
“Kenapa mukanya seperti itu?” tanya Kei kepada Neta yang duduk di sampingnya.
Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil yang melaju menuju butik. Hanya saja, mobil yang mereka tumpangi terasa sangat penuh dengan keberadaan sopir, Joko. Asisten pribadi, Lusi duduk di samping sopir dan Suster Nana yang duduk barisan bangku paling belakang sudah dengan box istimewanya.
“Kamu tidak senang diperhatikan suami?” cetus Kei yang terus mendesak Neta supaya berkata jujur.
“Mas, aku ini sudah besar dan aku ini sehat-sehat saja. Kenapa sih harus diperkerjakan 3 asisten segala? Yang lebih parahnya kenapa aku harus membawa semua makanan dari rumah Sayang?” tanya Aneta penuh dengan penekanan di
kata SAYANG.
Kei mengusap lembut rambut istrinya. Terlihat sekali bila dia ini begitu mencintai istrinya. Hal itu membuat dua asisten yang ada di sana merasa iri akan sikap manis majikan laki-laki terhadap majikan perempuan.
“Dengarkan aku Sayangku, mengapa harus bawa makanan dari rumah itu karena aku tidak mau kamu dan calon bayi kita memakan sesuatu yang tidak tahu bersih atau tidaknya, sehat atau tidaknya. Kalau membawa dari rumah
kan jelas, kalau ada apa-apa aku tinggal memarahi semua asistenmu ini,” kata Kei yang membuat suster Nana dan asisten Lusi menelan ludahnya perlahan sebab
kata-kata itu terdengar mengerikan.
“Ih ngeri kali loh Bapak ini. Sayang banget memang sama istri. Tapi kata-katanya itu seperti ancaman bagi kami. Ah, aku harus ekstra hati-hati dalam menjaga makanan Ibu,” pikir suster Nana.
“Sayang, aku tidak terbiasa.” Aneta menyatakan alasannya. Dia merasa risih dengan ketiga orang asing ini.
“Harus terbiasa, oke? Harus terbiasa. Mereka semua ini sudah kuseleksi dengan bakat khusus,” ucap Kei yang kembali sibuk dengan ponselnya.
“Apa itu?” tanya Aneta yang merasa penasaran.
“Kami ini harus pandai bela diri Ibu,” ucap Lusi memaparkan.
“Ah, begitu ya?” gumam Aneta. “Kenapa juga harus yang pintar bela diri?”
Kei terlihat fokus bekerja, padahal dia bisa mendengar apa yang istrinya katakan dengan sangat jelas. “Karena kamu tidak bisa bela diri. Aku tidak mau kalau ada hal buruk dan kalian semua hanya bisa menjerit saja. Setidaknya harus ada yang bisa meninju dan menendang.”
Aneta hanya bisa menghela napasnya. Dia tidak tahu bila sang suami ternyata mempunyai mode posesif tingkat kabupaten begini. Dulu, saat menikah dengan Salma, istrinya itu selalu menolak untuk mempunyai anak dan selalu mengabaikannya. Inilah sekarang efeknya ketika dia mendapatkan istri yang perhatian, dia akan lebih memperhatikan pasangannya.
Aneta terdiam mengamati sang suami yang sedang mengobrol dengan
__ADS_1
seseorang melalui sambungan teleponnya. Di saat sedang serius, Kei terlihat sangat tampan di mata Aneta, entah mengapa tapi dalam sisi seperti ini seakan aura Kei memancar dan menyilaukan mata. Dalam hati, berkali-kali Aneta memuji. Ia bahkan tersenyum saat mengamati wajah suaminya.
Di saat dia sedang mengamati, Aneta melihat sebuah benang yang menempel di rambut suaminya. Kei menoleh menatapnya dan Aneta mendekatkan
wajahnya. Sontak saja Kei memajukan bibirnya lantaran mengira snag istri hendak menciumnya.
“Ada benang,” ucap Aneta setelah berhasil mengambil benang dan menunjukannya kepada Kei.
“Benang?” Kei mengerutkan keningnya. Dia tidak terima setelah salah tanggap begitu sedangkan di bangku belakang suster Nana yang tidak sengaja melihat adegan tadi sedang berusaha keras untuk menahan tawa.
“Aku kira mau cium,” bisik Kei dengan mendekatkan wajahnya kepada wajah sang istri.
Blush!
Pipi Aneta memerah seketika. Ia merasa malu dan berdebar saat ini meski hanya dengan sepenggal kata-kata saja. Padahal, adegan seperti ini sudah sangat sering Kei lakukan, Kei selalu senang menggoda dengan tiba-tiba berbisik atau tiba-tiba memeluk.
“Si-siapa yang mau cium? Tadi ada benang Sayang jadi ak ….”
