Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
77. Tidak Mau Apa-apa Lagi


__ADS_3


Bintang bertaburan di langit malam, menghiasi lampu yang temaram. Terdiam kedua insan tanpa ada sepatah kata yang terucapkan. Sang lelaki hanya duduk termangu menatap punggung sang wanita tanpa berani berucap rayu.


Perlahan, dengan begitu lembut, Kei memainkan ujung jarinya membentuk gambar hati di punggung Neta. Dia dengan sengaja melakukan itu untuk bisa sedikit berbincang dengan si pemilik bibir tipis yang sedari tadi mengunci mulutnya. Neta seperti kehilangan hasrat untuk bicara semenjak hari itu.


"Ta, Sayang ...."


"Hem! Udahlah aku ngantuk. Jangan ganggu," tepis Neta tanpa banyak basa-basi.


"Sayang, aku tiba-tiba pengen martabak. Kamu mau?" tawar Kei yang sebenarnya hanya ingin mengajak bicara sang istri yang tengah merajuk.


"Enggak, aku sudah memutuskan untuk tidak ingin apa-apa lagi sampai melahirkan. Biar kamu senang!" ketus Neta tanpa membalikkan badannya.


Mendengar perkataan istrinya, Ke-i langsung terhenyak. Tertohok hingga ke ulu hati. Perkataan Neta seperti samurai yang menghunus tajam.


"Sayang, Sayang kok begitu bicaranya. Sudahlah jangan marah terus. Gara-gara bakso saja kamu sampai satu Minggu mendiamkan aku. Sayang, tega kamu sama aku," kata Abimana yang sama sekali tidak mendapatkan respon.


Acuh. Itulah sikap Neta selama beberapa hari ini. Dingin seperti cold storage.


"Iya, biar kamu senang. Bukannya menyenangkan hati suami itu mendapatkan pahala banyak? Ya sudah, apa lagi masalahnya? Kamu akalu mau makan silahkan makan. Apa pun bebas, kan kamu yang punya peraturan. Aku mah apa atuh!" sindir Neta sembari melirik sekilas dan menyibakkan rambutnya sehingga mengenai wajah Kei.


Kei mengulum senyumnya. "Menyenangkan hati suami itu termasuk memberikan jatah bukan sih? Kamu satu Minggu ini libur. Dosa loh."


"Meminta jatah di saat istri tidak rela dan sedang dalam keadaan tidak enak badan juga suatu bentuk kedzaliman. Tahu 'kan?" balas Neta dengan cerdiknya.

__ADS_1


"Sial! Soal beginian dia lebih paham sepertinya." Kei memutar otak. Dia terdiam menatap langit-langit kamarnya.


"Punya istri sih, tapi jarang di asah pentungannya. Termasuk tindakan pengabaian bukan sih?" sindir Kei membahas tentang tongkat keramatnya.


"Yakin masih marah Sayang, padahal besok rencananya aku mau tambahin modal buat butik loh. Aku berpikir kalau di butik ditambah item seperti tas dan heels kayaknya bagus. Biar semakin lengkap jadi pelanggan semakin terpuaskan dan enggak perlu pindah ke mana-mana untuk mencocokkan warna out fit."


Mendengar apa yang Kei katakan itu, Neta yang sedang berpura-pura tidur tiba-tiba terbangun. Matanya terbuka lebar dan senyuman hadir menghiasi bibirnya. Perlahan, dia mundur hingga bahunya menempel pada tubuh dang suami dan kemudian berbalik lalu memeluknya.


Dengan kedua pipi yang memerah, Neta langsung bertanya. "Serius Mas?"


"Hemh ... kalau sama duit saja gerak cepat dan tidak ada marah-marahnya. Kamu ini Sayang, janji jangan marah lagi, baru besok aku tambahin modalnya," kata Kei dengan mencubit gemas dagu Neta.


"Serius? Ih baiknya suamiku. Baik sekali loh, awas aja kalau besok enggak cair, aku lanjutkan marahnya. Salah siapa cuman bakso aja enggak boleh. Padahal tuh enggak mesti aku mau makan Sayang, aku cuman kangen suasananya." Neta berbicara penuh dengan penekanan.


