Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
49. Perhatian Kei yang Membuat Iri


__ADS_3

"Kamu suka?" tanya Kei kepada Neta yang sednag berbaring di sampingnya.


"Iya, ini malah lebih bagus dari pemandangan yang ada di sana," jawab Neta sambil tersenyum senang melihat lampu yang berkelap-kelip menyala di atas tenda mereka.


Kei menata ruangan tersebut sedemikian rupa. Ia membuat tenda tersebut mempunyai bintangnya sendiri. Terlihat begitu indah, menyala benderang di dalam ruang yang remang. Neta merasa begitu berharga saat ini.


"Apa dulu sikapmu juga semanis ini kepada Kak Salma?" tanya Neta setelah ia mempertimbangkan dengan lumayan lama.


Kei mengulum senyumnya, ia lalu mendekat dan mendekap erat tubuh istrinya yang sedang merasakan sakit. "Kami itu mneikah di atas kerja sama. Pada awalnya, aku tidak mengira juga bisa bertahan selama itu dengan sikapnya yang toxic. Dulu aku selalu berusaha bersikap manis seperti ini, akan tetapi ...."


"Akan tetapi apa Sayang?" tanya Neta yang sudah terlanjur penasaran.


"Akan tetapi, dia selalu mengaitkan semuanya dengan harga. Dia tidak segan membuang apa yang aku berikan apa bila itu tidak bermerek. Dia tidak menghargai buatanku, tidka seperti kamu yang tersenyum dan suka dengan apa yang aku buat meskipun itu tidak bermerk," papar Kei mengenang masa lalunya saat bersama Salma. masa lalu yang kelam dan membuatnya nyaris tenggelam dalam hubungan yang tidak sehat.


Neta beringsut dan memberikan perhatiannya dengan penuh. "Benarkah seperi itu?" tanyanya dengan manik yang membulat sempurna.


Kei menatap langit-langit tenda dan ia memasang wajah serius. Jauh di dalam matanya, terlihat sekali rasa tidak dihargai yang masih ia simpan. Iya, Kei hanyalah laki-laki biasa yang juga mempunyai hati yang lembut.


"Iya, dia itu wanita yang mempunyai pemikiran seperti wanita yang hidup di barat. Mungkin pergaulan yang membuatnya jadi seperti itu. Aku pun baru mneyadarinya setelah beberapa tahun kami bersama dan soal anak pun aku rasa dia bohong," kata Kei yang membuat Neta tercengang.


"Bohong? Bagaimana maksudnya Sayang? Bagaimana bisa? Kalian melakukannya dengan rutin dan baik bukan?" tanya Neta yang tertegun.


Kei tersenyum dan mengecup kening Neta. "Tidak senyaman dan sebaik saat bersamamu. Dulu kami sering mabuk bersama ketika aku lelah bekerja dna dia juga. Setelah mabuk kami melakukannya dan iya yang aku rasakan hanya sakit kepala tanpa kesadaran."


"Wah, sangat mengejutkan sekali jawabannya ini. Bagaimana bisa mereka menikah sudah lama dan selalu melakukannya dengan cara seperti itu? Tanpa dilandasi kesadaran dan perasaan. Ah, itu gila sih," cibir Neta dalam hatinya.

__ADS_1


"Saat awal kita menikah juga sebenarnya kalau aku boleh jujur, aku merasa kamu agak lain," cetus Neta mengutarakan suatu rahasia yang selama ini ia pendam.


"Agak lain gimana?" tanya Kei menoleh menatap lekat istrinya yang terlihat ragu untuk berbicara.


"Em ... serius aku boleh jujur?" tanya Neta lagi dengan keraguan di raut wajahnya.


"Boleh, kenapa enggak? Kenapa memangnya ada apa Sayang?" tanya Kei sembari memeluk Neta dan juga mencium pipi wanita baik hati itu.


"Pertama kalinya aku merasa milikmu itu tidak terlalu keras, apa itu pengaruh dari Alkohol? Apa kamu waktu itu mabuk?" tanya Neta dengan takut-takut. Ia takut suaminya akan tersinggung.


"Ah, dia merasakannya ternyata. Aku harus memberikan alasan yang logis sekarang," pikir Kei.


