
Di saat tubuhnya masih dalam keadaan lemah, di saat pikirannya belum sepenuhnya segar. Wanita yang merasa terbuang oleh ibu kandungnya sendiri itu hanya bisa menangis seorang diri. Neta menangis di dalam kamarnya, tanpa Kei di sampingnya.
"Kenapa di saat seperti ini ibu sama sekali tidak mau menjengukku atau bahkan sekedar menanyakan kabarku. Dia seolah menghilang dari muka bumi ini. Dia sama sekali tidak peduli kepadaku. Apa aku ini bukan anak kandungnya? Mengapa dia begitu tega?" batin hati Neta meratapi nasibnya.
Neta mulai merasakan dari setiap kejanggalan yang ia alami selama ini dari sikap sang ibu. Ia kembali mengingat awal pertemuannya dengan Kei, pria yang saat ini menjadi suaminya. Neta mengingat kembali bagaimana sang ibu membujuknya sedemikian rupa. Hari itu ....
"Nak, nanti malam ada yang mau bertemu denganmu. Dia adalah seorang pria lajang yang sedang mencari calon istri. Orangnya baik dan juga mapan. Ibu yakin kalau kamu dengan dia nanti hidupmu bakalan enak," kata ibu Rahayu.
"Siapa Bu? Apa aku udah kenal sama dia?" tanya Neta sembari memotong pola di dalam kantornya.
Bu Rahayu menggeleng pelan. "Enggak, kamu sama sekali belum kenal dia. Dia bukan berasal dari kota ini. Usianya memang lebih tua sedikit dari kamu. Tapi dia itu sudah mapan."
"Ibu, Neta itu enggak mau dijodohkan. Neta pingin menikah dengan pilihan hati Neta sendiri." Neta menolaknya secara halus.
Ibu Rahayu seketika mendekat dan mengusap lembut punggung sang putri. "Sayang, hanya sekali ini saja. Menurut sama ibu soal pilihan ibu. Apa kamu tidak mau melihat ibumu ini senang dan panjang umur? Atau ... kamu mau ibumu ini segera menyusul ayahmu?"
"Ibu! Jangan bilang begitu, Neta enggak mau ada hal buruk sama ibu." Neta yang ketakutan kehilangan seseorang yang ia cintai pun pada akhirnya memeluk sang ibu.
"Iya, Neta akan turuti. Tapi bila kesan pertama Neta bertemu dengannya buruk, maka jangan paksa Neta menikah ya Bu? Lebih baik Neta terlambat menikah dari pada menikah dengan orang yang salah." Neta berbicara dengan terus memeluk ibu Rahayu yang berdiri di sampingnya.
"Sebenarnya, ibu memilihkanmu lelaki itu bukan tanpa sebab Neta. Ibu kasihan melihatmu bekerja keras seperti ini demi membayar hutang keluarga kita. Setidaknya jika kamu mendapatkan suami yang kaya, maka hidupmu tidak akan sengsara seperti ibu," kata ibu Rahayu yang terdengar manis di telinga.
"Ibu ...." gumam Neta dengan deraian air matanya.
...****************...
...****************...
Sementara itu di lain tempat, kakak beradik tengah menikmati liburannya. Si ibu itu sama sekali tidak menghiraukan keadaan sang putri. Dia justru terkesan senang menari di atas penderitaan anak kandungnya sendiri.
"Kak, apa Kakak tidak ingin menjenguk Neta?" tanya Risma sembari menikmati pemandangan sore di tepi pantai yang berada di sebuah tempat penginapan.
"Buat apa? Apa telingamu itu tuli? Apa tidak dengar sewaktu Kei menelponku? Dia bilang bukan, jangan ganggu rumah tangganya maka dia akan mencukupi segala kebutuhan kita. kurang enak bagaimana lagi? Aku malah berencana untuk membeli tanah dan membuka usaha di sini mengandalkan uang dari menantuku itu," jawab ibu Rahayu yang terdengar tidak mempunyai perasaan sebagai seorang ibu.
