
"Sayang, udah 3 hari kamu ngambek. Masih aja dilanjutkan?" tanya Kei sembari memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
"Siapa yang ngambek? Biasa aja," jawab Neta tapi dengan bibirnya yang manyun 5 centimeter.
"Nah itu, itu bibirnya aja masih monyong seperti itu. Sudah 3 malam ini kamu taruh bantal sebagai pembatas. Benar-benar udah enggak mau aku kelonin? Padahal aku udah olah raga keras loh, biar lenganku ini kuat jadi bantalan," ujar Kei dengan menggerakkan lengannya seperti binaragawan.
Neta melirik sekilas lalu kembali membuang muka.
"Enggak lucu!" ketusnya.
"Siapa yang melucu? aku serius loh. pengennya sih lengan sudah kekar biar bisa dipakai bantalan sama istri. Tapi istriku sepertinya tidak berminat. Kalau untuk perempuan lain ...."
"Kalau untuk perempuan lain, silahkan. Silahkan, aku kapan pernah melarang kamu Mas? Tidak pernah sama sekali. Kamu mau balikan sama Kak Salma juga terserah. Aku bukan perempuan yang mengatakan, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku ini terbiasa susah dan sendiri. Apa yang aku takutkan?"
Mendengar apa yang Neta katakan membuat Kei berpikir. Dia mengingat tentang awal mula pertemuan mereka, pernikahan mereka dan semuanya. Iya, Neta bukanlah sosok wanita yang mudah bergantung kepada laki-laki dia adalah sosok tangguh dan kuat menjalani ujian hidup seorang diri. Hanya hinaan menjadi pelakor yang membuatnya lemah sampai menangis tersedu.
"Maaf Sayang, bukan seperti itu. Aku hanya bercanda tadi. Kamu masih marah?" Kei bertanya kali ini ia berdiri dan menghampiri Neta yang masih terduduk hanya dengan menyantap sepotong roti.
"Aku itu kemarin cuman pengen makan bakso mamang itu karena ingin mengingat masa-masa perjuanganku membuat butik, mengingat bagaimana aku berhemat dan berusaha untuk membahagiakan ibuku. Bukan soal makanannya saja Mas. Kalau soal makanannya saja, aku tidak perlu sampai semarah ini," ucap Neta dengan menitikkan air matanya.
"Jangan menangis, sekarang juga kita berangkat. Kita cari makan di sana ya. Kamu mau bakso kan?" ajak Kei sekaligus membujuk sang istri supaya tidak marah lagi.
"Aku udah tidak ingin lagi Mas, mual rasanya," jawab Neta pelan.
"Pak, beberapa hari ini napsu makan ibu menurun. Dia hanya bisa makan roti. Untuk sayuran apa lagi kuah sup yang berbau bawang, dia akan langsung mual dan muntah. Ini saja ibu sedang menahan rasa mual itu hanya untuk menemani Bapak makan," kata suster Nana yang sedari tadi berdiri di samping Neta.
"Sus, kan aku udah bilang jangan kasih tahu Bapak. Kenapa sih harus kasih tahu segala?" tegur Neta dengan raut tidak suka.
"Maaf, tapi tidak baik menyembunyikannya. Ini Bapak harus tahu supaya Ibu tidak harus menemani Bapak saat makan sedangkan ibu saja tersiksa saat mencium baunya." ujar suster Nana yang tidak mau Neta terus saja menahan mual selama menemani snag suami makan.
"Ya sudah, kamu kembali ke kamar saja kalau memang merasa mual. Maaf ya, aku tidak tahu," kata Ke-i dengan mengusap lembut pucuk kepala Neta.
__ADS_1
"Dia menahan mual sampai tidak mau bilang kepadaku. Aku sangat merasa bersalah karena melarangnya makan bakso kemarin. Tahu begitu aku biarkan sja dia memakan itu." pikir Kei.
...----------------...
Sementara itu di lain tempat, dua wanita tengah kabur. Mereka berlari sebisanya setelah memberikan obat pencahar kepada dua pengawal di gubuk kecil. Bibik Risma dan ibu Rahayu, keduanya lari dan menembus kebun singkong hanya untuk bisa membebaskan diri dari penjagaan ketat dua penjaga.
"Kita bisa lari, maka jangan harap kamu bisa tersenyum bahagia setelah ini Neta. Suamimu itu sangat kejam terhadap kami. Kami tidak akan tinggal diam," gumam bibik Risma pelan tanpa terdengar oleh kakaknya yang berjalan jauh di depannya.
"Aku akan menemui anak itu dan aku akan memarahinya. Beraninya dia berlaku seperti ini terhadap ibu kandungnya. Apa dia tidak bisa bersyukur, setidaknya karena aku dia bisa mendapatkan suami yang kaya raya seperti Kei!" tukas ibu Rahayu yang terus saja berjalan membelah semak-semak rerumputan.
