Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
65. Menjadi Dekat Karena Luka


__ADS_3

"Akh!" keluh Kenny dengan memegangi tangannya yang sudah bersimbah darah.


Kala itu, hujan begitu deras. Angin masih berhembus begitu kencangnya. Terdengar pula gemuruh disertai dengan getaran yang terasa begitu dahsyat.


Longsor terjadi tepat di samping bangunan villa. Kei segera berlari dan menarik Neta, yang ada di dalam pikirannya hanyalah ingin menyelamatkan istrinya. Dia membiarkan Kenny yang kesusahan bahkan untuk sekedar berjalan. Kaki Kenny terkena pecahan kaca.


"Auh!" keluh Kenny lagi yang terlihat kesusahan berjalan.


Ketika semua orang berlari meninggalkan, Neta terus saja menatap melihat betapa Kenny masih ingin berjuang untuk hidup. Bahkan tadi dia sudah menjadi tameng untuknya. Lalu sekarang dia membiarkan sosok penolong itu terluka? Tidak, Neta bukan orang yang jahat seperti itu.


"Ken!" pekik Neta seraya berlari setelah berhasil melepaskan cengkraman tangan suaminya.


Suasana begitu kacau. Kei berteriak menyeru memanggil nama Neta yang menghilang setelah ia masuk ke dalam rumah dan sebuah pohon besar ambruk menimpa rumah itu. Kei seperti orang gila, tidak lama dari itu listrik pun padam lantaran banyak juga tiang listrik yang ambruk dan membuat kabel terputus.


"Sayang ...!" jerit Kei dengan lantangnya menyeru nama satu orang yang ia cintai.


Di dalam villa keadaan tidak lebih baik. Neta berhasil meraih Kenny dan membawanya bersembunyi di dalam lemari kayu. Iya, itu merupakan salah satu cara terbaik untuk menghindari reruntuhan atap dan pepohonan.


Gelap dan hitam pekat, Neta dan Kenny bersembunyi menyelamatkan diri di dalam lemari kayu yang memiliki ruang lumayan besar meski mereka harus menekuk kaki. Lemari itu adalah salah satu benda antik koleksi nenek Fuji. Lemari yang dibuat pada tahun 80-an dengan ketebalan dan kualitas kayu yang luar biasa pada jamannya. Lemari itu menunjukkan betapa gagahnya dia di saat atap bagian dapur villa tersebut roboh, lemari itu sama sekali tidak menunjukkan suatu kerusakan yang berarti.


"Ken, kamu okay?" tanya Neta meski tanpa melihat bagaimana keadaan adik iparnya.


"I'm good," jawab Kenny. "Tapi tangan dan kakiku tertancap kaca. Aku takut, darahku banyak sekali. Aku lemas Kak Ta."


Neta menjadi panik saat Kenny mengatakan tentang kondisinya yang lemas. Itu bisa jadi merupakan suatu tanda kehabisan darah dalam tubuh. Perlahan Neta meraba kening Kenny yang juga terasa dingin.


"Coba genggam tanganku ini, genggam jariku, akan ketahuan seberapa sisa tenagamu. genggam sekuat mungkin dengan tanganmu yang tidak terluka," perintah Neta.


Posisi mereka saat ini adalah saling bersebelahan seperti orang yang tidur bersama hanya saja dengan kaki yang tertekuk karena keterbatasan ruang. Neta bahkan tidak bisa membuka lemari lantaran tertimpa oleh pohon tumbang. Ia hanya terus memikirkan keadaan Kenny yang tadi menolongnya dan sekarang waktunya untuk membalas budi.

__ADS_1


Kenny menurut dan menggenggam tangan Neta dengan begitu kuat. Dalam ruangan nan sempit itu, Kenny bisa merasakan hangat suasana di mana Neta begitu perhatian dan mencemaskannya. Ia sempat bersyukur, dalam beberapa jam, Neta akan ada untuknya dengan segudang perhatiannya.


"Oh kamu cukup kuat dan masih bisa bertahan. Sebentar ya, kamu tahan dulu," kata Neta.


"Telapak tanganku sakit sekali, aku akan mencabut pecahan kacanya," ujar Kenny yang seketika dihentikan oleh Neta.