"Hahaha, iya. Aku juga dengar kalau soal itu Kak, tapi ya setidaknya basa-basi sajalah supaya Neta tidak merasa terbuang. Aku hanya berpikiran, kalau kamu terlalu acuh dan terlena dengan uang Kei lalu mengabaikan Neta, nanti kamu akan kehilangan tambang emasmu itu. Bagaimana kalau setelah ini mereka bercerai? Kalau kamu jauh, kamu tidak akan mempunyai kesempatan untuk menjadikan dia sebagai sumber penghasilan," ucap Risma, adik ibu Rahayu.
__ADS_1
Ibu Rahayu seketika menoleh ke arah Risma dan mengangguk pelan. "Iya, kamu benar. Kalau mereka berpisah atau ada hal buruk suatu saat nanti, bagaimana aku bisa merekrut korban baru jika hubunganku dengan Neta saja tidak baik?" ucap ibu Rahayu setelah memikirkan perkataan Risma.
"Oke, kemasi pakaian kita. Kita balik sekarang, kita jenguk dulu Neta," putus ibu Rahayu sembari berjalan keluar kamar.
Bibi Risma hanya menggeleng menatap kepergian Kakaknya. "Dasar si bodoh itu. aku harus terus menghasutnya supaya dia lebih produktif lagi dalam mencari keuntungan dari anaknya. Hahaha! Perlahan-lahan aku bisa membalaskan dendam ku pada kakakku yang tol*l itu."
Sore itu juga mereka berkemas untuk kembali ke kota. Ibu Rahayu tidak pernah tahu bila adiknya selama ini mempunyai dendam terhadapnya. Dendam yang diakibatkan dari kematian seseorang yang ia sayangi.
...****************...
Sementara itu, di pelataran parkir Mahkamah konstitusi, sepasang suami istri tengah berdebat hebat. Salma mengucapkan sumpah serapahnya. Dia sama sekali tidak akan mundur dan akan melakukan gugatan terhadap Kei atas kasus perselingkuhan dan menikah tanpa seizinnya.
Salma memang adalah wanita yang nekat. Dia sama sekali tidak gentar meskipun sudah melakukan serangkaian kesalahan. Begitu juga hari ini, di depan kantor yang biasa digunakan untuk mendamaikan orang, dia malah berteriak menantang dan membuat keributan.
"Aku enggak akan pernah terima dengan semua ini Kei! Sampai mati pun aku enggak akan rela!" seru Salma saat Kei berlalu pergi dengan tatapan sinisnya.
"Dan aku, sampai mati pun enggak akan pernah maafin kamu yang udah melenyapkan calon anakku!" bentak Kei sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Wah, dua kutub yang berbeda. Neta begitu hangat dan lembut. akan tetapi dia ini?" tanya Dekta si pengacara.
"Dia ini bukan manusia. Dia ini jelmaan iblis," sahut Kei dengan terus menatap ke luar jendela. "Menurut Anda, makanan apa yang bisa menurunkan tekanan stres?" tanyanya.
Kei mengangguk pelan lalu kembali menatap ke kedua tangannya yang saling bertaut. "Iya, aku tahu dia sedang tertekan. Dia sedang stress. Semalam saja aku lihat dia menangis di dalam tidurnya, entah mimpi apa tadi dia tidak mau bilang."
"Jelas saja dia tertekan. Dia itu wanita baik, aku bisa melihat itu di matanya. Dia bukan wanita yang banyak mau. Dia mengutamakan kebahagiaan orang lain, itu sebabnya dia mau memenuhi kemauan ibunya untuk menikah denganmu."
"Iya, kamu benar." Kei menunduk sendu.
