Ternyata Aku Pelakornya

Ternyata Aku Pelakornya
58. Keni yang Mulai Tertarik


__ADS_3

Sepasang suami istri tengah menikmati satu pemandangan kecil di depan matanya. Di taman yang luas dan asri mereka memanjakan mata dengan melihat beberapa anak kecil bermain dengan riang. Terlihat sederhana memang namun itu merupakan suatu impian yang besar bagi keduanya.


Neta duduk terdiam sambil tersenyum satu tangannya bergerak mengusap perutnya yang rata sedangkan matanya menatap penuh damba. Tatapan yang bersanding sejajar dengan senyuman yang seolah tengah mengatakan bahwa dia begitu menginginkannya. Tatapan mata yang seolah bercerita aku juga ingin mempunyai anak seperti mereka.


Sedangkan di sampingnya duduk seorang laki-laki yang mengerti betapa perasaan itu tengah melukai hati istrinya. Perasaan di mana dia ingin memiliki namun kenyataan sepertinya belum berpihak kepada keduanya. Pasalnya mereka berdua masih berada di tengah-tengah keraguan antara bisa atau tidak mempunyai keturunan.


"Kamu kenapa wajahmu murung seperti itu?" tanya Keiji sembari mengusap surai hitam sang istri.


Sambil tersenyum penuh arti dan tatapan nanar yang susah untuk dijelaskan Neta pun menjawabnya. "Apa aku terlihat murung? Padahal aku sudah mencoba untuk tertawa."


Entah kebetulan atau apa bersamaan dengan saat itu datanglah sebuah bola yang menggelinding ke arah mereka. Bola kecil berwarna biru itu tidak lama disusul oleh pemiliknya. Sosok anak kecil laki-laki dengan kaki pendeknya berlari sambil tertawa menyusul bola tersebut.


"Bola! Bola!" ucap anak kecil laki-laki itu dengan raut wajahnya yang riang dia menunjuk-nunjuk bola yang saat ini tengah Neta pegang.


"Wah apa ini punyamu Sayang?" tanya Nita dengan perasaannya yang begitu senang sosok kecil itu tak ubahnya seperti malaikat yang tengah menyapanya.


Atmosfer di sekitar tempat itu seketika berubah menjadi hangat dan terasa begitu menyenangkan kala wajah Neta yang berbinar menghiasinya. Kei yang melihat itu pun ikut tersenyum dalam diamnya dia hanya mengamati interaksi antar keduanya. Dalam angannya dia membayangkan jika suatu saat nanti akan ada kebahagiaan seperti itu yang menghampirinya.

__ADS_1


"Bola! Bola!" Jawab anak kecil laki-laki itu dengan berjingkrak-jingkrak dan menunjuk polanya.


"Iya, ini Tante berikan. Kamu hati-hati bermainnya ya tampan. Di mana orang tuamu?" tanya Neta sembari mengamati ke sekitar anak kecil itu yang terlihat sendirian tanpa orang dewasa yang menyusulnya.


"Berikan saja bolanya Ta, biarkan dia kembali kepada orang tuanya," ucap Kei memberikan nasehatnya.


"Iya aku mau kembalikan bolanya sayang tapi di mana orang tuanya, bagaimana kalau orang tuanya saat ini sedang mencari anak kecil ini? Maksudku mungkin anak kecil ini sedang tersesat karena terlalu asik memainkan bolanya," kata Neta yang sedang berusaha menjelaskan maksud dari perbuatannya tersebut.


Tidak berselang lama dari itu muncullah seorang wanita yang terlihat panik dan mencari keberadaan anaknya. Wanita itu lalu mendekat dan segera menggendong bocah kecil laki-laki itu dengan raut wajah cemas. Dia terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan anak kecil tersebut.


"Apa ini anakmu?" tanya Neta yang sebenarnya hanya berniat untuk memastikan bahwa itu benar-benar orang tua dari bocah kecil tersebut.


"Aku mencarinya dari tadi ternyata dia ada di sini. Oh iya kalau aku tidak salah mengenali kalian adalah pasangan yang tenar beberapa bulan lalu karena kasus perselingkuhan bukan?" tanya wanita tersebut dengan rasa penasarannya.


