Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
66. Menyelamatkan Nyawanya yang Berharga


__ADS_3

 "Tapi apa?" tanya Kei dengan nada bicaranya yang meninggi. Ia melotot menatap Dara. Sementara Dara menunjuk ke satu jalan yang mana merupakan akses satu-satunya di villa itu.


"Malam ini kita tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa memastikan kalau mereka masih hidup. Kita hanya bisa memantau dari suaranya saja Pak," ujar Dara dengan tatapan hampanya.


Dara nampak putus asa melihat gundukan tanah dan pohon yang melintang menutupi jalan bahkan ketinggian tanahnya setara dengan atap villa yang berada di ujung. Sudah dapat dipastikan bahwa longsoran tanah itu tidak akan bisa dipindahkan tanpa bantuan alat berat. Di saat itu juga Kei merasakan lemas pada tubuhnya.


"Sayang! Neta!" teriak Kei sembari menangis dan air matanya membaur padu dengan air hujan.


"Neta!" ulang Kei dengan berteriak lagi.


"Iya Mas! Aku tidak apa-apa! Aku bersembunyi di dalam lemari! Ap kalian bisa menolongku? Kenny terluka lumayan parah!" seru Neta menyahut.


Suara guntur dan juga angin yang masih kencang menyamarkan obrolan mereka. Saat itu entah mengapa Reza pun menatapnya balik. Dua lelaki itu seperti mempunyai pemikiran yang sama.


"Sayang! Apa kamu juga bersama Kenny di dalam lemari?" teriak Kei kembali mengajukan pertanyaan.


"Pak, ini bukan waktunya untuk cemburu. Mereka bersama untuk bertahan hidup. Bapak jangan memarahinya. Abaikan dulu rasa cemburu itu," tutur Reza memberikan nasehatnya kepada sosok yang sudah


mengepalkan kedua tangannya di samping paha.


Kei menarik napasnya dalam-dalam, perlahan ia menghembuskannya. Hal itu ia lakukan untuk mengurai rasa cemburunya. Perasaan yang begitu panas hingga membuatnya ingin menghancurkan sesuatu.


"Kamu tunggu di sana! Aku akan menolongmu, aku akan mencari alat dengan Reza!" seru Kei yang kemudian sudah bisa berpikir jernih.


Ini bukan soal boleh atau tidak boleh. Bukan soal muhrim atau bukan atau pun soal haram tak haram. Akan tetapi ini adalah soal kemanusiaan.


"Iya, aku akan menunggumu Mas! Aku berusaha keluar, tapi tidak bisa! Pintunya seperti tertahan sesuatu!" teriak Neta yang


semakin membuat hati Kei tercubit.


"Ah, dia ada di sana dengan keadaan serba terbatas. Benar apa kata Reza, ini bukan waktuku untuk cemburu," pungkas Kei dalam hatinya.


---**---

__ADS_1


Sementara itu di dalam lemari.


"Kakak ipar, kenapa aku merasa semakin pusing dan kedinginan. Aku dingin," keluh Kenny yang terdengar dengan suaranya yang semakin pelan dan hal itu tentunya mengguncang perasaan Neta.


"Ken, Kenny, kamu tidak apa-apa 'kan? Apa kakimu masih mengeluarkan darah? kamu bisa merasakannya atau tidak?" tanya Neta untuk memastikan keadaan.


"Emh ... mana aku tahu, aku hanya merasa dingin. Kakiku seperti mati rasa dan aku tidak bisa menggerakannya. Menggerakan jarinya saja susah sekali."


Mendengar apa yang Kenny katakan semakin membuat ngilu kalbu Neta. Gadis lemah lembut itu menitikan air mata dan dengan serta merta ia langsung berupaya untuk menghangatkan Kenny.


"Ken, maafkan aku ya. Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengobati kakimu. Kita sama sekali tidak bisa bergerak di sini. Kita hanya harus bertahan sampai ada bantuan dan itu entah kapan.


Kenny jangan pergi ya, bertahanlah sampai pintu ini terbuka," ucap Neta sambil menangis dan ia semakin mempererat pelukannya supaya Kenny tidak kedinginan.


“I’m okay,” jawab Kenny yang terdengar hanya seperti berbisik dan hal itu semakin membuat Neta deg-degan.


