Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
75. Sikap Anehnya


__ADS_3

"Kesal sekali rasanya harus seperti ini. Apa-apa tidak boleh," gerutu Neta di dalam kamar mandi.


Saat dia berada di dalam kamar mandi, terdengar suara pintu kamar terbuka. Samar-samar, dia juga mendengar suara bariton yang begitu familiar di telinganya. Bukannya langsung menyahut,dia justru membiarkan suara itu memudar dengan sendirinya.


Rasa jengkel itu masih begitu kental menguasainya. Neta tidak mau diperlakukan dengan spesial, sedangkan suaminya yang begitu mengharapkan seorang anak, begitu mengistimewakan momen bahagia ini. Kei begitu ingin mempunyai banyak anak.


"Sayang, apa kamu ada di dalam?" tanya Kei sambil mengetuk pintu kamar perlahan.


"Aku di luar!" ketus Neta menjawabnya.


Tentu jawaban Neta itu membuat Kei mengulum senyumnya. Bisa-bisanya menjawab seperti itu, padahal dia ada di dalam kamar mandi. Kei hanya tertawa kecil lalu meninggalkan tempat tersebut.


"Dia kenapa seperti itu, aneh sekali. Apa dia ngambek gara-gara bakso seperti apa yang dilaporkan oleh suster Nana?" pikir Kei.


Kei lalu turun dan langsung menemui chef di rumah besar. Nenek Fuji yang masih melakukan relaksasi dengan duduk di kursi roda itu terheran saat melihat cucu satu-satunya tengah berbicara serius dengan chef. Mereka seperti sedang membicarakan tentang proyek penting.


"Ada apa Kei, kenapa sepertinya pembicaraan kalian tadi sangat penting?" Nenek Fuji bertanya. Ia menyudahi sesi relaksasi demi bisa bertanya kepada cucunya itu. Rasa penasaran menuntun wanita tua itu untuk mendekat.


"Neta mau makan bakso pinggir jalan Nek, aku larang. Dia sedang hamil, aku tidak mau dia memasukkan sembarang makanan ke dalam mulutnya. Aku takut itu akan berpengaruh terhadap anak kita nantinya. Makanan yang baik juga akan menunjang tumbuh kembang yang baik juga," jawab Kei dengan menjabarkan tentang asupan makanan yang baik.


"Iya, kamu benar. Tapi ibu hamil itu aneh. Mereka mau makan apa yang mereka mau itu terkadang bukan karena rasanya saja. Tapi karena siapa yang memasak, lokasinya di mana. Suasananya seperti apa, hal-hal yang begitu juga bisa membuat mereka menginginkannya."


"Really?" Kei tercengang.

__ADS_1


Hal seperti ini merupakan suatu pengetahuan baru bagi Kei. Pengetahuan yang tidak Dokter bagikan di meja konsultasi. Kei sampai tidak habis pikir mengapa keinginan ibu hamil itu sangat nyeleneh.


"Iya, terus saja larang dia melakukan atau memakan makanan yang dia inginkan. Pasti nanti dia akan membencimu sampai anakmu lahir," kata nenek Fuji yang menakut-nakuti cucunya.


"Ah, tidak mungkin hanya karena makanan dia akan sampai membenci suaminya. Itu sangat berlebihan sekali. Lagian aku kan melarangnya itu karena makanannya yang tidak terjamin kebersihannya. Bukan karena aku pelit atau apa," ucap Kei yang membela dirinya.


"Tidak percaya dengan omongan nenek? Ya sudah, praktekkan saja langsung." Nenek Fuji berbicara dengan gaya acuhnya dan kembali melakukan meditasi.


"Sshh ... apa iya akan sampai seperti itu?" desisnya seraya berlalu kembali memasuki kamar.


Kei merasa sedikit was-was setelah mendengarkan apa yang neneknya katakan. Ia memilih untuk kembali masuk ke dalam kamar dan langsung memeriksa keadaan. Dia tidak mau bila sampai apa yang neneknya katakan tadi benar-benar terjadi.


Benar saja, ketika dia masuk ke dalam kamar Neta yang semula menghadap ke arahnya dengan berbaring di tempat tidur tiba-tiba saja langsung memalingkan wajahnya. Ia berganti memunggungi suaminya dan menyibukkan diri dengan ponselnya. Terlihat sekali bila dia sedang tidak ingin melihat wajah suaminya saat ini.


