Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
63. Diantara dua lelaki manja


__ADS_3

Kamar sudah di bagi, hingga tiba saat bagi mereka untuk makan malam. Acara barbeque yang diadakan di halaman depan villa. Peralatan begitu lengkap pun dengan bahan masakan.


Daging, baso, cumi, udang, dan masih banyak lagi bahan masakan tersedia di atas meja panjang. Dara dan Reza berjalan bersama menghampiri Neta yang tengah sibuk membuat saus olesan. Sementara Kei, dia sibuk memotong daging.


"Ada yang bisa aku bantu Mbak?" tanya Dara.


"Oh iya, kamu sama Reza bantu buat bara apinya ya, ini biar aku saja," kata Neta sembari terus meracik bumbu.


"Siap! Kita juga belum pernah nyicip makanan buatan Mbak Neta. Masak yang enak ya Mbak, kita buat api dulu." Dara berpamitan sebelum pada akhirnya dia dan Reza pergi menuju ke tempat bakaran.


Kei mendekat dan mengamati sang istri. Dia sesekali terlihat memicingkan matanya seolah sangat penasaran dengan apa yang istrinya buat. Bahkan beberapa kali bibirnya sampai mengerucut.


"Kenapa seperti itu, penasaran?" tanya Neta kepada suaminya yang berdiri di sampingnya.


"Iya penasaran aku, gaya masakmu sudah sangat mirip seperti chef. Kamu senang sekali memasak."


"Iya, Mas Kei. Memasak itu ada kepuasan tersendiri, apa lagi kalau makanan yang kita buat disenangi oleh banyak orang. Rasanya tuh seneng ... banget," jawab Neta sembari tersenyum ramah.


"Hemh, kalau begitu nanti buatkan aku saus yang paling enak ya," pinta Kei.


"Oke, nanti aku buatkan. Ini lagi buat malah. Eh iya, Kenny mana? Kenapa dia belum ke sini? Kamu udah kasih tahu dia 'kan?" Neta celingukan mencari keberadaan Kenny.


Kei menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tangannya perlahan turun ke leher dan mengusapnya gusar. Nampak begitu jelas kegelisahan dalam dirinya.


"U-udah kok," jawabnya terdengar ragu.


"Bohong ya? Kamu pasti biarkan dia di kamar atau enggak kamu enggak kasih tahu kita ada di sini. Jangan begitu, dia itu manusia juga dan dia itu juga saudaramu Sayang." Neta menasehati namun tanpa menatap mata sang suami. Ia hanya terus berbicara sembari memotong paprika.


"Hemh, iya iya." Dengus Kei begitu kesal. Seraya menghentakkan kakinya ia berjalan kembali masuk ke villa.


"Padahal dia tidak membentak atau mengancamku, tapi aku sudah merasa terancam sendiri dan takut kalau dia marah lalu pergi. Ah, perasaan macam apa ini? Aku begitu tunduk dan luluh kepadanya," batin Kei yang berjalan menuju ke kamar Kenny.

__ADS_1


Tidak butuh waktu yang lama bagi kaki jenjangnya untuk sampai di ruangan adik sepupunya. Ia lalu mengetuk pintu, menciptakan suara bising yang menggelitik telinga. Suara ketukan pintu itu seketika menggugah seorang laki-laki tampan yang tertidur pulas di kamarnya. Kenny terlelap setelah tadi dia berhasil mengganggu Neta dan Kakaknya.


"Eh, kakak. Ada apa Kak?" tanya Kenny dengan rambut yang kusut dan penampilannya yang berantakan. Tanpa mengenakan pakaian ia berdiri di ambang pintu seolah ia tengah memamerkan otot-otot perutnya yang berbalok-balok.


"Pakai bajumu, kita makan malam di halaman," kata Kei dengan gamang. Sama sekali tidak jelas dan mengambang. Hanya beberapakali detik saja dia berbicara dan langsung berbalik meninggalkan sang adik.


"Kak! Ngomong apa sih?" tanya Kenny yang masih tidak paham dengan apa yang Kakaknya itu katakan.


Kei, bukannya menjawab, dia malah mengacungkan jari tengahnya.


"Kurang ajar! Ngomong apa dia tadi? Pakai baju makan lemang, atau apa sih tadi?" gumam Kenny sambil menggaruk kepalanya. Ia melenggang begitu saja tanpa memakai baju dan mendekati ke arah asap yang mengepul.


Tertuju manik dua wanita ke arah tubuh kekarnya yang terekspos begitu saja tanpa sehelai benang. Kei dan Reza seketika menghalangi pandangan Neta dan Dara. Dua laki-laki itu seolah tak rela ada pemandangan menakjubkan di sana.