Kei, yang mendengarkan pertanyaan dari wanita itu seketika menggenggam tangan Neta dan menariknya pergi. Dia tidak ingin ada perbincangan yang terlalu panjang menyinggung tentang kejadian buruk itu. Iya tidak ingin Meta kembali tenggelam dalam kesedihan akan predikat negatif yang melekat kepadanya meski tanpa ia inginkan.


"Ayo sebaiknya kita pergi saja dari sini," ajak Kei dengan menarik pergelangan tangan Neta dan dia melangkah dengan kaki jenjangnya.

__ADS_1


Raut wajahneta terlihat datar dan biasa saja saat suaminya itu seolah sedang memberikan perlindungan terhadapnya. Dia hanya terus mengikuti ke mana suaminya itu membawanya pergi. Sama sekali tidak ada pemberontakan ataupun perlawanan.


Hingga keduanya masuk ke dalam mobil dan duduk tanpa saling bicara satu sama lain. Agaknya pertanyaan dari wanita yang baru saja mereka jumpai di taman itu telah berhasil membuat luka di hati Neta kembali menganga. Bagaimana tidak pertanyaan darinya itu seolah tengah menunjukkan mau bagaimanapun baiknya Neta di hadapan orang lain dia tetaplah perebut suami orang.


"Hemh ... Aku kira mereka semua sudah mulai melupakan cerita lama itu. Tapi ternyata belum, mereka masih mengingatnya. Harusnya aku sadar siapa yang sekarang menjadi suamiku ini. Bukan hanya orang kecil yang tidak memiliki jabatan yang mudah terlupakan. Harusnya aku sadar jika suamiku ini adalah orang yang besar dan terpandang dan bagaimana mereka bisa lupa dengan mudahnya?"


Neta hanya mengumam namun apa yang ia katakan itu terdengar begitu jelas di telinga suaminya. Kai menoleh, ia menatapnya dengan begitu tak ada seolah beribu sesal telah menghujamnya. Tidak ingin terjebak di dalam konflik gay lebih memilih diam dan mengabaikan kejadian tersebut.


"Sudah jangan diingat lagi ini merupakan suatu teguran bagi kita supaya kita tidak terlalu cepat keluar dari tempat persembunyian. Kita hanya harus bersembunyi sedikit lebih lama. Jangan berpikiran untuk memintaku menceraikanmu hanya karena hal seperti ini. Mereka mempunyai mulut dan pemikiran sendiri dan kita tidak mungkin menghentikannya walaupun fakta yang terjadi tidaklah seperti itu. Aku harap kamu bisa mengerti dan berjuang bersamaku," kata Kei tanpa menatap wajah istrinya dia terus mengemudi melajukan mobil membelah jalanan kota.


"Iya aku rasa kamu benar aku hanya harus berpura-pura tuli dan buta lebih lama lagi," sambung Neta terhadap pernyataan suaminya dan seolah dia tengah setuju dan baik-baik saja.


----***----


Tidak bisa ditampik begitu saja bahwa pada kenyataannya pertemuannya tadi dengan wanita asing itu menyisakan luka. Hingga pada malam hari saat key sedang bekerja Nita memilih pergi keluar dan lagi-lagi dia duduk di dekat makam anaknya. Tangannya bergerak mengusap tanah yang mulai ditumbuhi rerumputan hijau itu.


"Nak, sekarang ibu mengerti kenapa Tuhan memanggilmu. Tuhan tidak ingin kamu merasakan sakit seperti apa yang ibu rasakan ini. Penilaian mereka terhadap ibu sama sekali tidak berubah. Tuhan mengambilmu lebih dulu karena dia menyayangimu dia tidak ingin kamu ikut merasakan penilaian buruk dari orang lain yang begitu menyakitkan," kata Neta dengan begitu pelan.

__ADS_1


Namun seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya dengan postur tegak dan kedua tangan tersimpan ke dalam saku celana masih bisa mendengarkan perkataan Neta dengan begitu jelasnya. Iya, laki-laki itu adalah Kenichi. Entah atas dasar apa dia berdiri di sana dan menyimak setiap kata yang Neta tuturkan.


"Kenapa aku merasa tertarik dengan pernyataan sedihnya ini?" pikir Kenichi.


__ADS_2