
"Jadi nenek sudah mengetahui semuanya termasuk tentang pernikahanku dan juga Neta?" Kei bertanya kepada nenek Fuji yang masih duduk di sampingnya saat ini.
"Iya aku sudah mengetahui semuanya dan kamu tenang saja untuk urusan Salma aku Yang Akan mengurusnya juga. Kemarin aku menghubungimu untuk memberitahukan sesuatu yang begitu mengejutkan. Kelakuan buruk istri pertamamu itu kembali lagi," kata nenek Fuji yang mulai membuka suara tentang kejahatan yang telah Salma lakukan terhadap Dara dan Reza.
Kei yang mendengarkan nenek Fuji berbicara tentang keadaan Reza pun mulai tertarik. Sebab dia sama sekali belum mengetahui tentang berita itu. Villa di mana tempat Kei tinggal lumayan jauh dari pusat kota.
Itulah yang menjadi sebab kenapa dia tidak mengetahui tentang kabar berita tersebut. Juga tentang menghilangnya Salma dan beberapa orang yang ia sewa pun sampai saat ini Kei belum mengetahui perkembangannya. Apalagi setelah kejadian pemukulan itu key sudah tidak ingat lagi Kei mana arah dan perginya mereka.
"Apa memangnya yang sudah Salma lakukan terhadap Reza dan Dara Nek?"
Nenek Fuji menghela nafasnya. Seolah dia tengah mempersiapkan susunan kalimat yang mudah untuk dimengerti cucunya itu. Di sisi lain dia juga tidak ingin menambahkan sesuatu ataupun mendramatisirnya.
"Jadi istrimu itu dia ...."
Nenek Fuji menceritakan semuanya secara rinci. Bagaimana tingkah dan pola Salma terhadap Reza dan Dara. Jika dilihat dari penampilannya tidak akan mungkin Salma melakukan hal itu tetapi kenyataannya dia memang berjiwa bengis.
"Apa kamu ingin melihat keadaan Neta?" tanya Nenek Fuji setelah dia mengamati ekspresi wajah Kei.
"Iya Nek, aku sudah merindukannya. Bagaimana keadaannya saat ini, apa dia sudah sadarkan diri?" tanya Kei.
"Nenek pindahkan saja kamu nanti ke kelas dua ya, satu ruangan dengannya. Dokter masih mengupayakan yang terbaik. Kamu berdoa saja, pengacara kita Dekta tengah mengurus tentang perceraianmu dan Salma. Apa kamu sudah merelakannya?"
"Merelakan apa Nek?" tanya Kei yang seolah mengira kalau neneknya tidak tahu tentang dia yang menantang Salma untuk bercerai.
__ADS_1
"Perceraian, kamu harus memilih salah satu diantara mereka Kei. Tidak bisa kamu berada diantaranya sedangkan kamu tahu kalau Salma itu sangat jahat dan kejam," ujar nenek Fuji.
"Neta, aku memilih Neta Nek," jawab Kei dengan yakin. Manik matanya menatap langit-langit.
Mendengar jawaban dari cucunya nenek puji pun segera menghubungi pengacara keluarga mereka untuk mengurus langkah selanjutnya. Salma tidak akan dibiarkan begitu saja. Dia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan.
Masa observasi untuk Neta akhirnya selesai. Dia memang kehilangan janin yang dikandungnya akan tetapi ada kabar baik lainnya yaitu rahimnya masih bisa dipertahankan. Neta pun mulai membuka mata dan kembali sadar.
Berjajar dua brangkar di dalam satu ruangan. Di ruang rawat tersebut Neta dan Kei ditempatkan bersampingan. Kei memegangi tangan istrinya.
"Kamu udah bangun Ta? Aku senang kamu udah sadar," tanya Kei dengan pelan.
Neta menoleh dan tersenyum dengan wajah pucatnya. "Iya, aku juga senang kamu tidak apa-apa."
"Anak kita?" gumam Neta pelan dengan suaranya yang tercekat. Dia menangis tanpa suara.
Perlahan Neta mengusap perutnya. Dia merasa kehilangan meskipun belum lama janin itu bersemayam di dalam rahimnya, akan tetapi tetap saja dia sudah amat sangat menyayanginya. Ia teringat dengan masa di mana Kei mulai mengatakan banyak impiannya tentang anak mereka nantinya.
"Aku keguguran? Dia sudah tidak ada? Bisa kamu tunjukan di mana makamnya? Apa kamu sudah mengurusnya dengan layak?" tanya Neta dengan air matanya yang jatuh berderai.
Kesedihan itu menyergapnya. Membawanya terjatuh ke dalam Palung duka. Neta kehilangan sosok tersayang dalam hidupnya.
"Aku belum sempat mengurusnya sementara ini aku masih menitipkannya kepada dokter masih berada di rumah sakit ini. Nanti setelah kita pulang baru kita akan mengurusnya bersama-sama ya?" kata Kei yang berusaha bersikap tenang di hadapan istrinya meskipun saat ini hatinya pun tengah hancur.
__ADS_1
Neta mengangguk perlahan dengan air matanya yang terus saja jatuh berlinangan. Sepasang suami istri itu menangis bersama tangan Kei yang masih tertancap infus pun bergerak perlahan mengusap air matanya. Kei begitu menyayangi Neta setelah kejadian ini rasa sayangnya pun bertambah berkali-kali lipat.
Neta jauh berbeda dengan Salma. Itulah penilaian yang Kei punya saat ini. Bila saja hal ini menimpa Salma sudah pasti sumpah serapah dan kata-kata kasar yang akan keluar dari bibirnya.
"Sebelumnya aku sudah pernah bilang kepadamu, aku tidak siap dilabrak oleh istri orang dan sekarang kamu melihatnya sendiri bagaimana semua ini terjadi. Aku tidak menyalahkanmu atas semua yang sudah terjadi tapi tidak bisa kah kamu memikirkan apa yang pernah aku ucapkan?" todong Neta dengan suaranya yang bergetar.
Kei hanya mengangguk mengiyakan. "Iya, maafkan aku Sayang. Aku terlalu ceroboh dan meremehkan Salma. Mulai saat ini aku akan lebih ketat menjagamu. Jangan pernah pergi dariku."
Neta tidak menjawabnya, dia hanya mengedipkan satu matanya dengan air matanya yang menetes. Hatinya terlalu hancur saat ini. Dia tidak bisa banyak bicara, hanya bisa menangis dan terus menangis untuk meluapkan segala rasa kehilangannya.
"Dia bahkan sama sekali tidak membentak atau mencaciku, padahal kesalahanku sudah sefatal ini. Andai saja aku bisa melindunginya," pikir Kei.
****
"Dara, apa lu bisa bantu gue?" tanya Reza dengan keadaannya yang masih lemah. Ia masih berbaring di atas ranjang.
"Apa? Lu mau gue bantu apa?" tanya Dara.
"Lu bisa keluar sebentar, gue mau pipis," ucap Reza dengan perasaan malunya.
Dara seketika tertawa terbahak-bahak, dia langsung berjalan meninggalkan ruang rawat Reza. Dara tidak habis pikir ternyata Reza masih malu. Padahal kemarin malam saat evakuasi saja secara tidak sengaja Dara melihat milik Reza.
Membayangkan hal itu saja sudah membuat Dara terkikik geli. Dia tertawa kecil dengan bahunya yang bergerak turun naik. Dara malah kembali membayangkan apa yang dilihatnya kemarin.
__ADS_1
"Eh, stop Dara. Ngapain malah jadi terbayang-bayang sih gue?" batinnya keheranan.