
"Aku sudah bilang, tidak ada pisah atau apa pun itu. kita sudah terlanjur basah. Dengarkan aku, aku jatuh cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu. Jangan pergi dariku oke?" kata Kei yang berusaha untuk meyakinkan bahwa dia saat ini benar-benar ada untuk Neta.
"Karena aku semuanya jadi kacau termasuk hidupmu. Seharusnya bukan aku yang kamu pilih Kei, seharusnya orang lain yang membawa keberuntungan. Bukan aku," ucap Neta sembari menahan kesedihannya.
"Hei, kenapa kamu bilang kayak gitu? Ada apa? Siapa yang menyalahkanmu? Bukan kamu yang salah, aku. Aku yang salah Ta, aku," kata Kei yang berusaha memupuk rasa percaya diri istri keduanya.
Neta masih saja sesenggukan, dia merasa begitu sedih kali ini. Di tambah lagi dengan sang ibu yang sama sekali tidak mempedulikannya. Neta merasa terbuang dan semua itu memang karena kesalahannya.
"Aku seharusnya meminta maaf kepada istrimu. Aku yang bersalah atas semua ini,.aku yang membuatnya marah Kei," kata Neta dengan tatapan matanya yang terlihat cekung dan hampa seperti bukan dirinya.
"Ada apa dengan masa lalumu sampai kamu meminta maaf bahkan untuk kesalahan yang sama sekali tidak pernah kamu lakukan. Ada apa Ta?" pikir Kei.
__ADS_1
"Enggak, bukan kamu yang salah. Udah, jangan dibahas lagi," putus Kei yang kemudian memeluknya erat.
"Apa kamu mau menjenguk makam anak kita hari ini? Karena aku tidak tahu apa jenis kelaminnya aku beri. nama dia Rumi, nama yang bisa dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Kamu mau mengunjungi makamnya ?" tanya Kei lagi pada akhir kalimatnya.
Neta hanya mengangguk pelan dan menahan tangisnya. "Tapi aku belum bisa jalan lama."
Kei tersenyum lalu menangkup wajahnya. Perlahan ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Neta. Ia juga menatap teduh netra yang basah akan air mata itu.
"Sebentar," ucap Kei yang pergi keluar dari kamar istrinya. setelahnya ia kembali lagi dengan membawakan kursi roda.
Neta tersenyum melihat perhatian yang Kei berikan. Saat ini dia tengah berada di dalam kebimbangan. Sebelah hatinya merasa bersalah dan ingin menyudahi semuanya. sebwlah hatinya justru merasa iba pada sosok Kei dan ingin memulai sesuatu bersama.
__ADS_1
"Ini," ucap Kei pelan yang kemudian membantu Neta untuk duduk di kursi roda.
Dengan lembutnya Kei mendudukkan Neta dan mendorongnya menuju ke sebuah gundukan tanah kecil yang berada di taman belakang rumah mereka. Selama dalam perjalanan menuju ke taman belakang, Neta sudah menitikkan air mata meski tanpa suara. Hingga, dia sampai dan dengan terisak dia mulai menatap gundukan tanah kecil itu.
"Rumi, namamu Rumi Sayang. Maafkan ibu ya? Ibu enggak bisa jaga kamu dengan baik," kata Neta dengan air matanya yang berderai.
Kei yang merasa gas akan sikap istrinya itu pun pada akhirnya mencium pas di bibirnya. Kei menciumnya dan memeluknya erat kemudian. Di sela-sela ciuman hangat itu, di kala tatapan mata mereka saling beradu, Kei berkata.
"Aku yang gagal jaga kalian dan bukan kamu. Jangan salahkan dirimu. Aku yang salah Sayang dan sekarang aku pilih kamu. Bukan Salma, aku harap kita bisa mempertahankan rumah tangga kita ini sampai tua kita sama-sama." Kei berbicara dengan tulus dan serius.
"Sampai tua? Aku mungkin bisa asalkan kamu benar-benar memperjelas status hubungan kita secepatnya, bagaimana?" tanya Neta.
__ADS_1