hanya ingin pergi sebentar mencari udara segar," jawab Neta yang berbicara dengan begitu rambutnya seolah dia sedang berbicara kepada balita.
"Kenapa aku selalu terpesona terhadap wanita ini? Dia selalu bisa berkata lembut kepada siapapun," pikir Keni dengan sejuta tanya yang ada di dalam benaknya.
"Jaga tatapan matamu itu aku tidak menyukai caramu menatap istriku seperti itu Kenny!" tegur Kei kepada adik sepupunya itu.
"Sudah aku bilang berapa kali Neta, jangan berbicara kepadanya terlalu lembut seperti tadi, dia itu bukan orang yang bisa diberi hati. pada akhirnya dia nanti akan bersikap berlebihan dan membuatmu kecewa. Dia bukan orang yang bisa diajak untuk bersikap baik," kata Kei yang berbicara tanpa mau menatap wajah istrinya. Terlihat sekali saat ini bila lelaki itu sedang marah.
"Sayang ... sudahlah, jangan marah terus. Nanti kesehatanmu terganggu. Lagian aku hanya menjawab sewajarnya dan sama sekali tidak mengajaknya, apa salahnya bersikap baik?" tanya Neta dengan polosnya.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dengan Kei yang terlihat tidak suka. Tatapan matanya masih menyimpan kemarahan. juga dengan nada bicaranya yang terdengar agak meninggi.
"Walaupun tidak diajak, tapi aku mau ikut. Aku tidak apa-apa duduk di belakang sini," kata Kenny tiba-tiba. Dia masuk begitu saja lalu duduk di bangku belakang dan memasang sabuk pengaman.
__ADS_1
"Kamu lihat itu Neta, dia adalah tipe orang yang paling menjengkelkan yang pernah aku temui selama aku hidup!" ketus Kei dengan jarinya yang menunjuk ke arah Kenny yang justru tersenyum meledeknya.
"Kamu tahu selain tidak bisa diajak untuk bersikap baik, dia juga tidak tahu malu!" Kei begitu geram, dia berbicara sambil menahan rahangnya yang mengeras.
"Sa ... Sayang, tapi aku enggak ajak dia loh tadi," kata Neta dengan perasaannya yang tidak enak kepada suaminya.
Kei meliriknya. "Iya aku tahu dan aku tidak menyalahkanmu karena semua ini sudah terlanjur terjadi. Hanya saja kalau dia sampai ikut maka acara kita akan jadi kacau semuanya."
"Terus kenapa apa kamu akan mengusirku? Kejam sekali, jika sampai itu terjadi maka aku akan menulis sesuatu lalu membagikannya di internet, supaya semua orang tahu seperti apa sikapmu yang mirip dengan iblis ini." Kenny mulai melontarkan ancamannya dan Hal itu membuat Neta tercengang sekaligus tersadar akan sesuatu.
"Suamiku rupanya benar bahwa adiknya ini bukanlah orang yang bisa diajak untuk bersikap baik. Aku merasa bersalah karena telah mencoba bersikap ramah terhadapnya tadi," batin hati Neta yang hanya bisa menyesali perbuatannya beberapa detik lalu.
"Sudah, aku sudah siap, ayo kita jalan! Oh, tunggu! Apa kakakku ini lupa caranya mengemudi? Atau ... bagaimana, kalau kau tidak bisa kamu bisa duduk di belakang dan biarkan aku duduk di samping kakak iparku yang cantik ini dan mengemudikan mobilnya?" tanya Kenny yang jelas-jelas hanya ingin merusak mood Kei.
"Shut up!" pekik Kei.
"Sayang ...." tegur Neta dengan lembutnya sambil mengusap lengan sang suami. "Sudah ayo kita jalan, kita jalan saja, Reza dan Dara pasti sudah sampai."
"Kalau membunuh secara terang-terangan itu dianggap suatu hal yang wajar. Maka orang pertama yang akan aku habisi adalah dia!" kesal Kei dalam hati.
__ADS_1