Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
68. Pelerai Handal


__ADS_3

"Aku lapar," keluh Kenny sembari berjalan pincang menuju ke dapur yang sudah berantakan dan porak poranda.


Kejadian semalam mereka tidak tahu sedahsyat apa longsor itu melanda. Namun pada pagi harinya, barulah mereka tahu jika telah terjadi bencana besar. Longsor itu menelan banyak korban. Terlihat begitu mengerikan dan seperti gunung yang berpindah haluan.


"Astaga! Gunungnya bergeser begitu? Wah, kalau begini caranya apa akan ada yang datang mencari? Internet jelas terputus, listrik juga. Lalu makanan, kalau begini apa bisa kami bertahan? Hanya ada mi instan yang belum di seduh. Kompor dan yang lain ...."


Kenny mengamati peralatan dapur dan memeriksanya. Di saat dia sedang serius, Neta datang. Wanita itu sedang berusaha untuk mencarikan makan bagi suaminya yang masih terlelap.


"Kamu dapat makanan apa Ken? Bagaimana keadaanmu, sudah baikan?" tanya Neta layaknya kakak yang mencemaskan adiknya. Namun tidak bagi kaca mata Kenny. Sikap Neta ini seolah sedang menunjukkan betapa ia menyayangi Kenny lebih dari adik.


"Aku baik Ta, bagaimana kamu juga. Apa masih pusing? Ini ada coklat, kita bagi dua ya. Aku tahu kamu juga membutuhkan asupan, jadi setidaknya harus makan. Mana suamimu?" tanya Kenny seolah tengah menempatkan Kei sebagai orang asing.


"Ken, suamiku itu kakakmu. Jangan seperti itu, kalian itu bersaudara." Neta tidak menyukai sikap Kenny yang menganggap Kei sebagai orang asing.


Kenny hanya tertawa getir dan menatap wajah Neta. Tanpa Neta duga, adik ipar dari suaminya itu menciumnya hingga membuatnya susah bernapas. Neta menjambak rambut Kenny dan mengakhirinya dengan sebuah tamparan.


"Kenny! Aku salah sudah bersikap baik kepadamu. Ternyata memang benar apa yang suamiku katakan bahwa kamu tidak pantas diberlakukan dengan baik. Kamu tahu aku ini istri kakakmu tapi kenapa, kenapa kamu ...."


Kenny mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Ia tersenyum miring dan itu sangat mengerikan. Ia sama sekali tidak merasakan sakit kala itu.


"Kan aku sudah bilang, aku ingin istri yang sepertimu. Selama kamu belum bisa mencarikan aku wanita yang seperti apa yang aku mau maka aku akan terus mengganggu rumah tangga kalian. Kamu paham kakak iparku yang cantik. Nih! Makanlah, setidaknya supaya kamu ada tenaga untuk melawanku kalau aku tiba-tiba ingin mencium bibir manismu lagi," ucapnya dengan begitu enteng, sembari mentoel dagu Neta.


Neta segera mengelap bibirnya brutal. Ia ingin menghilangkan jejak bibir Kenny di bibirnya. Tidak ada perasaan ingin membalas atau apa, yang tersisa hanyalah perasaan marah dan kecewa yang luar biasa. Baru beberapa jam dia berusaha untuk meyakinkan suaminya bahwa sang adik adalah orang yang bisa dipercaya, namun sekarang justru dirinya yang menjadi sasaran empuk dan sumber kepercayaan yang terkikis.


"Argh! Menjengkelkan sekali. Tidak, suamiku tidak boleh tahu bagaimana nanti kalau mereka bertengkar? Aku harus menghadapi semua ini dan menyelesaikan dengan caraku," kata Neta pelan sembari mencuci bibirnya di kran bagian luar.


Seseorang mengepalkan tangannya. Rupanya Kei melihat kejadian di mana Kenny mencium bibir istrinya dengan liar. Hatinya tercabik-cabik saat melihat bagaimana Neta berusaha untuk melawannya namun hanya sekedar jambakan rambut yang ia bisa.


"Kamu pikir kamu bisa berlaku seenaknya pada istriku Ken? Tidak akan!" tukas Kei yang kemudian menghampiri Kenny yang tersenyum licik kepadanya saat mereka berpapasan.

__ADS_1


"Apa kamu benar-benar terluka?" tanya Kei.


"Apa peduliku Kei?" tanya balik Kenny dengan tatapan matanya yang meremehkan.


"Aku rasa kamu belum benar-benar terluka, sampai kamu mampu mencium paksa istriku," cetus Kei diiringi dengan sebuah tinjuan yang sengaja ia arahkan ke bibir Kenny.