"Iya Kak, memang harus diberi pelajaran anakmu itu. Dia sudah seperti kacang yang lupa dengan kulitnya. Apa dia tidak bisa mengingat berkat siapa dia bertemu dengan suaminya yang kaya itu? Semua itu berkat kamu Kak," kata Bibik Risma yang sengaja membumbui perseteruan antara ibu dan anak itu.
"Kamu masih ingat alamatnya?" tanya ibu Rahayu kepada adiknya.
"Tidak, sebaiknya kita kembali ke rumah dulu baru mencarinya. setidaknya masih ada sedikit uang kita di sana."
"Berjalan kaki? Mau sampai kapan? Kita sekarang saja tidak tahu ada di pulau mana. Bahasa di sini sangat asing dan aku hampir tidak mengerti. Apa kamu mengerti bahasa penduduk lokal?" tanya ibu Rahayu.
"Sama saja denganmu. Aku pun tidak mengerti bahasa mereka." Bibik Risma mengakui ketidak tahuannya.
...****************...
Siang hari yang terik, di saat semua karyawan, sopir, dan juga Suster tengah makan siang, Neta memilih untuk menyendiri. Ibu mudabyang tengah hamil itu menyendiri di teras belakang butik yang mempunyai kursi panjang. Berbekal sebuah bantal dia menikmati es krim sambil berbaring sendirian di sana.
Kei yang baru saja datang dari kantor, yang sengaja menyempatkan waktu untuk makan bersama sang istri pun mencari keberadaan wanita pujaan hatinya.
"Di mana ibu?" tanya Kei kepada para karyawan yang ada.
"Ada di belakang, tadi tiduran. Dia mulai merasa pusing dan lemas Pak. Tapi masih ngambek dan tidak mau saya bilang ke Bapak. Jadi nanti pura-pura tidak tahu ya," ujar Suster Nana.
"Oke," jawab Kei mengiyakan.
__ADS_1
Perlahan-lahan Kei berjalan dan tanpa suara, dia langsung hinggap menempel seperti kupu-kupu di atas tubuh sang istri. Dia menjaga jarak aman dengan tidak menindih perut sang istri. Neta terkejut namun kemudian dia kembali acuh.
"Oh, ayahmu. Aku pikir orang gila," ketusnya yang melirik sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Sayang, udah dong. Ampun, aku enggak akan larang kamu makan makanan kesukaan kamu lagi. Boleh deh kamu makan bakso mamang itu. Mau sampai kapan kamu diem sama aku begini?"
Neta menutup hidungnya. "Kamu makan apa tadi? Mulutmu bau bawang! Awas, jangan dekat-dekat. Aku mual."
"Sayang, ayolah jangan begini. Aku tersiksa tahu tidak?"
"Kenapa tersiksa? Aku tidak melakukan apa-apa sama kamu," kata Neta dengan santainya dia bahkan tidak memperhatikan ekspresi wajah sang suami yang memelas.
"Lihat aku, lihat aku, hei!" rengek Kei semakin menjadi.
"Malas, memangnya kamu sudah operasi wajah sampai aku harus lihat? Sama seperti kemarin kan?" kata Neta dengan acuhnya.
"Sayang ...! Tolonglah udah jangan seperti ini terus, aku bisa gila ...!" pinta Kei dengan membenamkan wajahnya di dada sang istri.
"Dih! Enggak malu merengek seperti itu? Mana Bapak Kei yang gagah dan berwibawa?" sindir Neta tanpa canggung.
"Iya, aku tahu sekarang kenapa kamu begitu terpukul saat mereka mengataimu sebagai pelakor. Kamu itu tidak berbakat untuk menggoda. Aku saja sebagai suamimu sampai memohon seperti ini supaya kamu goda. Kenapa kamu tidak seperti pelakor yang suka menggoda?" omel Kei.
"Oh, jadi kamu mau aku ini kegatelan begitu? Maaf Bapak Keiji, aku ini bukan lon the!" tegas Neta berbicara.
"Iya tapi setidaknya godalah aku! Goda aku! Aku mau digoda!" pekik Kei yang suaranya terdengar sampai ke dalam.
Di dalam butik.
"Bwahahahaha! Denger itu, maksa banget Bapak minta digoda sama istrinya. Mbak Neta di lawan, dia kalau sama laki-laki kan kayak anti gitu. Enggak mudah termakan rayuan buaya dia." Wilda mulai bergunjing.
"Bapak enggak tahu aja, langganan kita yang bule itu suka lirik-lirik Mbak Neta. Cuman mbak Neta acuh sih," kata Rara.
__ADS_1
"Kalau dia tahu, aku yakin banget akan ada reog di butik ini meriah ... sekali," ujar Reza.
"Apa iya?" tanya Lusi dan Nana bersamaan.