"Em, saat iku aku sednag kelelahan, dna tidak vit. Biasa kalau pria lagi kurang ful atau kecapean ya kayak gitu. Itunya juga enggak bisa keras dengan sempurna. Kalau terakhir kemarin sudha keras 'kan?" tanya Kei tanpa urat malu dan membuat Neta mengulum senyumnya.


"Kamu enggak malu Kei tanya kayak gitu?" tanya Neta dengan kedua pipinya yang merona.


-----***-----


Pagi hari, Neta yang terbangun terlebih dulu hanya bisa tersenyum mengamati wajah tampan yang tengah mendengkur halus dan berada tepat di hadapannya. Ia dnegan jahil mentoel hidung suaminya itu. Kei masih menikmati suguhan mimpi yang jarang ia temui.


Dalam mimpinya Kei bermimpi sedang bermain dengan burung yang begitu cantik. Burung itu terlihat jinak dna hinggap di tangannya membuat laki-laki itu tersenyum senang sambil mengusapnya. Padahal di dunia nyata yang ia usap adalah rambut Neta yang berada tepat di atas buah dadanya yang sintal.


"Kamu mimpi apa sampai usap-usap gini?" tanya Neta pelan dan hal itu membuat Kei perlahan membuka matanya.


"Oh? Kamu sudha bangun?" tanya Kei yang terlihat bingung. Ia langsung mengamati ke sekitar.

__ADS_1


"Belum." Neta menjawabnya dengan malas.


"Ya udahlah, dari tadi terus lihat kamu senyum-senyum sambil usap dada aku. Enggak di alam nyata enggak di mimpi sama aja mesumnya," cibir Neta.


"Mesum sama istri sendiri, apa salahnya?" sahut Kei yang malah mengulangi usapan di buah dada tersebut.


Selesai mandi, pagi ini Kei ingin mengajakk Neta untuk pergi jalan-jalan ke pantai. Wanita itu sudha terlihat baik-baik saja. Dia sudah bisa berjalan dengan baik dna hal itu membuat Kei senang.


"Kamu beneran udah enggak sakit lagi?" tanya Kei memastikan.


"Iya udah," jawab Neta sambil tersenyum.


mereka berdua berjalan menikmati pemandnagan pantai yang tidka begitu ramai pengunjung. Akan tetapi justru di situasi seperti itulah Neta akan dengan mudah dikenali. Beberapa dari mereka mencibir dna hal itu membuat Neta sedih.


"Lihat itu 'kan si pelakor itu. Wanita yang merebut suaminya Salma si artis itu 'kan?" ucap ibu-ibu yang merupakan penggemar Salma.


"Eh iya, itu dia. Terlihat sama ya kayak yang ada di berita itu, kelihatan tidka tahu malu. Merebut suami orang dna berani jalan-jalan, cih! Aku ras adari neneknya yang terdahulu bakat itu diturunkan," cetusnya yang dnegan sengaja mengeraskan suara supaya Neta mendengarnya.


"Kurang ajar! Akan aku beri mereka pelajaran, mau aku tuntut mereka," ketus Kei yang begitu berapi-api dan siap meledak kapan saja.


Neta dengan cepat mencekal pergelangan tangan suaminya. "Jangan, jangan membuat opini mereka itu menjadi kenyataan. redam amarahmu, memang aku yang salah. Aku yang berada di antara kalian."


"Sayang, kamu dengar itu bukan? Predikat pelakor itu akan selalu melekat untukku," ucap Neta dengan sendu.


Kei lalu menutup telinga sang istri. Ia lalu memeluknya dan mencium kening Neta dengan penuh kasih. Tidak sedikit dari para pengunjung yang mengabadikan momen itu dan membagikannya di sosial media.

__ADS_1


"Tutup telingamu, cukup dengarkan deburan ombak dan nyanyian alam yang merdu. Jangan dengarkan mereka yang tidak tahu bagaimana kisah kita sebenarnya. Ini pernikahan kita dan aku imamnya. Aku yang akan terus mendampingimu sampai ke batas finish. Jangan menyerah di tengah jalan karena aku tidka suka kekalahan. Berjuang bersamaku bersama anak-anak kita dna cucu-cucu kita nantinya," kata Kei yang berusaha membuat Neta tenang.


"Kata-katamu terlalu manis Kei. Hingga, pahitnya kebencian mereka tidak lagi aku rasakan. Aku percaya, entah mengapa aku percaya dengan semua ucapanmu lagi,"  batin Neta dalam diamnya.


__ADS_2