
"Tangannya awas, nanti kena lukanya. hati-hati," ucap Neta dengan lembutnya sembari memegangi tangan suaminya supaya tidak mengenai keningnya yang terluka.
Kei membuka matanya dan tersenyum simpul. Manik matanya tak berkedip menatap istri keduanya yang begitu perhatian. Selalu saja di saat seperti ini ada saja perbandingan antara Neta dan Salma.
"Saat tidur saja dia ini perhatian sekali denganku," batin Kei.
"Kamu udah enggak marah sama aku soal aku yang bohong dan tentang pernikahan kita?" tanya Kei yang masih merasakan ganjalan atas awal mula pernikahan mereka.
Neta tersenyum simpul lalu mengusap perutnya. "Mau aku sesali sampai sejauh apa, sudah terlanjur ada dia. Dia juga butuh ayahnya. Aku di sini tidak bisa berbuat apa-apa. Agama kita saja melarang perceraian saat wanitanya sedang hamil. Hhh ...."
Kei terdiam mendengarkan jawaban dari istrinya. Lebih tepatnya istri keduanya. Ia lalu menatap teduh manik Neta meskipun dengan matanya yang masih bengkak akibat perbuatan Salma. Iya, Salma menyasar wajah Kei selama dia mengamuk tadi.
"Maaf ya," kata Kei pelan.
"Kamu udah bilang maaf entah berapa kali. Apa bisa ditukarkan dengan coklat?" celetuk Neta sambil tersenyum.
Kei melihat jam di ponselnya. Ini masih tengah malam dan istrinya yang sedang hamil itu menyebutkan kata coklat. Ini merupakan satu tanda bahwa Neta menginginkannya.
"Kamu mau makan coklat?" tanya Kei seketika.
"Mau, tapi tengah malam begini mau beli di mana Kei? Ini tengah malam, kamu juga lagi sakit begini. Udahlah kita tidur lagi aja," pungkas Neta yang malah kembali berbaring.
Kei yang melihat Neta kembali berbaring pun menariknya pelan. "Ayo kita cari coklat, jangan malah berbaring begini. Nanti anak kita ngiler gimana?"
"Anak kita? Anak kamu, nanti kalau dia sudah besar dan tidak menyusu kamu mau ambil dia kan? Lalu kembali sama Kak Salma," cetus Neta secara tidak sadar. Karena sampai saat ini pikirannya masih saja berpikir demikian.
Raut wajah Kei berubah seketika. Ia terlihat marah dan tanpa di duga-duga, ia langsung mendekat dan mencium Neta dengan kasar. Ia menekan bibir Neta dengan kerasnya dan secara refleks Neta pun menggigit bibirnya.
"Aduh!" keluh Kei.
"Salahnya, ngapain nyium enggak pakai perasaan kayak gitu?" ketus Neta dengan membuang pandangannya. Ia marah, ia juga kesal.
__ADS_1
Kei mengusap darah yang keluar dari bibirnya. Dia melirik tajam pada istri keduanya itu. Akan tetapi Neta pun tidak takut sama sekali.
"Kenapa lihat aku kayak gitu?" tanya Neta sinis.
"Kamu itu yang kenapa, aku udah bilang. Aku enggak akan ceraikan kamu, Aku akan ceraikan Salma dan hidup seadanya bersama!" ujar Kei penuh dengan penekanan.
Neta kembali memandang laki-laki yang baru saja ia gigit bibirnya itu. Perlahan ia mengusapnya dengan lembut. Lalu setelahnya ia tersenyum.
"Maaf ya udah gigit kamu. Habisnya kamu juga aneh, enggak bisa apa pelan-pelan aja gitu. Bibirku juga sakit tahu!" ketus Neta.
Kei menatap Neta lalu mengabaikan kejadian tadi dan memeluknya erat. Di sini yang selalu menjadi tersangka adalah Neta. Dia yang datang terakhir dan menyusup diantara Kei dan Salma.
Akan tetapi jika ditilik lebih dalam. Justru tersangka atas semua ini adalah Salma. Andai saja Salma tidak bersikap buruk kepada suaminya, tentu semua ini tidak akan terjadi.
...****************...
