Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
47. Mengulang Rasa sakit yang Sama


__ADS_3

"Ayo kita jalan-jalan ke luar, cuaca hari ini cerah sekali," kata Kei sembari berdiri di depan jendela besar kamar hotel mereka.


"Mana bisa aku jalan-jalan Kei," tolak Neta.


"Hengh!" dengus Kei seketika saat mendengar hanya namanya saja.yang disebutkan.


"Ya ampun, Sayang. Iya Sayang, aku harus panggil kamu dengan sebutan itu kan?" tanya Neta dengan kepalanya yang meneleng.


"Itu kamu tahu. awas aja kalau berani panggil nama saja, itu tidak sopan sama sekali," ujar Kei sambil berjalan mendekati istrinya tetapi dengan kedua tangannya yang ia gendong di balik punggungnya.


"Ayo kita jalan-jalan! Aku sudah membayar mahal hotel ini, apa iya kita tidak akan memakai sarana yang tersedia? Oh, ayolah ini pernikahan kedua kita Neta, kali ini tidak ada penipuan sama sekali," ujar Kei sembari duduk si samping istrinya.


Neta mengulum senyumnya. Kali ini semuanya memang berbanding terbalik dengan situasi saat dulu. Kini, dia begitu di istimewakan. Neta begitu disayangi meskipun ibunya tidak menyaksikan semua ini. Suasananya pun begitu hangat, bahkan laki-laki yang biasanya bersikap dingin dan angkuh itu saat ini sudah menghangat.


"Kamu aja sana yang jalan-jalan. Aku akan menunggu di kamar. Menunggu suamiku datang dengan oleh-olehnya." Neta berbicara sembari memainkan ponselnya dan Kei merebutnya dengan begitu cepat.


"Kalau suami masih bicara itu dilihat mukanya, jangan malah sibuk sama hapemu. Apa mukaku ini kurang tampan ya, sampai-sampai kamu terus terusan melihat mereka yang bahkan enggak kenal siapa kamu dan apa kebutuhanmu?" tanya Kei sembari menatap remeh idola istrinya yang merupakan bintang Korea.


"Iya aku lihat kamu ini Sayang, sana kamu keluar aja sendiri." Neta beringsut dan bergelung kembali ke dalam selimut.


"Sepertinya walaupun aku sudah memberikan semuanya, kamu masih saja tidak mau percaya." Kei mengembalikan ponsel sang istri dan kembali beranjak.


"Ini! Lihat saja terus itu idolamu. Jangan kamu hiraukan suamimu ini. Sana! Nikmati harimu, aku akan berbulan madu dengan kelapa di pinggir pantai," kata Kei sambil memunggungi Neta dan berlalu pergi tanpa bertanya mengapa istrinya itu sama sekali tidak mau beranjak dari ranjangnya.

__ADS_1


setelah Kei pergi sekitar 5 menit, Neta barulah membuka selimutnya. Dia berjalan tertatih menuju ke koper dan membuka semua lemari pakaian di kamar hotel tersebut. Bahkan tas kecil milik suaminya pun ia geledah.


"Oh, tidak ada sama sekali. Sama sekali tidak ada, ah ... ini sakit sekali," keluhnya sambil memegangi perutnya. keringat dingin mulai keluar begitu saja, tubuhnya gemetaran dan dia jatuh pingsan.


Neta jatuh pingsan di samping ranjang yang dekat dengan sisi jendela. Semenjak kejadian itu, setiap bulannya setiap haid, dia selalu mengandalkan obat pereda nyeri. Rasa sakit yang sama itu kembali datang menyapanya, ia sampai tak kuasa menahannya bila tidak mengonsumsi obat tersebut. Hanya saja, saat ini semuanya serba dadakan dan terpaksa, sampai dia tidak ada kesempatan untuk membawa obat-obatan tersebut.


Sementara itu, Kei yang merasa diabaikan oleh istrinya menjadi kesal. Dia menyendiri dan menikmati pemandangan di pantai seorang diri dan berniat untuk mengambil gambar lalu mengirimkannya kepada istrinya. Ia dia ingin memamerkan keindahan pantai di pagi hari itu. Sayangnya saat dia merogoh saku celananya, benda pipih itu tidak ada.


