Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
23. Kemarahan yang tidak Terkendali


__ADS_3

Menetes darah dari hidung mancung seorang laki-laki yang hanya berdiri tegap dan menerima amukan wanitanya. Kei sudah benar-benar lelah menghadapi Salma. Dia bahkan sudah tidak dihargai lagi keberadaan dan perannya di dalam rumah tangga itu.


Pelipis Kei mengeluarkan darah. Salma melemparkan sebuah pigura kecil yang berisi foto pernikahan mereka berdua di saat ulang tahunnya kemarin. Salma mengamuk setelah bertanya kepada Satpam baru yang bekerja di sana.


Tanpa adanya koordinasi yang baik, Satpam baru itu tidak tahu harus mengatakan apa bila Nyonya besar bertanya tentang Tuan besar. Satpam itu hanya mengatakan bahwa dari dua hari lalu dia masuk kerja dia belum berjumpa dengan si Tuan besar. Sontak saja hal itu memicu amarah Salma.


"Apa kamu pergi ke rumah pelac*r? kemana kamu tiga hari ini Kei?" bentak Salma berapi-api, matanya memerah dengan pipinya yang basah.


"Di depan matanya, aku ini sama sekali tidak berarti. Aku bukan apa-apa baginya," batin Kei yang merasa sama sekali tidak di hargai oleh istrinya sendiri.


"Sedangkan Neta, dalam kemarahannya dia masih sangat bisa mengontrol emosi. Bila seperti ini terus, apa aku sanggup bertahan? Walaupun aku ada harta, tapi aku tidak ada harga diri di matanya," pikir Kei dalam diamnya.


"Ngomong apapun yang kamu mau Salma, terserah kamu mau bilang apa. Aku tidak peduli lagi. 4 tahun kita bersama dan selalu saja seperti ini," kata Kei yang pada akhirnya membuka suara.


Salma tertegun mendengar suaminya bicara. Biasanya Kei akan melakukan perlawanan. Kei akan menjabarkan banyak alasan, akan tetapi kali ini, Kei hanya diam dan terlihat begitu jengah dengan sikapnya.


Kei hanya mengusap pelan darah yang menetes dari pelipisnya. Dia terlihat biasa saja seperti sama sekali tidak terluka. Ia mengambil tisu lalu menyeka luka di pelipisnya.


"Ada apa ini? Kenapa dia sangat berbeda ? Biasanya dia akan menyerangku balik dengan kata-katanya. Atau ... dia akan berusaha untuk menangkanku." Salma hanya bisa membatin tingkah suaminya.

__ADS_1


"Ini hari terakhir kamu bisa memukuliku seperti ini. Lakukan sepuasmu, aku tidak akan melawan. Nikmati saja setiap hantaman itu," ucap Kei tanpa ekspresi sama sekali di wajahnya dan entah mengapa gayanya yang seperti itulah yang membuat Salma takut.


"Kei, aku minta maaf Sayang. Aku minta maaf ya, aku tidak sengaja. Sumpah aku tidak sengaja," kata Salma dengan ekspresi wajahnya yang seketika berubah.


Di saat marah, Salma tadi begitu menyala-nyala. Akan tetapi sekarang ini, dia meredup. Api kemarahan itu padam dengan sendirinya.


"Sudah terlalu sering aku memaafkan semua tindakanmu yang seperti ini Salma. Aku ini juga manusia, aku juga butuh diperhatikan. Bukan hanya selalu aku yang memperhatikan!" ketus Kei berbicara dengan nada datar dan dingin.


Salma seketika mendekat dan berusaha untuk menyentuh Kei. Akan tetapi Kei yang terlanjur sakit hati pun menepisnya. Dia mundur beberapa langkah dan menatap sinis Salma.


"Aku marah seperti ini karena aku perhatian denganmu." Salma berdalih.


"Cih!" Kei berdecih. "Kamu pikir aku ini anak kecil yang akan menelan semuanya bulat-bulat? iya!" bentaknya.


"Keluar sekarang dari ruanganku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan pernikahan kita!" teriak Kei dengan suaranya yang menggema memenuhi ruangan itu.


"Kei, kamu mengusirku? Kamu tidak berpikir ulang untuk ini? Jika kita bercerai, maka perusahaan ini setengahnya adalah milikku! Apa kamu lupa di saat dulu kamu hampir bangkrut? Aku membeli separuh saham di perusahaan ini dan di atas perjanjian pranikah, kamu setuju kalau sampai kita bercerai maka semua yang aku tanamkan bisa kucabut sewaktu-waktu?"


Salma berbicara dengan penuh penekanan. Dia sangat emosional ketika mengulang lagi apa yang pernah mereka sepakati di dalam perjanjian pranikah. Memang dia akan mendapatkan kembali sahamnya, namun ia akan kehilangan lelaki yang selama ini selalu bersabar di sampingnya.

__ADS_1


Kei selama ini terlihat baik-baik saja. Dia bisa tersenyum meski hatinya remuk dengan kerasnya sikap sang istri yang selalu mau menang sendiri. Salma terlalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Hingga, dia tumbuh di dalam arogansi.


"Ambil, ambil saja. Aku juga akan pergi untuk meninggalkan semua ini. aku sudah tidak peduli lagi. Sekarang keluar," pintanya tanpa suara yang tinggi.


Salma diam tidak bergeming dan hal itu yang membuat Kei merasa semakin kesal. Menatap Salma sama saja seperti dengan melihat ulasan sebelum masuk neraka. Sama sekali tidak ada hawa dingin seperti saat dia bersama Neta.


"Kei," lirih Salma memanggilnya dengan tatapan nanar.


"Keluar," pelan Kei memerintahkan.


"Kei," rengek Salma dengan tatapan mengiba.


"Keluar!" bentak Kei pada akhirnya.


Salma meninggalkan ruangan kerja Kei. Dia menyimpan banyak tanda tanya mengenai berubahnya sikap Kei ini. Kei yang dia kenal adalah Kei yang selalu mengalah dengannya.


****


"Kenapa aku harus percaya denganmu. Siapa kamu?" tanya Neta pada Jono yang datang di apartemennya.

__ADS_1


"Aku adalah orang suruhan Pak Kei Bu," jawab Jono.


"Enggak, aku enggak bisa percaya begitu saja. Ada apa ini, kenapa tiba-tiba kamu datang ke sini?" tanya Neta di tengah kebingungan.


__ADS_2