Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
78. Ancaman dari Nyonya


__ADS_3


"Kenapa?" tanya nenek Fuji kepada Kei setelah rapat usai.


"Nenek, tidak apa-apa. Aku hanya pusing saja dengan sikap Neta. Dia jauh berbeda dengan Salma. Neta tidak banyak menuntut ini dan itu. Dia tidak banyak meminta barang-barang mewah. Seberapa pun yang aku berikan dia hanya terima dengan ikhlas. Ah, aku jadi merasa bersalah perkara bakso itu." Kei mengutarakan ganjalan di hatinya.


"Masih seputar bakso? Apa tidak ada materi lain dalam pertengkaran kalian? dulu sama Salma kamu bertengkar soal uang, soal persenan tender. Ini soal bakso," cibir nenek Fuji.


Kei menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Hemh ... Nenek, jangan begitu. Ini sangat berbeda, Neta itu wanita rumahan. Beberapa kali juga dia selalu menolak bila ku ajak di acara perusahaan. Dia hanya berperan seperti bayang-bayang saja. Karena kisah awal kita yang tidak begitu baik dia jadi ingin menghilang dari publik. Stigma miring yang melekat kepadanya membuatnya mengurung diri sendiri."


"Iya, nenek juga merasa bersalah karena membuat anak baik itu terjebak dalam situasi seperti ini. Nenek tidak menyangka kalau akan seperti ini dan Neta itu bukan seseorang yang mudah sembuh lukanya hanya karena uang dan harta. Dia itu jauh berbeda," kata nenek Fuji yang tanpa dia sadari saat itu terdengar oleh Kenny yang hendak masuk ke dalam ruangan kerja sang kakak.


"Ah, mereka berdua sedang ada di sini. Berarti ini momen yang bagus bagiku untuk menemui Neta dan mengganggunya. Hehehe, sehari kemarin aku sudah tidak bertemu dengannya. Kenapa aku merasa rindu? Ah, aku sudah berjanji untuk tidak mengganggunya, tapi kenapa susah sekali?" gumam Kenny seraya tersenyum licik.


Kenny terus saja terikat dengan pikirannya sendiri. Ia terikat dengan hasratnya. Hasrat yang begitu menggebu untuk memiliki hubungan dengan istri kakaknya sendiri.


Berulang kali dia ingin mengendalikannya, tetapi perasaan itu justru semakin tumbuh dan semakin menggebu. Kenny tidak bisa mengalihkan lagi, kini pilihannya hanyalah menyalurkan dengan definisi lain. Kenny ingin menyalurkannya dalam bentuk perhatian kecil.


"Neta itu tidak secantik jajaran mantanku. Tapi mengapa justru aku sangat tertarik dan tidak bisa move-on. Padahal dia sudah menamparku, menghinaku, dan aku apa? Aku sama sekali tidak bisa marah. Seperti aku ini tidak ada harga dirinya sama sekali. Aneh," kata Kenny yang mencemooh dirinya sendiri.


"Hemh! Gila, ini gila. Aku sudah dibuat tergila-gila oleh wanita hamil? ****! Satu-satunya wanita yang bisa membuatku sampai seperti ini ya cuman kamu Neta! Kenapa tidak aku dulu yang menemukanmu? Kenapa? Malah dia!" ujar Kenny yang begitu penuh dengan kebencian terhadap Kei.


...****************...

__ADS_1


"Ibu, kata Bapak tidak boleh makan makanan yang asal seperti ini," kata Suster Nana mengingatkan.


"Iya, nanti kalau kita kena marah bagaimana?" cetus Lusi yang juga tengah menunggui Nyonya mereka makan di pinggir jalan.


"Bu, sebaiknya makan di dalam mobil saja biar tidak ketahuan Bapak," saran Pak Joko.


"Hih! Bisa enggak jangan pada berisik? Baru hari ini ya aku tiba-tiba mau makan nasi lagi. Kalau aku enggak makan dan sampai diinfus maka itu salah kalian yang terlalu patuh sama Bapak ya! Mau aku seperti itu biar ujung-ujungnya kalian kena pecat?" hardik Neta dengan tatapan matanya yang menyiratkan rasa jengkel.