Hanya dengan satu tinjuan Kenny yang memang sedang pincang itu pun terjengkang. Ia terjatuh ke belakang dan menimpa peralatan masak sehingga menghasilkan bebunyian yang begitu keras. Neta seketika berlari menuju ke sumber suara yang mana berada di ruang makan yang aksesnya melewati ruang keluarga. Di ruang keluarga tersebutlah Kei melihat semuanya dengan jelas.


"Mas! Ada apa ini? Jangan berkelahi!" Neta segera berlari dan berniat untuk melerai.


Namun saat melihat darah yang mengucur dari hidung dan bibir Kenny, Ia pun seketika merasakan mual yang amat dahsyat. Bila semalam dia bahkan tidak tahu warna darah Kenny, maka lain dengan sekarang di mana dia melihat dengan sangat jelas.


"Huek!" Neta mual dan dia muntah begitu saja. "Huek!"


"Ta, kamu kenapa?" tanya Kei yang langsung mendekat dan begitu mencemaskan keadaan sang istri. Ia memijit tengkuk dan terlihat begitu panik.


"Aku takut, takut sekali jika terjadi sesuatu dengannya. Kenapa perasaan ini begitu dahsyat hingga aku mengingkari keinginan hatiku sendiri? Kenapa magnet yang dia miliki begitu kuat?" pikir Kenny saat melihat Neta dari dekat.


"Tidak usah kalian pedulikan aku. Kalian mau berkelahi? Silahkan, silahkan!" sentak Neta.


Meski masih mual, Neta lalu berjalan dan mengambil dua spatula kayu. Ia membagikannya satu persatu kepada Kei dan Kenny. Tatapan matanya pun terlihat begitu tajam menikam membuat dua lelaki itu tertunduk.


"Ini pakai dan gunakan sebaik mungkin. Kenapa harus berkelahi terus? Kenny! kamu kenapa begitu terobsesi dengan semua milik kakakmu?" tanya Neta dengan setengah membentak. Ia melotot meski dengan rasa mual yang masih mendominasi.


"Iya, kenapa?" cetus Kei yang juga ikut-ikutan.


"Aku tidak suka dia mempunyai segalanya dan lebih bahagia dariku! Apa salahnya berbagi, aku ini saudaranya!"


"Bodoh! kamu pikir aku ini mainan?" tanya Neta dengan mengambil spatula di tangan Kei lalu memukulnya ke kepala Kenny.

__ADS_1


"Aduh!" keluh Kenny.


"Kamu juga!" bentak Neta beralih pada Kei, suaminya.


"Kenapa tidak pernah mau memberikan kesempatan untuk adikmu ini berbuat baik?" tanya Neta yang tidak berani meninggikan suaranya.


"Aya karena dia dari kecil selalu berusaha untuk menyaingi dan merusak semua milikku!" tukas Kei menjawabnya. "Dan tadi dia juga menciummu kan? Iya kan?"


Neta mengusap wajahnya gusar dan dia merasa begitu frustasi berada di tengah-tengah dua lelaki yang ambisius. Dua lelaki yang sama-sama terobsesi dengannya. Ia lalu menyeka bibirnya dengan ujung bajunya dan berjinjit lalu mencium bibir Kei di hadapan Kenny.


"Sudah, impas bukan? Tadi kamu melihat dia menciumku. Sekarang dai melihat kita berciuman. Dan sudah jelas di sini aku tetap setia sama kamu Mas. Tolong jangan bertengkar lagi."


"Tapi Sayang, dia mau merusak rumah tangga kita!" pekik Kei dengan menunjuk Wajah Kenny.


"Tidak! Aku hanya ingin wanita yang seperti dia juga dan aku memintanya untuk mencarikan ku wanita yang sepertinya!" elak Kenny yang sebenarnya apa pun alasannya sama sekali tidak bisa dibenarkan.


"Kenny! Diam! Selama kelakuanmu seperti itu, wanita baik mana yang akan mau sama kamu!" ketus Neta dengan kemarahannya.


"Huek!" Neta kembali muntah setelah mengomel panjang lebar. "Sana berkelahi sana aku tidak peduli!" teriaknya sembari muntah-muntah.


"Berani kamu ulangi lagi hal tadi. Aku akan memotong bibirmu itu Ken!" ancamnya sebelum memukulkan spatula ke kepala Kenny.


"Aduh!" ujar Kenny sembari mengusik kepalanya lagi.


Dari atas tebing, seseorang mengamati kejadian tadi. Dia adalah suster Dini. Ia mengamati dan mencari kabar keberadaan Kei dan istrinya. Dengan menggunakan teropong, ia memantau kejadian tadi.


"Wow! Hanya Nona Neta yang bisa menghentikan perkelahian mereka padahal masalahnya berat. Salut dengan Nona Neta," gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Ada apa Din?" tanya nenek Fuji yang juga penasaran.

__ADS_1


__ADS_2