
Hari itu, saat di mana Neta dan Kei masih berada di taman belakang, ibu Rahayu dan bibi Risma datang. Setelah mencari melakui internet di mana kediaman nenek Fuji, mereka pada akhirnya sampai di kediaman megah dan mewah itu. Keduanya begitu takjub saat menatap pagar rumah yang nampak seperti istana tersebut.
"Wah, kamu lihat rumah ini Risma, ini seperti istana! Bayangkan kita akan tinggal di dalamnya. Kita akan menguasai semuanya jika sampai Neta bisa menjadi Nyonya di sini," kata ibu Rahayu sembari berjalan masuk menuju ke rumah tersebut setelah satpam membuka gerbang atas izin dari nenek Fuji.
Sebelum keduanya menemui Neta, nenek Fuji meminta mereka untuk menemuinya terlebih dahulu. Ada hal penting yang ingin nenek Fuji bicarakan. Akan tetapi semua itu tidak akan ia beritahukan kepada Kei.
"Suster Dini, bawa mereka ke mari. Kedua orang tamak yang tega menjual anaknya itu. Aku sudah sangat ingin memberikan mereka pelajaran. Sangat ingin sekali," ucapnya dengan santai sembari mengusap tangan keriputnya yang saling bertaut.
Nenek Fuji, sudah mencari informasi mengenai siapa ibu Rahayu dan juga bibi Risma. Bahkan data diri lengkap mereka pun sudah nenek Fuji kantongi dari semenjak Kei melakukan pernikahan keduanya. Hanya saja dia tidak menyangka bila ada seorang ibu yang begitu tega terhadap anaknya yang penurut seperti Neta.
"Ibu ibu di luaran sana sangat ingin mempunyai anak yang penurut. Tapi ibu Rahayu ini dia malah menyia-nyiakan anaknya dan menjadikannya sebagai tambang penghasilan. Oh, ibu yang tidak berhati nurani," gumam Nenek Fuji dengan suaranya yang bergetar.
Tidak lama dari itu, suster Dini datang dengan membawa ibu Rahayu dan bibi Risma. Keduanya terheran dengan kamar yang mereka masuki. Itu bukan nampak seperti sebuah kamar, tapi sebuah rumah yang di dalamnya hanya terdapat sebuah ranjang besar, sofa dan jajaran lemari pakaian yang terlihat berkilauan.
"Duduklah," ucap nenek Fuji mempersilahkan.
Nenek Fuji dengan santai menatap kedua tamunya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Tatapan yang merendahkan bercampur kecewa. Ia kecewa terhadap sosok ibu yang tega menjual anaknya hanya demi keuntungan pribadi.
"Ada perlu apa kalian kemari? Sudah benar-benar kalian menjauh dari Neta. Kenapa malah datang ke sini lagi? Atau, aku harus mengirimkan kalian ke luar negeri?" cetus nenek Fuji masih dengan tatapan matanya yang merendahkan.
"Keluar negeri? Wah, itu kedengaran menyenangkan," sahut ibu Rahayu seketika.
"Dasar benar-benar ibu yang tidak berperasaan. Bisa-bisanya dia memikirkan tentang liburan sedangkan calon cucunya saja baru saja tiada. Oh astaga, ini sangat menyesakkan dada," keluh nenek Fuji dalam hatinya.
__ADS_1
"Kak, ingat tujuan kita bukan itu. Kamu jangan terpengaruh dengan tawarannya," bisik bibi Risma pada ibu Rahayu.
Ibu Rahayu seketika menoleh dan menepuk pundak adiknya itu. "Hei, ini juga tawaran yang bagus. Apa salahnya kita liburan? Toh juga Neta susah bersama suaminya, apa yang perlu kita cemaskan lagi? Tidak ada Risma, tidak ada."
Bibi Risma kembali berbisik. "Ingat apa yang aku katakan di hotel kemarin? Jangan terlalu senang dengan satu batu pijakan. Kita harus memikirkan pijakan lain."
"Iya, kamu benar Risma. Kamu benar, oh hampir saja aku kehilangan kendali," jawab ibu Rahayu yang tidak kalah pelan.
"Di mana anakku? Aku dengar dari menantuku kalau dia baru saja keguguran. Di mana dia Nek? Oh iya, Anda ini siapa?" tanya ibu Rahayu yang tidak mengenal siapa nenek Fuji.