"Nek, apa yang kita rencanakan berjalan sesuai dengan harapan. Tuan muda Kei benar-benar semakin dekat pada Nona Neta dari pada Salma. Apa Tuan Kei juga akan melepaskan perusahaan itu?" tanya Suster Dini.
"Aku rasa dia sudah mempertimbangkan semuanya Sus, kalau dia sadar, nilai setengah sahamnya tidak ada apa-apanya dari pada pulau dan area wisata yang akan kuberikan kepadanya." Nenek Fuji menjawabnya dengan begitu santai sembari duduk di kursi rodanya.
Nenek Fuji mengangguk. "Iya, beserta semua tempat wisata yang ada di dalamnya."
"Wah, pantas saja Tuan muda sampai berani bertarung seperti ini dengan Nyonya Salma," gumam Suster Dini dengan rasa takjubnya.
Nenek Fuji tersenyum penuh arti. "Iya, aku harus memberikan banyak umpan untuk ikan nakal itu. Dia sangat berambisi dengan harta dan kekayaan. Mau sampai kapan? Sudah waktunya dia memikirkan tentang masa tuanya. Buat apa kaya kalau tua tidak punya anak dan cucu? Kesepian itu lebih menyiksa dari pada kemiskinan Sus."
"Iya, nenek benar," kata Suster Dini membenarkan.
"Besok, persiapkan telingamu untuk mendengarkan aduan dari si sombong itu. Aku tidak tahu kalau Salma itu aslinya sangat arogan. Kalau aku tahu, sudah lama aku memisahkan mereka, tidak sampai menunggu cucuku menjadi korban kekerasan seperti ini," gumam nenek Fuji sembari melihat rekaman CCTV di saat Kei menjadi korban keganasan istrinya.
"Tuan terlihat sangat pasrah di situ Nek," kata Suster Dini.
__ADS_1
"Iya, karena ada tujuan yang ingin diraihnya," jawab nenek Fuji dengan santai.
...****************...
Pagi hari, saat Kei terbangun, pertama kali yang dia lihat adalah wajah istri keduanya. Aneta Azri, masih terlelap dalam mimpi indahnya. Wajahnya terlihat cantik alami tanpa polesan makeup dan Kei mengaguminya.
"Cantik, bukan hanya fisik, tapi juga hatinya. Aku masih tidak mengerti bagaimana seorang ibu tega menjual anaknya kepadaku seperti ini. Anak yang berbakti yang mendapatkan ibu yang tidak baik," batin hati Kei.
Kei mentoel ujung hidung Neta. Hal itu membuat Neta menggeliat dan merasa geli. Perlahan, ia lalu membuka matanya.
"Pagi," sapa Neta sambil tersenyum.
"Pagi Sayang, kis morning," pinta Kei sembari memonyongkan bibirnya.
Neta tersipu malu. Sebelumnya Kei tidak bersikap seperti ini. Tapi kali ini mengapa begitu manja.
"Kiss morning? Eh, sebelumnya enggak pernah," kata Neta.
"Ayolah, kiss dulu baru bangun." Kei setengah merengek.
"Malu, aku belum gosok gigi Kei," tolak Neta sembari menutup sebagian wajahnya dengan selimut.
"Enggak apa-apa kecut-kecut seger," jawab Kei sambil menarik dan menciumi Neta yang hanya diam saja karena takut mengenai luka di wajah suaminya.
Pagi itu mereka tertawa bersama. Neta melupakan masalahnya. Egonya menguap begitu saja, dia tidak lagi mempermasalahkan tentang hubungan suaminya dengan Salma. Neta sudah bisa menerimanya.
"Pelan-pelan ciumnya, nanti kena lukamu," ucap Neta pelan. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan Kei.
"Pagi ini mau makan apa?" tanya Neta pada Kei sembari mengusap lembut pipi suami yang menempel di dekat pipinya itu.
"Memangnya kamu mau masak Ta? Kamu kan disuruh istirahat total," kata Kei terheran.
__ADS_1
"Aku akan tambah bosan dan stres kalau hanya di atas kasur terus Kei," jawabnya.
"Dia mau menyibukkan diri demi membahagiakan aku. Diperlakukan seperti ini membuatku merasa seperti seorang raja. Aku bahagia Ta," batin Kei yang merasa senang atas perhatian yang Neta berikan.