
NT 24.
"Suamiku sama sekali tidak memberitahuku apa-apa tentang anda. Jadi maaf saya tidak bisa mempercayai siapapun terkecuali suami saya sendiri yang menghubungi dan memerintahkan saya. Sebaiknya bapak segera pergi atau saya akan panggil kan pihak keamanan apartemen ini," usir Neta kepada Jono yang berdiri di hadapannya.
Jono hari itu datang atas utusan Kei. Akan tetapi Neta sama sekali tidak mempercayainya karena Kei sama sekali tidak mengatakan apa-apa perihal kedatangan Jono. Pagi itu semuanya terjadi dengan begitu cepat hingga Kei sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membicarakan hal ini dengan istri keduanya.
Bahkan perintah Kei untuk datang dan mengungsikan Neta hanya melalui sebuah pesan singkat kepada Jono. Merasa omongannya sama sekali tidak dipercayai oleh istri atasannya Jono lalu menunjukkan pesan dan juga beberapa panggilan yang belum sempat ia angkat. Hal itu ia lakukan untuk mendapatkan kepercayaan dari Neta.
"Maaf tapi ibu Neta harus percaya sama saya ini pesan bapak untuk saya pagi ini," kata Jono yang kemudian menunjukkan isi pesan masuk ponselnya kepada Neta.
Neta pun perlahan membaca isi pesan tersebut dan dia juga mengambil ponselnya untuk mencocokkan nomor dari Kei yang menghubungi Jono tersebut. Beberapa detik setelah membaca pesan itu ia lalu mengembalikan ponsel tersebut kepada Jono. Perlahan Neta mulai percaya.
"Oke kalau begitu kamu memang suruhan suami saya tetapi kenapa semuanya terlalu mendadak dan tergesa-gesa seperti ini?" tanya Neta yang berbicara sembari melangkah masuk ke unit apartemennya.
Jono pun mengekor di belakangnya dengan sigap ia langsung menuju ke kamar utama. "Cepatlah Bu, kita tidak punya waktu ibu Salma, istri pertama bapak, tengah mengamuk di kantor saat ini. Bapak memerintahkan kepada saya untuk segera mengungsikan ibu bapak takut ibu Salma, sudah mengetahui keberadaan ibu di sini dan itu akan sangat membahayakan keadaan ibu dan juga calon bayi kalian. Ibu Salma, bukanlah orang yang bisa diajak bicara dengan baik-baik."
Mendengar apa yang Jono sampaikan Neta pun terdiam beberapa saat. Dia terdiam dan berpikir dengan segala kemungkinan. Iya lalu mengaitkan dengan perkataan suaminya sebelum berangkat tadi pagi.
"Apakah ini maksud dari ucapannya tadi pagi yang ingin menyelesaikan semuanya dan meminta waktu 1 sampai 2 bulan ini? Mereka berdua bertengkar gara-gara aku? Aku benar-benar menjadi pelakor di sini," batin Neta dengan segala rasa bersalah di dalam hatinya.
"Tapi kita mau pergi ke mana? Siapa namamu tadi?" tanya Neta kepada Jono dia lupa akan nama orang yang mengajaknya pergi.
__ADS_1
"Saya Jono saya adalah tangan kanan bapak Kei. Cepatlah ibu harus segera berkemas bawa barang yang penting-penting saja sisanya nanti biar saya yang urus," kata Jono yang dengan cepat mengambilkan koper besar lalu meletakkannya di dekat lemari pakaian Neta.
"Ada apa, Ada apa sebenarnya sampai kalian tergesa-gesa seperti ini?"
Neta bertanya dengan tangannya yang dengan sigap memasukkan baju-baju yang ia butuhkan ke dalam koper. Jono sesekali melihat keluar lalu ia melihat ke ponselnya seperti tengah mengawasi sesuatu. Keadaannya begitu mendesak kala itu Jono sangat hafal betul siapa itu Salma.
Salma memang berpenampilan seperti wanita yang bersikap anggun dan lemah lembut. Akan tetapi pada kenyataannya dia adalah seorang psikopat. Hal-hal jahat pernah ia lakukan tetapi ayah dan ibunya selalu menutupi semua kejahatan itu dengan uang.
Sampai dia menikah dengan Kei baru setelah 1 tahun pernikahannya Kei mengetahui semua kebusukan itu. Selama bertahun-tahun pula Kei hanyalah menjadi boneka dan menjadi pelampiasan atas sikap buruk Salma. Tidak ada yang bisa dilakukan.