"Lalu, dia kehilangan calon buah hatinya, sudah pasti dia sangat sedih dan merasa sangat kehilangan. Tapi dia juga tidak mau merepotkan orang lain, karena itu dia diam," papar Dekta.
"Hem, aku juga bisa merasakan itu. Dia bahkan menolak untuk aku bantu saat melakukan sesuatu di rumah," kata Kei menimpali.
Kei sampai di rumah sang nenek. Wanita pertama yang ia temui adalah wanita tua yang sedang duduk di atas kursi roda. Ia tersenyum menyambut kedatangan sang cucu.
"Kei, sudah pulang?" sapa sang nenek.
__ADS_1
"Iya Nek, mana Neta?" jawab Kei sembari mencium pipi sang nenek.
"Dia, seharian ada di kamarnya dan tidak mengijinkan siapa pun untuk masuk," jawab nenek Fuji.
"Apa iya Nek? Lalu itu artinya dia belum makan?" tanya Kei yang terlihat begitu cemas.
Nenek mengangguk lalu melihat ke bungkusan yang Kei bawa. Sebuah paper bag yang ia bawa juga terlihat setangkai bunga mawar merah di dalamnya. Nenek tersenyum melihat itu.
"Cepat masuk dan berikan yang kamu bawa itu kepadanya. Pasti dia akan sangat suka," kata Nenek sambil tersenyum.
"Iya Nek," jawab Kei seraya berjalan menuju ke kamarnya.
Kei berdiri di depan pintu. Ia menghela napasnya sebelum masuk ke dalam kamar. Beberapa kali dia juga terlihat sedang mempersiapkan mental.
"Ta, buka pintunya! Ini aku, Kei!" seru Kei sambil mengetuk pintu.
Di dalam kamar Neta segera mengusap air matanya. Dia berusaha untuk memakai lipstik agar tidak terlihat pucat. Dia berusaha untuk merapikan penampilannya di hadapan sang suami.
Pintu terbuka setelah Neta perlahan membukanya. Meskipun dengan tertatih dia tetap membukanya dan berusaha untuk menampilkan senyuman manisnya di hadapan sang suami. Sampai detik ini, Kei bahkan tidak tahu apa yang melandasi kebaikan istri sirinya itu.
"Udah pulang Kei?" sapanya dengan wajahnya yang sendu.
"Iya," jawab Kei pelan sembari memberikan paper bag yang dia bawa.
"Ini, buatmu," kata Kei pelan.
"Kenapa harus repot-repot kasih bunga segala? Ini bukan hari spesial atau hari ulang tahunku," kata Neta sambil berjalan pelan dan Kei memapahnya kembali menuju ke ranjang.
"Matamu sembap, kamu menangis seharian ini?" tanya Kei dengan menunjukkan perhatiannya.
"Enggak, ini sembab karena aku kebanyakan tidur," jawab Neta penuh dusta.
Kei mengantarnya duduk di tepi ranjang. "Jangan bohong, kamu bahkan enggak makan seharian ini 'kan?" tanya Kei dengan lembutnya. "Makan nasi dulu, setelah itu makan coklatnya ya?" bujuknya.
"Tapi aku enggak lapar. Aku hanya ingat dengan calon anakku. Kenapa dia yang harus pergi, kenapa tidak nanti dan itu seharusnya aku saja yang mati, bukan dia ...." Neta menyesali kepergian calon buah hatinya.
__ADS_1
"Ta, jangan bicara seperti itu ya. Kita sama-sama doakan anak kita, jangan seperti itu. Aku juga sedih tapi kamu juga harus jaga kesehatan, mungkin memang dia ditugaskan untuk menunggu kita di surga. Suatu saat kita akan berkumpul bersama di sana dengan dia dan juga adik-adiknya," kata Kei.
"Adik-adiknya?" Neta terheran dan mengerutkan keningnya dengan indah. "Adik apa? Aku sudah memikirkan semuanya, dan lebih baik aku pergi menghindari semua masalah ini."