"Kenny! Ke mana bajumu?" tanya Kei dengan setengah membentak.


"Baju? Ini liburan, di luar biasa seperti ini. Bahkan ada juga yang hanya memakai ****** *****. Apa salahnya?" jawabnya acuh.


Kenny tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Malu? Kamu lihat dulu sebelum menegurku. Pacarmu itu suka sekali melihat tubuhku. Apa salahnya bersedekah?"


Kenny mengucapkan fakta di mana Dara justru mengintip dengan tatapan kagumnya. Berkali-kali Reza berusaha untuk menutupinya. Berkali-kali juga Dara berusaha untuk menghindarinya.


"Oh, dasar anak tidak tahu malu. Kenny! Pakai bajumu? Apa kamu tidak malu, ada kakak iparmu di sini?" sambung Kei dengan terus menundukkan kepala Neta ke dadanya.


Kenny bukannya menjauh, dia malah semakin mendekat dan berdiri di belakang Neta. Ia lalu berbisik, "Apa kakak ipar merasa tidak nyaman melihatku?"


Neta hanya diam saja dan Kei langsung menyambarnya. "Iya, dia tidak nyaman. Pakai bajumu atau tidak ada makan malam untukmu. Villa ini aku punya!" bentak Kei kesal.


"Sayang, jangan begitu. Jangan terlalu kasar dengannya. Dia hanya ingin bercanda, bukan menggodaku," bisik Neta dengan menatap teduh suaminya. Ia mendongak dan tersenyum menatapnya.


Mendengar usiran dari Kei, Kenny pun memutuskan untuk pergi namun tetap saja dengan bibirnya yang menggerutu sepanjang jalan. "Hanya lepas baju aja udah pada lebay kayak gitu. Ini d*da bidang, bukan kema*uan."

__ADS_1


"Kamu belain dia terus?" celetuk Kei yang seketika membuat Neta tersenyum dan berjinjit.


"Tenanglah Sayang, aku bukan wanita yang mudah tergoda. Sejauh ini, hanya punyamu saja yang pernah aku lihat dan membuatku takjub sampai sekarang. Jangan marah-marah ya, punya Kenny bukan apa-apa dibandingkan dengan dada bidangmu," ucap Neta dengan begitu lembut membuat Kei seketika meringis dan mengecup kening sang istri.


"Benarkah?" tanya Kei yang sebenarnya hanya membutuhkan sebuah tambahan pujian dan kata Sayang.


"Iya suamiku Sayang ...." jawab Neta dengan menekankan kata Sayang.


"Ehem! Mbak, itu gosong dagingnya," ucap Dara menegur keduanya yang malah berpelukan.


"Astaga!" seru keduanya bersamaan. Mereka lalu mengangkat daging yang gosong itu sembari tertawa.


"Gara-gara dada bidang jadi gosong semua," celetuk Reza. "Gue enggak nyangka ternyata Lo demen banget sama dada Ra."


Dara yang tertangkap basah tadi baru saja mengintip dada bidang Kenny pun seketika kelabakan. "Si-siapa?"


"Halah ngaku aja, Mbak Neta nyumput di pelukan suaminya. Eh lo, gue susah-susah nutupin, Lo malah berusaha keras buat ngintip. Dasar ya Lo otak mesum," ejek Reza lantaran kesal.


"Ya bebas dong, gue kan belum menikah dan pacar juga enggak ada. Terus masalahnya apa buat lo?" balas Dara yang membuat Reza tak bergeming.


"Kalau suka bilang Za, aku kira kamu udah bilang sama Dara," ledek Kei dengan senyum jahilnya.


"Sayang ah, jangan ikut-ikut urusan mereka. Ayo kita ke sini aja, bakar daging lagi," ajak Neta untuk menjauhi dua orang yang tengah berdebat kecil.


Kenny kembali dengan setengah berlari. Ia mengenakan kaos putih oblong dan celana selutut dengan rambut yang masih berantakan ia menghambur dan menyelip di antara Kei dan Neta. Dia berada di tengah-tengah.


"Kakak ipar, gimana, aku ini udah cakep belum?" tanya Kenny dengan manjanya. Ia tersenyum manis untuk memikat sang kakak ipar.


"Aku yang paling cakep. Iya kan sayang?" celetuk Kei dengan penuh percaya diri.


"Begini susahnya berada di antara dua lelaki manja? Oh Tuhan sikap mereka ini sebenarnya sama saja, tapi mereka tidak ada yang mau di," keluh Neta dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2