Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
48. Memaksa?


__ADS_3

"Bagaimana ayah, ibu apa kalian sudah melakukan sesuatu?" tanya Salma kepada ayah dan ibunya yang datang menjenguk sang putri yang tengah meringkuk di dalam bui.


"Kami mau melakukan apa? Lawan kita itu sangat besar dan sekarang ayah rasa ayah akan fokus pada pekerjaan dan bisnis saja. Perusahaan yang kamu tinggalkan itu membutuhkan pimpinan. Oh iya, ayah juga mau mengatakan sesuatu. Managermu kabur dan kita harus membayar pinalti dari beberapa pembatalan kontrak kerja." Ayah Salma menjabarkan keadaan perekonomian mereka saat ini.


"Oh, apa kalian tidak bisa berusaha? Aku hanya akan ada di sini beberapa bulan, lalu apa susahnya bagi kalian untuk menggantikan aku sebentar saja memimpin perusahaan? Aku sudah mati-matian merebut semuanya dari Kei. Apa kalian sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa?" Salma begitu emosi ketika menghadapi masalah itu.


"Salma! Apa tidak bisa kamu bersikap sopan kepada kami Nak? Kami ini orang tuamu, apa tidak bisa mulutmu itu berbicara dengan sipan?" tegur ibu Aini.


"Sekarang kalian menuntut aku untuk bersikap sopan? Ayah, ibu, aku sudah hampir gila ada di sini! Mereka semua bau!" ujar Salma penuh dengan penekanan.


Melihat putrinya yang bersikap tidak baik itu, ibu Aini pun melarang suaminya untuk menuruti permintaan anaknya yang semakin hari semakin keterlaluan saja. Selain ingin menghancurkan kebahagiaan Kei, Salma juga masih berambisi untuk menjatuhkan pesaing bisnisnya dengan berbagai cara licik termasuk perencanaan pembunuhan. Ia Salma adalah gadis yang selalu mendapatkan apa yang ia mau di dunia ini. Ini semua adalah efek ayah dan ibu yang terlalu memanjakan buah hati mereka.


"Sudah ayah, kita pergi saja. Kita tidak bisa terus-terusan memenuhi keinginan gilanya. Biarkan dia di sini untuk introspeksi diri," kata ibu Aini sembari menarik lengan sang suami.


"Enggak! Enggak boleh! Kalian harus turuti apa mauku!" teriak Salma seperti orang gila.

__ADS_1


"Maaf, jam besuk sudah habis. Kalian silahkan meninggalkan tempat ini," kata sipir penjara yang sudah memegangi kedua lengan Salma.


"Apaan sih? Aku ini masih ingin membicarakan hal penting dengan mereka!" bentak Salma tiada guna. Semuanya berlalu begitu saja.


Sementara itu di tempat lain di suatu hotel mewah, sepasang pengantin tengah melakukan bulan madu di dalam kamar mereka. Keduanya meskipun tidak bisa keluar karena keadaan Neta akan tetapi Kei mampu membuat Neta merasa menjadi ratu. Ia begitu diprioritaskan saat ini. Menerima perlakuan baik itu, Neta hanya bisa tersenyum manis menerima semuanya tanpa ada penolakan sedikit pun.


"Sayang, kenapa bawa tenda ke dalam kamar hotel sih?" tanya Neta terheran melihat suaminya yang mendirikan tenda kecil yang muat untuk mereka berdua singgahi.


"Ini karena kamu enggak bisa keluar. Aku mau buat hal yang enggak bakal kamu lupakan sepanjang hidup kita sampai tua nanti. Masa bulan madu kita, kita habiskan di dalam tenda. Ini sangat berbeda dengan yang lainnya Sayang. Hanya kita saja aku rasa," ucap Kei sambil terus mendirikan tenda.


"Sini aku bantuin. Aku harus apa ini?" tanya Neta yang perlahan bergeser hingga ke tepi ranjang dan bersiap untuk berdiri.


"Apa udah enggak sakit lagi?" tanya Kei saat melihat Neta berdiri dan hendak berjalan mendekatinya. "Kamu disitu dulu ini belum jadi. Aku juga udah pesan makanan yang mungkin kamu mau."


"Makanan? Makanan apa, yang aku mau? emangnya kamu tahu apa yang aku suka?" tanya Neta pada Kei yang menatapnya teduh.

__ADS_1


Kei menghampiri dan memeluk Neta. "Kamu meremehkan aku? Aku tahu semua tentang kamu."


Neta terkekeh, "Hahahaha, ya ya ya ... kamu tahu semua tentang aku dan aku sama sekali enggak tahu tentang kamu sampai aku tertipu pria beristri. Ah ... aku merasa seperti keledai bodoh."


"Bukan keledai bodoh, tapi kuda putih yang cantik dan baik. Kamu itu terlalu baik hingga berpikiran dan menganggap semua orang sama baik dan positifnya sama sepertimu," ujar Kei menimpali.


"Ah, itu terlalu berlebihan, aku masih banyak khilat juga kok. Kayak semisal aku bentak kamu pas marah, seharusnya enggak boleh meninggikan suara sama suami. Tapi gimana, suamiku bukan Nabi dan dia melakukan kesalahan. Jadi ya ...."


Kei terkekeh geli. " Aku rela kok kamu marahin setiap hari juga. Enggak apa-apa. Asalkan kita nanti tua sama-sama dan membesarkan anak cucu kita bersama."


Neta tersenyum dan membalas pelukan Kei. "Aku enggak nyangka di dalam kisah cintaku malah akan berperan menjadi pelakor seperti ini."


"Bukan lagi," kata Kai menimpali.


"Sejarahnya akan tetap sama," ucap Neta dan Kei seketika menatapnya nanar. "Tapi aku bersyukur ada hikmah di balik semua ini, suamiku sudah banyak berubah, meskipun masih saja suka memaksa."

__ADS_1


"Memaksa?" Kei bertanya dengan kedua alisnya yang menukik tajam.


__ADS_2