Belum selesai Aneta menjawabnya, Kei sudah melakukan sesuatu yang tidak terduga. Dia mencuri ciuman tepat di bibir dan hal itu sontak saja membuat suster Nana nyaris memekik terkejut. Suster Nana menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Sayang, malu aku ….” Aneta mendesis dengan menutup wajahnya dan hal itu terlihat sangat lucu di mata Kei.
“Kamu kalau malu begitu jadi semakin menggemaskan. Aku jadi ingin ….” Belum selesai Kei berbicara, Aneta sudah mencubit perut suaminya.
“Diam, iya aku tahu. Diam saja Sayang, jangan buat aku semakin malu.” Aneta berbisik.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mobil sampai ke butik dan Aneta turun pun sang suami yang membukakan pintu bahkan memapahnya seolah Aneta adalah benda yang paling berharga di dunia ini. Sesuatu yang harus dan wajib hukumnya untuk di ratukan. Kei begitu menyayangi dan menghormati wanitanya ini.
“Selamat datang baginda ratu!” sambut karyawan di butik dan membuat beberapa pelanggan menoleh melihatnya.
“Apa-apaan kalian ini? Biasa saja manggilnya,” tepis Aneta dengan pipinya yang merona.
Kei memberikan sorot mata tajamnya dan beberapa kali berkedip. Dia sedang memberikan kode kepada para karyawan untuk tidak memberitahu sesuatu kepada istrinya. Namun semua itu sia-sia jika Dara sudah membuka mulutnya.
“Bapak yang suruh Bu, kalau tidak kami akan dipotong gaji katanya,” celetuk Dara dan mendapatkan sikutan dari Reza, pacarnya.
__ADS_1
“Apasih?” desis Dara hendak protes.
“Iya Sayang, kamu bilang begitu?” tanya Aneta dengan menilik tajam suaminya.
“Em, em ….” Kei celingukan mencari alasan. “Ya aku melakukan itu untuk menyenangkan hati istri. Katanya kalau hati ibu hamil senang maka akan memberikan dampak positif pada janin yang dikandung. Aku hanya mengikuti saran dokter saja Sayang.”
“Iyalah, makasih ya. Udah perhatian banget sama aku, dan calon anak kita,” ucap Aneta seketika.
Dulu, saat bersama Salma, Kei tidak pernah mendapatkan ucapan seperti itu. Salma selalu minta dimengerti, namun tidak mau mengerti apa keinginan suaminya. Dia terlalu terobsesi terhadap harta saja.
“Sudah, aku pamit dulu ya,” pamit Kei sembari mencium kening Aneta di hadapan banyak orang.
“Joko, ayo ikut aku. Antar aku dulu nanti kamu balik lagi ke sini,” titah Kei dengan melenggang pergi dan sekejap mata dia menjadi sosok pria idaman di mata para wanita yang ada di sana.
Hanya dalam hitungan detik, beberapa unggahan di laman sosial media tentang sikap manis Kei ini sampai di mata mantan mertuanya dengan caption, LELAKI IDAMAN SEPANJANG MASA. Sontak saja hal itu membuat ayah dan ibu Salma geram. Dulu saat bersama anaknya, tidak pernah ada keromantisan seperti itu bila tidak di hari spesial.
“Berbakat sekali mantan mantumu itu kalau di suruh pamer kemesraan. Dulu saat bersama Salma, dia tidak pernah seperti itu,” cibirnya tanpa mengoreksi siapa yang salah dalam hubungan yang gagal itu.
----**----
“Sudah, sudah periksanya?” tanya Aneta kepada suster Nana yang sedang memeriksa kesegaran buah yang ada di piringnya.
“Sudah,” jawab suster Nana.
“Hemh, aku iri sama kalian yang bisa makan bakso. Aku tidak boleh ….” Rengek Aneta sembari meletakan kepalanya di atas meja.
“Ibu, bakso itu tidak sehat. Saya sudah hubungi bapak, katanya boleh tapi harus di rumah dan dibuat sama chef, pakai daging sapi murni. Daging sapi murni,” ulang suster Nana pada kata daging sapi murni yang membuat Aneta semakin iri.
“Ah! Rasanya pasti beda sama bakso jualan mamang itu. Menyebalkan!” keluh Aneta sambil mengaduk-aduk salad buahnya dan sup ayam kampung yang ada di mangkuknya.
“Hehehehe, enaknya ini bakso ….” Goda Dara, Reza dan Wilda secara bersamaan. Mereka menghirup wangi kaldu kuah bakso dan memamerkannya kepada Aneta.
“Awas! Kalian.” Aneta membuang muka dan mulai melahap salad buahnya.
“Habiskan, kata bapak habiskan. Kalau tidak mau menghabiskan, nanti kena hukum di jam 9 malam katanya,” cetus suster Nana.
__ADS_1
“Cie, hukuman jam 9 malam. Syahdu bet!” ledek Dara sambil tertawa cekikan.