"Aku adalah neneknya Kei. Aku yang punya rumah ini. Jadi kalian adalah tamuku. selayaknya tamu, kalian harus bersikap sopan. Jaga sikap kalian," kata nenek Fuji dengan telunjuknya yang bergerak menunjuk ke kaki ibu Rahayu.
"Ibu, kakinya tolong kalau duduk yang sopan," tegur suster Dini sesuai dengan permintaan nenek Fuji melalui tatapan matanya.
Nenek Fuji tersenyum dan kemudian mengedipkan sebelah matanya pda suster Dini. Satu kode yang sudah mereka bahas dari semenjak melihat kedatangan kedua tamu ini melalui kamera pengawas di depan gerbang. Suster Dini lalu menggunakan HT miliknya untuk meminta minuman kepada asisten rumah tangga.
"Jadi Kei menghubungi kalian?" tanya nenek Fuji yang ingin tahu dari mana dua orang ini mengetahui tentang kabar Neta.
"Iya dia menghubungiku dan memintaku untuk datang kemarin, tapi aku baru sempat hari ini karena ada acara penting," jawab ibu Rahayu.
Nenek Fuji menyeringai, dia sangat tahu acara penting apa yang ibu Rahayu ini bicarakan. "Oh, jadi acara liburanmu itu lebih penting dari pada anakmu yang baru saja mendapatkan musibah kehilangan calon anaknya?"
"Mau bagaimana lagi, kami sudah membayar mahal untuk itu. Tidak mungkin kami pulang begitu saja," jawab ibu Rahayu.
__ADS_1
"Liburan dengan uang hasil menjual anakmu pada cucuku, begitu maksudmu? Tidak tahukah kamu betapa anakmu tertekan akan hal itu? Lalu kalian menikmati uangnya dengan berlibur?" tanya Nenek Fuji dengan maksud ingn memperjelas semuanya.
Siapa sangka bila apa yang mereka bicarakan itu terdengar begitu jelas di telinga Neta yang sedang duduk di kursi roda saat kembali dari makam anaknya. Hatinya bertambah hancur saat mendengarkan pengakuan ibunya. Dia hanya bisa menangis saat mendengarkan itu.
"Bawa aku ke kamar Kei, aku tidak ingin membenci ibuku lebih dari ini," kata Neta lirih.
"Iya, baiklah akan kuantar kamu ke kamar," jawab Kei mengiyakan.
"Terbuat dari apa hatimu ini? Bahkan kamu tidak mau membenci meskipun ibumu ini sangat pantas untuk dibenci." Kei mendorong Neta menuju ke kamar mereka.
Tidak lama dari itu suster Dini mengambil minuman yang sudah dibuat oleh asisten rumah tangga. suster Dini pun memberikan sesuatu ke dalam minuman untuk tamu mereka itu. Ia pun tersenyum setelah melakukannya.
Setelah meminumnya sampai habis kedua tamunya itu pun tertidur. Mereka berdua bahkan sampai mendengkur. Nenek Fuji segera menghubungi penjaga dan meminta penjaga untuk mengantarkan kedua orang itu ke sebuah tempat yang sangat jauh dari keramaian.
"Rasakan! Kamu pikir akan semudah itu memanfaatkan cucuku dan istrinya, cih! jangan harap," kata nenek Fuji dengan senyuman liciknya.
...----------------...
"Jangan menangis lagi, kamu sudah terlalu banyak air matamu yang tumpah. Kita mulai semuanya dari awal ya. Mulai sekarang kita merajut semuanya berdua. Biarkan saja bila memang ibu seperti itu," kata Kei pelan.
Neta mengangguk dengan air matanya yang menetes. "Aku tidak mau menjadi anak durhaka dengan membenci ibu Kei. Kalau tidak ada dia, tidak akan ada aku di dunia ini. Bahkan aku berhutang banyak padanya. Bila yang menjadikan jalan pertemuan kita adalah dengan aku yang dijual kepadamu. Maka aku rela Kei."
"Kenapa tidak dari dulu kita bertemu? Kenapa takdir kita begini?" tanya Kei sembari memeluk dan menciumi pucuk kepala Neta dengan sayang.
__ADS_1