"Tidak! jangan sekarang, biarkan saja dulu . Tidak ada kain yang bisa digunakan untuk menyumbat lukamu kalau kamu mencabutnya darahmu akan semakin mengucur. Tahan dulu ya, itu kaca bukan besi berkarat. setidaknya akan lebih aman."


"Tapi ini sakit Ta," keluh Kenny.


"Sabar ya, sabar. Aku akan cari kain," sergah Neta.


Crush! Darah kembali mengucur karena Kenny yang lebih memilih untuk mencabutnya dari pada menahan rasa sakitnya. Neta seketika merasakan basah di pahanya. Ia langsung menoleh meskipun tidak bisa melihat.


"Ken, kamu mencabutnya? Kenapa kamu itu bandel sekali?" omel Neta dalam kesempatan itu dan Kenny tersenyum tanpa terlihat.


"Lepaskan bajumu sekarang," pinta Neta setengah memaksa.


"Apa? Kamu Mita aku lepas baju? Mesum sekali otakmu, suamimu bilang kamu setia. Kenapa sekarang ingin melakukannya denganku?" cetus Kenny asal bicara.


Neta yang merasa gemas langsung menjitak kepala adik iparnya itu. "Heh! Otakmu itu yang kotor! Aku minta kamu lepas baju untuk mengikat pergelangan tanganku supaya kamu tidak kehabisan darah. Bukan untuk melakukan hal itu! Dasar otak kotor!"


"Lucunya, akhirnya aku dengar juga kamu ngomel-ngomel. Menggemaskan sekali," sahut Kenny dengan cengengesan.


"Astaga ... dalam keadaan seperti ini masih bisa tertawa kamu." Neta terus mengomel sembari melepaskan baju Kenny.


Setelah baju itu terlepas, masih ada masalah lagi. Neta harus membagi dua baju itu. Luka Kenny ada dua dan membutuhkan dua penanganan juga.


Neta mencoba untuk menyobek baju Kenny dengan menariknya paksa. Baju itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan koyak. Bahkan berganti tekstur pun tidak.

__ADS_1


"Engh ...!" Neta menarik baju sekuat tenaga.


Dugh! Pegangan tangan Neta terlepas dari baju itu dan tidak sengaja mengenai rahang Kenny.


"Aduh!" seru Kenny mengaduh kesakitan. "Bukan bajunya yang robek, tapi bibirku."


"Maaf, apa sakit?" tanya Neta sembari mengusap rahang Kenny dalam kegelapan. Sedangkan yang diusap tengah tersenyum senang dalam kesakitan.


"Ya sakit!" dengus Kenny kesal.


"Oh aku punya ide. Kamu gigit saja bajumu ya, suapaya bisa sedikit robek. nanti aku yang tarik. Tanganmu terus saja mengalirkan darah Ken. Aku takut kamu tidak tertolong."


"Hei! Kamu pikir gigiku gunting hah? Dan apa tadi tidak tertolong? Kamu menyumpahiku supaya cepat mati? Aku masih perjaka Ta!" balas Kenny dengan ke-absurdannya.


Tidak ada pilihan lain, Neta pada akhirnya hanya membalut luka di tangan Kenny dan mengabaikan luka di kakinya asalkan pecahan kaca itu masih tertancap di sana maka semua aman. Ia menekan luka itu sampai Kenny meringis kesakitan. Kenny merasakan lukanya berdenyut lantaran Neta mengikatnya kuat.


"Ta, kuat sekali kamu mengikat lukaku. Bisa-bisa aku diamputasi karena tanganku tidak teraliri darah. Kamu mengikatnya seperti mengikat kerbau." Kenny berkomentar.


"Sudahlah diam, yang terpenting kamu bisa bertahan."


"Dia sayang banget sama aku. Perhatian banget. Caranya mengurusku unik, marah-marah tapi peduli. Aku suka, ada tantangannya," batin Kenny tersenyum senang.


...----------------...


"Sial! Bagaimana ini? Istriku ada di dalam!" ujar Kei dengan begitu paniknya.


"Iya Bapak kami tahu. Tapi hujan juga belum reda, pohon itu terlalu besar untuk bisa kita singkirkan!" kata Reza setengah berteriak lantaran suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh hujan.


"Iya Pak, kita butuh bantuan orang lain setidaknya setelah hujan reda. Tapi ...." Dara menghentikan ucapannya saat menyoroti jalanan yang tertutup tanah longsoran. Mereka terisolir.

__ADS_1


__ADS_2