Dahulu Kei hanya melihat harta dan juga kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga Salma. Dia sama sekali tidak pernah mencurigai kenapa perjodohan antara Salma dengan lelaki lain selalu saja gagal. Banyak keluarga lain yang menolak untuk menikahkan anak mereka dengan Salma.
Setelah key menemukan Neta dan hidup bersama dengan Neta dalam beberapa bulan saja, barulah secara perlahan dia mulai mencari tahu tentang latar belakang istri pertamanya. Barulah Kei sadar betapa dia telah salah mengambil keputusan. Dia juga baru mengetahui banyaknya kejahatan yang ditutupi oleh ayah dan ibu mertuanya atas tindakan buruk yang Salma lakukan.
"Nyawa saya dalam bahaya?" Ulang Neta bertanya dia ingin tahu lebih jelas tentang apa yang baru saja Jono katakan.
"Iya nyawa ibu Neta dalam bahaya, ibu Salma adalah orang yang sangat nekat dia tidak pernah setengah-setengah dalam membalaskan dendamnya. Dia tega bermain kotor dan melenyapkan siapapun yang merusak kebahagiaannya," jawab Jono dengan menatap lurus ke arah Neta yang seketika mematung dan kehabisan kata-kata.
"Wanita seperti apa yang sudah dinikahi oleh suamiku ini? Mengapa dia bisa menikahi wanita yang berjiwa bengis seperti ini?" batin Neta bertanya-tanya tentang siapa Salma.
Selesai berkemas, langsung saja keduanya pergi dari apartemen itu. Meninggalkannya begitu saja dan berpesan kepada petugas apartemen untuk mengatakan bahwa, siapapun yang bertanya nanti hanya akan mendengarkan jawaban kalau apartemen itu kosong dan sama sekali tidak pernah dihuni sebelumnya. Jono membawa pergi Neta dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Rupanya bukan Jono yang mengantarkan Neta sampai ke tempat tujuan. Di tengah perjalanan Neta kembali dioper dengan mobil dan orang lain. Seorang perempuan dengan rambut pendek menunggu mereka.
"Saya hanya diminta untuk mengantarkan ibu sampai ke sini selebihnya ibu akan pergi bersama dia," kata Jono yang menyerahkan Neta kepada si perempuan berambut pendek tersebut.
"Tapi dia ini siapa dan mau ke mana aku diungsikan?" tanya Neta di tengah rasa bimbangnya.
"Dia ini adalah Nindy, seorang perawat yang juga pandai dalam beladiri dia yang akan menjaga ibu selama bapak menyelesaikan urusannya dengan ibu Salma."
Jono menjawabnya sembari memindahkan koper tanpa menunggu jawaban ataupun pertanyaan dari Neta ia langsung melesat pergi begitu saja. Nindy yang ditugaskan untuk menjaga Neta pun mulai mendekat dan menggiring Neta untuk segera masuk ke dalam mobil. Semuanya terjadi begitu cepat dan mengguncang perasaan Neta saat ini, terlebih lagi dengan kondisi kehamilannya yang masih beresiko tinggi dan lebih mudah untuk terkena stres.
"Mau ke mana kita ini mbak?" tanya Neta pelan kepada Nindy yang sedari tadi hanya diam dan fokus mengemudi.
"Kita akan pergi ke desa yang jauh dari pusat kota. Semua ini demi keamanan dan keselamatan ibu, beserta calon bayi ibu," jawab Nindy tanpa terdengar ada satu kata pun yang meragukan.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 4 jam akhirnya pada dini hari ini tak sampai di sebuah desa. Di sebuah rumah kecil mobil itu masuk ke halaman dan parkir. Terlihat ada seorang ibu tua yang menyambut kedatangannya.
"Kalian kok baru datang bapak Kei sudah dari tadi datang dan menunggu ibu Neta," tanya ibu tua tersebut kepada Nindy.
"Maaf ibu, jalan yang tadi jelek kita harus memutar dan itu ternyata cukup jauh, apa bapak Kei sudah lama?"
Bersamaan dengan sedikit perbincangan itu Kei muncul dari dalam rumah dengan keadaannya yang masih sama lusuhnya seperti tadi saat dia bertengkar dengan Salma. Baju kemeja putih dengan noda darah yang menempel terlihat seperti corak kemerahan yang mengerikan. Ditambah lagi dengan perban yang menempel di kepalanya, membuat Neta dengan serta-merta menangis dan mendekat untuk memastikan keadaan suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Neta dengan suaranya yang bergetar dan derai air mata kekhawatiran. Ia menangkup wajah sang suami.