Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
36. Bagaimana Bila tak Bisa Hamil


__ADS_3

"Kalau aku tidak bahagia, dia juga tidak boleh bahagia. Papa, Mama, aku ingin kalian melakukan sesuatu pada istri kedua Kei itu," kata Salma melalui sambungan telepon saat dia berada di dalam kamar mandi sebelum proses penangkapan terjadi.


"Apa yang harus kami lakukan Salma?" tanya Aini, mama Salma.


"Habisi dia," jawab Salma yang kemudian menutup panggilannya.


Salma berdiri di depan cermin. Dia menatap sedih pantulan gambar dirinya. Ia tidak menyangka bila yang menjadi jalan baginya menuju ke kesedihan adalah suaminya sendiri. Jalan menuju kehancurannya adalah Kei.


"Aku tidak menyangka bila kamu akan mengorbankan semuanya hanya demi wanita lemah itu Kei. Bila aku tidak bahagia maka kamu juga tidak boleh bahagia," ucap Salma sambil menangis di depan cermin. Bukan tangisan sedih, tapi tangisan kecewa karena telah gagal menyingkirkan Neta.


"Argh!" Salma meninju cermin yang berada di dalam kamar mandi.


Mendengar suara pecahan kaca, para petugas yang berada di dalam rumah besarnya pun segera mendekati sumber suara dan penangkapan pun terjadi. Bila kemarin dia masih bisa lolos dengan alasan sakit, maka tidak kali ini. Kali ini dia benar-benar tertangkap.


...----------------...


"Apa ibuku masih ada di rumah ini Kei?" tanya Neta pada Kei yang sedang mengeringkan rambutnya setelah mandi.

__ADS_1


"Entahlah, aku juga belum keluar. aku tidak tahu Ta. Ada apa? Apa kamu mau menemuinya?" tanya Kei pelan. Ia menoleh san tersenyum.


Neta menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak, aku enggak mau. Aku hanya ingin melupakan fakta bahwa ibuku telah menjualku kepadamu."


"Kemari, aku bantu keringkan rambutmu Kei. Bosan sekali rasanya hanya duduk di sini dan tidak melakukan apa-apa," kata Neta pelan.


Kei pun menurut dan duduk di tepi ranjang. Neta perlahan mengusapnya dan mengeringkannya dengan handuk. Usapan-usapan lembut Neta sellau bisa membuat Kei merasa nyaman.


"Aku sudah 4 hari enggak keramas," celetuk Neta pelan.


Kei seketika menoleh. "Iya, kamu sudah 4 hari tidak keramas. Aku keramasin ya, di wastafel aja biar enggak susah. biar enggak basah bajunya."


"Iya, susah ayo ikut," kata Kei yang kemudian menuntunnya pelan berjalan menuju ke wastafel.


Neta hanya pasrah saja tanpa banyak bicara. Dia menikmati kebersamaan ini. Menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan.


"Ibuku menjualku kepada orang yang tepat. Lalu bolehkah sekarang aku bersikap egois dan mendekatkan diri kepadanya? Merebutnya dari istrinya? Oh, tidakkah itu egois? Tapi tidak bisa kutampik bila perlahan aku juga ingin memilikinya secara utuh, secara penuh," kata Neta di dalam hatinya.

__ADS_1


Kei memperlakukannya dengan begitu baik dan lembut. Dia mambasuh dan mencuci secara perlahan dan sangat hati-hati. Neta bisa merasakan itu.


Setelahnya ia berdiri dengan kepalanya yang masih terlilit handuk. Ia tersenyum manis lalu mulai memberanikan diri untuk mendekati Kei. Tidak seperti biasanya yang selalu dimulai oleh Kei, kali ini Neta yang memulainya.


"Apa boleh aku peluk Kamu Kei?" tanya Neta sebelum memeluk sang suami.


Kei langsung mendekat dan memeluknya dengan hati-hati. Dia teringat bila perut Neta belum sepenuhnya pulih. Tendangan yang Salma berikan memberikan efek yang luar biasa bagi rahim Neta sampai saat ini yang sering merasa sakit secara tiba-tiba.


"Boleh, kenapa harus bertanya? Aku ini suamimu bukan?"


Neta memeluknya dan menghirup aroma tubuh Kei dalam-dalam. "Aku harus meminta izin, sebab kamu juga suami orang."


Jawaban dari Neta membuat pelukan Kei mengendur. Ia memberikan jarak sepanjang lengannya dan kemudian menatap teduh Majah wanita yang masih pucat di hadapannya itu. Terlihat Kei sangat larut dalam suasana hangat ini.


Suasana ini sangat jarang ia dapati saat bersama dengan Salma. Terkadang, saat menghabiskan waktu bersama Salma, Kei membutuhkan dorongan dari sebotol minuman keras. Hal itu ia lakukan hanya demi membuatnya merasa relax dan melupakan bagaimana perasaannya sendiri.


"Sekarang ini aku hanya suamimu. Aku sudah mengurus perceraian ku dengan Salma. Kamu dengar? Jadi jangan bahas soal itu lagi. Aku sudah putuskan untuk hidup bersamamu dan juga anak-anak kita nantinya." Kei berbicara dengan lugas dan begitu jelas.

__ADS_1


"Anak-anak? Apa aku masih bisa hamil Kei? Aku takut kalau pada akhirnya aku juga tidak akan bisa memberikanmu keturunan karena kejadian ini. Lalu setelahnya kamu akan menceraikanku dan mencari wanita lain lagi," kata Neta dengan kesedihan di matanya.


__ADS_2