Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
56. Menjaga Butik Demi Istri


__ADS_3

56.


Berderai kembali air mata Neta setelah beberapa hari ini Ke-i mati-matian membuatnya berhenti. Sakit hatinya kala menyadari bahwa bukan hanya dia yang menjadi hinaan, melainkan buah hatinya juga. Sebelumnya, dia sama sekali tidak pernah membayangkan hal ini terjadi.


Ia berhenti pada sebuah butik yang merupakan saksi dari perjuangannya. Butik yang menjadi tempat baginya berusaha membantu sang ibu melunasi hutang-hutangnya. Tempat yang bila bisa bicara akan bercerita kepada dunia tentang bagaimana usaha seorang anak dalam membahagiakan orang tuanya.


"Dara," panggil Neta kepada Dara yang sedang melayani pembeli.


"Mbak?" gumam Dara dengan begitu terkejut.


Beberapa detik Dara membeku, namun setelahnya ia segera menghambur dan memeluk atasannya itu, si pemilik butik. Banyak hal yang ingin Dara ceritakan. Hal yang juga sama sekali tidak Neta ketahui sampai detik ini.


"Mbak Ta apa kabar, ya Allah aku kangen mbak," kata Dara dengan perasaan campur aduknya.


Neta terkesima dengan pemandangan yang ada di dalam butik. Pasalnya, butik itu terlihat semakin sukses saja. Beberapa stand mengalami perubahan dan dekorasinya pun berubah.


"Baik Dara. Kamu bagaimana? Maaf ya aku baru kali ini sempat mengunjungi kalian. Aku ...." Neta terhenti saat ingin mengatakan keadaannya yang juga kehilangan calon buah hatinya. Ia ingat bahwa dirinya lebih baik diam dari pada sang mendiang anaknya itu juga menjadi sasaran salah penilaian.


"Aku apa Mbak? Mbak kenapa?" tanya Dara yang memang tidak mengetahui tentang kabar Neta sepenuhnya.


"Aku sakit, yah ... Kamu tahu kan Dara, aku syok. Aku tidak tahu bila aku menjadi tersangka dari kejadian itu. Terima kasih, kamu masih mau bekerja denganku," ucap Neta sembari tersenyum simpul.


Dara menarik tangan Neta, membawanya menuju ke ruang kerjanya dulu. Kini tampilan ruangan itu juga ikut berubah. Ada ranjang kecil di salah satu sudutnya, juga ada bunga anggrek artificial di salah satu sudutnya.


"Dara, siapa yang mendekorasi tempat ini? Jadi bagus begini?" tanya Neta dengan rasa takjubnya.


Dara tersenyum manis dan mendudukkan Neta pada ranjang. "Duduk sini, apa Mbak benar-benar tidak tahu?"


Neta menggidikan kedua bahunya. "Tidak."

__ADS_1


"Mbak, suami mbak yang buat dekorasi seperti ini. Jadi beberapa bulan yang lalu, entah ada angin apa, dia datang dan melihat tempat ini, dia juga memeriksa keuangan. Jadi beberapa bulan ini aku bekerja di bawah pengawasnya. Dia bilang Mbak yang suruh karena Mbak masih tidak mau keluar rumah. Hanya saja dia tidak bilang kalau Mbak lagi sakit."


"Maksudmu Pak Kei?" tanya Neta.


"Iya, wah kalian ini suami istri yang bagaimana sih? Masa iya sama sekali tidak tahu, dari beberapa bulan lalu loh Mbak," papar Dara.


"Beberapa bulan lalu? Kapan?" tanya Neta meminta penjelasan yang lebih spesifik.


"Dua bulan lalu Mbak," jawab Dara.


"Dua bulan? Itu berarti saat aku meminta cerai. Saat aku lemah, dia masih berusaha membangun usahaku. Aku merasa bersalah kepadanya karena pernah membuatnya terpuruk. Dua bulan lalu, dia bersikeras untuk mempertahankan pernikahan kami dan aku malah bersikeras untuk menghancurkan semuanya. Sama sekali tidak pernah terlontar kata talak dari mulutnya dia hanya mengikuti kemauanku. Tapi ... Jika aku pikir lagi, proses perceraian ku itu terlalu mudah. Apa itu sungguhan, atau ...."