"Ah, ponselku ketinggalan," kata Kei yang kemudian kembali ke kamar hotelnya.


Kei berjalan memasuki kamarnya dan dia tidak menemukan Neta di atas ranjang. Ia kembali mencari istrinya, di kamar mandi, namun tidak ia temukan juga. Setelahnya, ia tanpa sengaja menendang kaki Neta.


"Sayang, kamu ngapain tiduran di lantai?" tanya Kei dengan sangat pelan.


"Ta, bangun Sayang," ucap Kei dengan terus menepuk-nepuk pipi Neta.


Ia mengangkatnya dan membaringkan istrinya itu ke ranjang. Kei terus saja berusaha untuk membangunkan dengan caranya. Dia sudah hampir menghubungi petugas medis. Lalu, Neta dengan perlahan menyentuh punggung lelaki yang panik tersebut.


"Tidak usah," larang Neta pelan. Wajahnya pucat dan keringat dingin memenuhi keningnya.


"Ta," gumam Kei yang seketika menoleh. Ia menoleh dan mengamati wajah Neta dengan tatapan nanar. Tatapan yang sama cemas dan khawatirnya sama seperti saat kejadian buruk itu menimpa mereka.


"Aku enggak apa-apa, hanya butuh obat pereda nyeri aja." Neta berbicara dengan begitu pelan dan suaranya terdengar bergetar.

__ADS_1


"Iya, oke aku Carikan ya? Kamu baik-baik di sini, sebentar lagi aku kembali. Jangan pingsan lagi, kamu membuatku takut," ujar Kei dengan memeluk dan mencium kening Neta pada akhir kalimatnya.


Neta hanya mengedipkan matanya dan membagikan senyuman dari bibir pucatnya. Wanita itu masih bersikap manis meskipun saat ini keadaannya tidak baik-baik saja. Dia menahan rasa sakitnya supaya suaminya tidak merasa panik. Akan tetapi semua itu percuma saja.


...----------------...


"Sudah," kata Neta setelah meminum obat pereda nyeri.


"Kamu kenapa enggak bilang kalau sesakit itu ketika haid? Apa ini ada kaitannya dengan kejadian lalu?" tanya Kei sembari kembali meletakkan gelas ke meja kecil.


"Aku sebenarnya enggak mau buat kamu cemas. aku sama sekali tidak mau merepotkan kamu Sayang. Aku masih bisa menahan sakit ini. Enggak apa-apa dan hanya sakit biasa aja kok," ucap Neta seolah rasa sakit itu bukanlah sesuatu yang begitu mengancam nyawanya.


"Enggak apa-apa kok sampai seperti ini? Kita ke rumah sakit ya?" ajak Kei dengan menunggu persetujuan dari Neta.


"Buat apa? Aku enggak apa-apa Sayang, lagian kamu juga baru saja mengatakan bahwa sudah membayar mahal untuk sewa kamar ini. Ya sudah kita di sini saja sampai sewanya habis. Masih kurang 2 hari lagi, bukan?" tanya Neta.


"Tapi kesehatanmu lebih penting," tolak Kei. "Sejak kapan kamu seperti ini, apa semenjak hari itu?" tanya Kei dengan penuh penekanan.


"Iya, tapi enggak apa-apa, ini hanya menyisakan sedikit trauma. Sejak kita berpisah waktu itu, aku sudah banyak melakukan konsultasi dengan dokter kandungan secara online. Dia memeriksa ku secara intens selama aku haid. Dia bilang semua ini adalah wajar karena sebelumnya aku pernah mengalami keguguran karena kecelakaan. Jadi, sewaktu haid mukosa di dinding rahimku yang juga mengalami benturan itu kembali mengulang rasa sakit yang sama," papar Neta.


"Seperti itu? Lalu untuk kemungkinan hamil?" tanya Kei yang tidak sabar untuk menimang buah hati lagi.


"Kamu, sangat ingin hamil ini karena sayang kepadaku atau memang hanya menginginkan keturunan seperti dulu?" tanya Neta yang membuat Kei menatapnya nanar.

__ADS_1


__ADS_2