Ketiga orang suruhan suaminya itu pun menggeleng cepat. "Enggak Bu."


"Nah begitu, sekali-kali nurut sama aku. Sini ikut makan, pesan apa saja yang kalian mau. Hari ini Pak bule itu baru melunasi pembayarannya jadi aku dapat untung banyak. Hitung-hitung sedekah." Neta berbicara sambil makan.


Bersamaan dengan itu, Kenny yang sedang melaju menuju ke butik Neta. Secara tak sengaja dia melihat mobil Kei yang terparkir di depan sebuah warteg. Maniknya membulat dan dengan sigap dia berputar, berbalik arah lantaran sempat terlewat.


"Itu kayak mobil Kei, platnya sih bener apa Neta yang bawa? Eh tapi bukannya dia enggak boleh tuh makan di pinggir jalan begini? Wah kesempatan nih," kata Kenny yang dengan begitu senangnya ingin memanfaatkan momentum tersebut.


"Nah, kalau begini tidak akan bisa berkutik kamu Ta. Dengan sangat terpaksa siang ini kamu akan menemaniku makan," ujar Kenny dengan liciknya.


"Selamat siang Nyonya Aneta Keiji!" sapa Kenny dengan membungkuk sopan namun membuat Neta sontak tersedak.


"Uhuk! Uhuk!" Neta terbatuk-batuk sampai pipinya memerah.


"Ken! Ngapain kamu ada di sini?" tanya Neta dengan netranya yang terlihat sangat terkejut.

__ADS_1


"Aku?" Kenny menunjuk batang hidungnya dan Neta mengangguk.


"Hehehe aku mau makan siang bersama kakak ipar. Itu kalau boleh sih, kalau tidak ya terpaksa aku akan menyerahkan sebuah laporan yang sangat valid dan kongkrit tentang seorang istri dan orang-orang kepercayaan Kakakku yang justru bermain belakang dan melanggar peraturannya. Bagaimana? Boleh atau tidak?" tanya Kenny yang sudah sangat jelas tengah memanipulasi keadaan.


"Boleh!" serentak 3 orang suruhan Kei membolehkan. Mereka merasa tidak ada pilihan lain di mana Kenny sembari berbicara sembari menggeser- geser foto-foto bukti yang telah dia dapatkan.


"Kalian ...." Neta menatap nanar dan bingung Suster Nana dan juga yang lainnya yang justru mengangguk cepat.


"Hanya makan siang sama Pak Kenny Bu, sebentar saja. Dari pada Bapak Kei tahu kita nongkrong di sini?" bisik suster Dini.


"Bagaimana?" tanya Kenny lagi sambil tersenyum licik dan tidak sabaran.


"Hemh!" Neta mendengus kesal dan melirik tajam para orang kepercayaan Kei, suaminya. "Oke, kali ini aku ingatkan kepada kalian, kalau sampai ini bocor, awas kalian!" hardiknya.


"Enggak akan Bu, kita janji," kata Lusi yang kemudian diangguki oleh kedua temannya.


"Awas kalau bocor gaji kalian tidak akan aku bayarkan!" ketus Neta penuh peringatan.


"Akhirnya, bisa juga aku makan ditemani dia tanpa ada gangguan dari suaminya yang over protective itu. Hahaha terima kasih banyak Tuhan ...!" ujar Kenny senang dalam hatinya.


Srrkk ....


"Apa ini?" tanya Neta kesal saat piring ikan baung sampai di depan matanya.

__ADS_1


"Tolong hilangkan durinya kakak ipar yang cantik, aku ingin makan masakan ikan itu tapi tidak bisa membuang durinya, tolong ya?" pinta Kenny dengan begitu manja, ia bahkan mengedipkan matanya berulang kali di depan Neta.


"Dih, sok imut!" desis Neta yang kesal bukan main.


__ADS_2