"Iya Sayangnya aku iya, aku tahu. Maaf ya, kemarin aku belum tahu. Ini pengalaman pertama bagiku mengurus wanita hamil. Jadi kita belajar bersama dan jangan suka ngambek enggak jelas lagi ya?" pinta Kei dengan tersenyum dan mengecup kening Neta.


Malam itu keduanya resmi berbaikan. Sepasang suami istri itu pun melepaskan kerinduan. Iya, selayaknya pasangan yang normal, mereka pun melakukan penyatuan.


Hingga, pada pagi harinya ....


"Sayang, aku kok tiba-tiba mau makan tahu gejrot. Tapi di Bandung." Neta berbicara sembari mengusap punggung Kei yang masih tengkurap.


"Gila! Tahu gejrot sampai ke Bandung? Di sekitar Bogor juga ada kali. Ah tapi kalau tidak aku turuti nanti kejadian seperti kemarin terulang lagi." pikir Kei.


"Oke iya, kita cari. Tapi nanti sore setelah aku pulang dari kantor nenek ya?" tanya Kei yang mencoba untuk melakukan negosiasi.

__ADS_1


"Yah, kok sore? Aku pengennya sekarang Sayang," rengek Neta dengan bibirnya yang mencibik dan matanya terlihat berkaca-kaca.


"Sa-sayang, jangan menangis ya. Oke, iya aku akan bersiap sekarang. Sekarang juga kita ke Bandung cari itu tahu gejrot. Kalau enggak ada yang jual ya mamangnya aku gejrot," ujar Kei setengah mengumpat. Dia kesal saja, baru semalam berbaikan dan sekarang harus menuruti permintaan aneh istrinya lagi.


"Demi calon anakku tercinta, oke aku akan turuti. Susah sekali merayu ibumu ini Sayang," keluh Kei sembari memakai bajunya. Dia bersiap untuk mencuci muka.


"Ini balasannya karena kamu sudah menipuku Mas. Ingat awal pernikahan kita kamu menipuku seperti apa? Semua data bilangnya bujang, semua orang yang datang dibilang kerabat. Enggak tahunya bayaran semua! Kesel aku kalau ingat kejadian itu, pengen kubejek juga kamu Mas!" semprot Neta dengan tepat sasaran.


Jika mengingat tentang pernikahan pertama mereka rasanya Neta ingin sekali mencekik suaminya itu. Tapi saat ini setelah ditilik dan direnungkan kembali, dia sadar. Buat apa marah-marah toh dia juga kini menjadi nyonya Keiji meskipun dengan jalur tertipu dan menjadi pelakor dadakan.


"Maaf Sayang, iya maaf. Udah dong, katanya sudah maafin, tapi kenapa masih diungkit?"


"Hai Mas Keiji! Buka telinga Anda baik-baik ya, kami para wanita itu berhati lembut dan pemaaf. Tapi kami ini bukan pelupa! Pokoknya aku enggak mau tahu ya Mas, nanti setelah anak ini lahir, kamu harus melakukan konferensi pers. Kamu harus menjelaskan secara detail kalau aku ini bukan pelakor. Aku tidak mau kalau anak kita juga kena getahnya dan dicap sebagai anak pelakor!" kata Neta panjang lebar hingga napasnya terengah-engah.


"Sudah orasinya? Sudah, tarik napas ... hembuskan. Tarik napas ... hembuskan." Kei memberikan interupsi.


Neta melirik tajam lalu mencubit suaminya. "Awas saja kamu Mas, ih! Sumpah ya. Kenapa aku tiba-tiba kesel banget sama kamu. Ih nyebelin ...!"


"Ayo! Katanya mau cari tahu gejrot?" ajak Kei dengan mengulurkan tangannya.


"Ih enggak mau ah, males. Udah enggak pengen lagi aku," jawab Neta yang membuat Kei ternganga.


"Sebentar mau, sebentar enggak mau. Terus maunya apa?" tanya Kei yang masih berada dalam lingkaran kesabarannya.


"Em ... kita sarapan di rumah aja udah. Udah aku enggak pengen apa-apa lagi," kata Neta dengan berjalan riang meninggalkan kamar.

__ADS_1


Kei yang tertinggal di belakangnya hanya bisa menggaruk kepalanya melihat tingkah aneh sang istri. "Semoga tidak full 9 bulan dia aneh begini."


__ADS_2