"Sayang, apa kamu masih mau makan bakso si mamang tadi?" tanya Kei dengan maksud supaya istrinya tidak bersikap demikian.


"Enggak usah! Aku udah enggak pengen lagi! Cuman mau makan bakso semangkuk saja dibuat ribet. Perhitungan sekali sama istri. Udahlah, enggak usah urusin lagi aku mau makan apa. Aku juga enggak akan makan apa-apa di luar," kata Neta dengan perasaan dongkolnya.


Ini memang hanya soal makanan. Namun akan lain cerita bila yang berada di posisi ini adalah seorang ibu hamil yang tingkat kesesitifannya meningkat tajam. Hal sepele pun bisa menjadi sangat besar.


"Sayang, bukan begitu. Aku melarangmu itu karena aku tidak mau kamu dan anak kita ini memakan sesuatu yang tidak sehat. Tadi katanya kamu mengerti," papar Kei dengan berusaha untuk mendekat dan mengusapnya dengan lembut di bagian kepala.


Namun Neta langsung menepis tangan Kei dengan kasarnya. Samar-samar terdengar suara Isak tangisan diiringi dengan kedua bahu yang bergerak turun naik. Neta menangis hanya karena bakso satu mangkok.

__ADS_1


Jika dilihat sekilas ini akan nampak keterlaluan. Suaminya mempunyai uang yang begitu banyak, akan tetapi istrinya hanya untuk sekedar makan bakso satu mangkok saja menjadi masalah. Tapi Kei bukanlah sosok lelaki yang mudah mengendurkan prinsipnya, jika dia berpikir itu untuk kebaikan maka dia akan bertahan dengan pendiriannya. Seperti halnya saat dulu dia berpikiran bahwa mempertahankan rumah tangga adalah hal terbaik, maka dia akan terus mempertahankannya meski Salma kerap melakukan mengabaikannya.


"Sayang, kamu nangis? Hei jangan menangis, ini cuman soal bakso," kata Kei sembari duduk di tepi ranjang dan memeluk Neta.


Akan tetapi, Neta menolaknya dan menggelinding ke sisi kasur satunya. "Jangan sentuh aku! Soal bakso satu mangkok saja kamu perhitungan begini. Apa lagi soal yang lainnya. Sudahlah, aku mau sendiri!"


"Sayang ...." Kei berusaha untuk bisa menyentuh istrinya. Akan tetapi Neta langsung mengacungkan jarinya lalu mengerjakan ke kanan dan kiri. Itu tanda larangan.


"Stop! Udah. Jangan deket-deket sama aku. Aku mau sendirian," ujar Neta dengan berlinang air mata.


Melihat istrinya menangis Kei menjadi kebingungan. Benar apa yang neneknya katakan. Dalam situasi ini Kei tidak menyerah. Dia menerjang larangan Neta dan langsung memeluk lalu mengunci tubuh sang istri. Meskipun wanita hamil itu mencoba untuk memberontak, namun dia sama sekali tidak berhasil.


"Jangan marah seperti ini ya? Aku melakukan itu, melarangmu makan itu karena sayang sama kamu," ucap Kei dengan lembutnya.


Neta hanya terisak dalam pelukannya. Wanita itu terus menangis sedih karena pengaruh hormonal saat hamil. Iya, memang hal seperti ini kerap terjadi kepada ibu hamil.


"Itu dibawah aku sudah suruh chef membuatkan bakso khusus buatmu dari daging Wagyu. Mau ya?" tawar Kei.


"Aku udah enggak mau makan bakso sampai lahiran!" tukas Neta dengan matanya yang basah dan berair menatap netra sang suami.


Glek. Kei menelan ludahnya perlahan. Sorot mata Neta seolah membuat tubuhnya beku seketika.


"Kamu, makan saja sendiri!" Usir Neta sembari mendorong tubuh sang suami ketika kedua rengkuhan Kei mengendur.

__ADS_1


"Astaga ... Dia jadi aneh begini kalau sedang marah. Wah benar kata nenek. Ini mungkin soal rasa dan tempatnya, bukan soal makanannya. Wah, aku harus memikirkan cara supaya dia tidak marah."


__ADS_2