“Jangan mati dulu, kita pasti bisa,” ucap Neta menyemangati Kenny.


“Siapa yang mau mati? Aku hanya akan mati setelah aku mendapatkan istri sepertimu kakak ipar. Aku mau kamu yang memilihkan aku calon istri. Aku ingin berhenti mengikuti obsesi nenek dan ibu untuk terus bersaing dengan keturunan nenek Fuji,” kata Kenny yang membuat Neta tertegun. Ia sampai membeku dalam beberapa saat.


“Eh! Kamu malah cium aku Kak, aku Sudah bilang kalau aku belum mau mati,” ujar Kenny yang ingin mengusir rasa gugup akibat ketidaksengajaan itu.


“Em, tidak sengaja dan bukan apa-apa. Awas kamu kalau bilang sama suamiku, dia bisa memenggal kepalamu,” ucap Neta dengan membubuhkan sedikit ancaman.


“Kenapa aku yang dipenggal?Yang mencium duluan itu ‘kan kamu kakak ipar,”


ujar Kenny penuh dengan penekanan.


“Ah, pokoknya apa pun yang terjadi di dalam sini tentang aku yang memelukmu,


dan ciuman yang tidak sengaja tadi jangan sampai dia tahu Kenny. Aku tidak mau


menyakiti hati suamiku sedangkan aku ada di sini semata-mata hanya untuk menolongmu. Apa kamu bisa dipercaya dalam hal ini?” tanya Neta dengan polosnya.

__ADS_1


Mana mungkin Kenny akan berkata tidak sedangkan dia saja sebenarnya sangat menginginkan semua itu terjadi. Bahkan mungkin untuk pelukan ini, tidak akan ia lupakan sampai mati. Terlebih ciuman tadi, dia akan mengamankan dalam sanubari.


“Iya aku janji,” jawab Kenny menyanggupi dengan suaranya yang begitu pelan.


Malam itu hujan sama sekali tidak berhenti. Meski dengan intensitas ringan namun setiap butirnya masih saja membasahi bumi. Neta dan Kenny keduanya semakin mengerikan saja keadaannya.


Keduanya kini mulai terendam dan mereka basah kuyup lantaran air yang masuk melalui celah-celah dan pori-pori kayu. Udara di dalam lemari yang tidak bisa berganti pun menjadi semakin pengap terasa. Neta, mulai sedikit pusing karena kekurangan oksigen.


“Kakak ipar, kenapa kamu mulai berhenti bicara?” tanya Kenny sembari melepaskan pelukan dan mencari posisi yang nyaman.


“Kepalaku pusing sekali Kenny, udaranya terasa pengap,” keluh Neta dengan gelisah.


“Ah, kamu mulai kekurangan oksigen, kita harus membuka pintu lemari ini meskipun hanya celah kecil. Setidaknya kita bisa bertukar oksigen,” kata Kenny dan tak lama dari itu terdengar suara dentuman keras dari bagian atas lemari.


Brak! Brak! Brak!


Berkali-kali suara itu berulang diikuti dengan suara lenguhan Kei. Iya, pria gagah itu mengampak bagian atas lemari. Dia memanjat dan membuat lubang di bagian atas lemari untuk mengevakuasi istrinya.


“Sayang! Kamu tidak apa-apa?” tanya Kei dengan menyorotkan senter ke wajah keduanya.


“Kenny, kamu tidak pakai baju?” imbuhnya.


“Bajunya ku pakai untuk membungkus luka di tangannya. Cepat keluarkan kami, aku sudah kedinginan Mas,” pinta Neta dengan tubuhnya yang menggigil kedinginan.


Kenny menunjukan luka di tangannya. Kei yang semula hendak marah pun mengurungkan niatnya tersebut. Dia lalu memanggil Reza dan mulai mengevakuasi


keduanya.


Kei langsung memeluk Neta ketika istrinya berhasil ia keluarkan. Sementara


Kenny langsung mendapatkan pertolongan seadanya dari Reza dan Dara. Sesekali,


maniknya masih saja mengawasi Neta seolah tak rela melihat kedekatan wanita

__ADS_1


baik hati itu dengan suaminya.


“Sayang, kamu benar tidak terluka?” tanya Kei dengan cemas. Ia menangkup pipi Neta dan memeriksa tubuhnya seolah memindai.


__ADS_2