Neta terdiam memikirkan kejadian beberapa bulan lalu. Seharusnya dia sadar sedari awal tentang kejadian itu. Jika diingat lagi, proses perceraiannya begitu mudah dan cepat.


"Kei bisa merekayasa tentang pernikahan kita dulu. Aku jadi curiga jika perceraian kami juga hanya sebatas kepalsuan yang dia buat," gumam Neta.


"Ada apa Mbak?" tanya Dara.


Di saat mereka sedang berbincang, terdengar suara deru mobil. Neta langsung mengintipnya dan itu adalah suara mobil Kei, suaminya. Neta seketika membisikkan sesuatu kepada Dara dan Dara pun mengangguk lalu keluar dari ruangan itu.


"Dara, ikut ke ruangan sebentar," kata Kei saat dia memasuki butik tersebut.


"Baik Pak," jawab Dara yang segera mengangguk.


Dara sudah bingung saat ini. Di dalam ruang kerja, ada seorang wanita yang tengah bersembunyi untuk menyambut kedatangan suaminya. Entah bagaimana nanti kejadian di dalamnya, Dara hanya pasrah saja.


"Terserahlah apa nanti yang terjadi, aku hanya karyawan di sini," batin Dara cemas.


Betapa terkejutnya Dara ketika dia memasuki ruangan itu tidak ada Neta di sana. Dara sampai mengucek matanya. Dia kebingungan dan memindai setiap sudut ruangan.

__ADS_1


"Ada apa mukamu jadi aneh begitu? Begini, saya ada tender buatmu. Ini dari teman saya yang punya hotel, jadi dia ingin kamu datang ke hotelnya dan mengukur serta menentukan desain dari dia untuk membuat baju karyawan. Iya semacam ada pergantian seragam begitu," ucap Kei.


"Harus sekarang Pak?" tanya Dara.


"Iya, mau kapan lagi memangnya? Kita beruntung aku bisa melobinya. Setidaknya ada keuntungan untuk butik ini. Walaupun sebenarnya pekerjaan seperti itu sedikit melenceng dari apa yang biasanya istri saya terapkan. Saya tidak muluk-muluk, saya hanya ingin usaha ini maju, dan suatu saat nanti bisa menjadi konveksi besar yang mengusung brand miliknya sendiri."


"Pak, memang itu impian Mbak Neta," kata Dara menimpali dan Kei mengangguk sambil tersenyum.


"Cepat kerjakan, saya akan memeriksa pembukaan kalian Minggu ini. Mana laporannya?" pinta Kei dan Dara segera menunjuk sebuah berkas yang sudah siap di sudut meja.


"Bagus, kamu bisa pergi. Cepat suruh orang untuk datang ke hotel itu. Ini alamatnya," kata Kei dengan memberikan sebuah kartu nama.


Kei duduk di kursi kerja Neta dan dengan teliti dia mulai memeriksa data keuangan. Betapa terkejutnya dia ketika Neta tiba-tiba membuka lemari dan keluar dari tempat persembunyiannya. Kei sampai memegangi dadanya ketika suara engsel pintu lemari terdengar terbuka dengan sendirinya.


Krek!


"Astaga!" pekik Kei.


"Kenapa kaget? Aku bukan hantu Sayang," ucap Neta seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kemari! Kemari kamu!" perintah Kei dengan melambaikan tangannya.


"Ada apa?" tanya Neta dengan polosnya dan Kei seketika berdiri lalu menyentil keningnya.


"Aduh, sakit Sayang," rengek Neta sembari mengusap keningnya.


"Kamu ngapain bersembunyi di sana? Sengaja mau buat aku jantungan?" cecar Kei dengan tatapan matanya yang tajam.


Neta mengerucutkan bibirnya. "Yang seharusnya marah itu aku kan, bukan kamu. Apa-apaan kamu ikut campur Bisnisku seperti ini? Kamu mengubah dekorasi segala tanpa permisi."

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya, Kei langsung berdiri. "Apa kamu tidak suka? Kalau tidak suka aku akan mengembalikannya seperti semula. Katakan Sayang mau kamu bagaimana?"


"Dia langsung bersikap seperti itu, seolah dia ini adalah suami yang takut dan tunduk patuh pada istrinya. Apa ini adalah dirinya yang sesungguhnya?" batin Neta.


__ADS_2